Shinjuku: Kota dengan Pintu yang Tampak Tertutup, dan Cara Membukanya Satu per Satu
Shinjuku
Oleh Kei · Lahir dan besar di JepangKisah di Balik Shinjuku
Hampir semua tempat terkenal di Shinjuku, sekilas, terlihat seperti tidak terbuka untukmu.
Semuanya dimulai dari stasiun. Menurut Guinness World Records, Stasiun Shinjuku adalah stasiun kereta tersibuk di dunia, dengan rata-rata 2.704.703 orang per hari pada 2022. Lima perusahaan kereta berbagi stasiun ini, sehingga susunan peronnya sangat rumit dan sulit dihafal. Stasiun tersibuk kedua di dunia, Gare du Nord di Paris, melayani sekitar 600.000 orang. Jadi, yang pertama kali dilihat pengunjung di Shinjuku adalah deretan pintu keluar, papan petunjuk, dan arus orang yang tak putus, ditambah suara kecil di kepala yang berkata: pasti nanti salah jalan.
Begitu malam tiba, pintu-pintu seperti itu malah terasa makin banyak. Kabukicho, kawasan hiburan yang dipenuhi papan neon di kiri-kanan jalan, bisa terlihat agak menyeramkan bagi orang yang datang dari negara yang lebih tenang. Omoide Yokocho adalah gang yang begitu sempit sampai dua orang nyaris tak bisa berpapasan, penuh asap dan punggung orang-orang yang tak kamu kenal. Lalu di Golden Gai, tempat ratusan bar seukuran lemari pakaian berimpitan, kamu berdiri di depan pintu geser yang tak memperlihatkan isi di baliknya, tanpa tahu apakah orang di dalam mau menerimamu.
Padahal, tak satu pun pintu itu setertutup kelihatannya. Di stasiun, cukup berhenti mencoba membaca seluruh peta dan ikuti satu papan petunjuk ke pintu keluar yang kamu tuju, maka kamu akan keluar dengan mudah. Kabukicho sendiri digambarkan oleh Organisasi Pariwisata Nasional Jepang sebagai "kawasan pusat kota yang paling padat, paling bermandikan neon, ramai namun aman di Asia." Dan bar sekecil lemari itu biasanya akan menggeser pintunya dan menyediakan satu kursi lagi, asalkan kamu sedikit berani untuk mencoba.
Yang membuat Shinjuku istimewa adalah begitu banyak hal yang berdekatan dalam jarak jalan kaki yang pendek. Beberapa menit dari stasiun yang padat itu ada bekas taman kekaisaran yang nyaris sunyi sepenuhnya; gedung pemerintahan yang mempersilakanmu menikmati pemandangan terbaiknya tanpa bayar; kerumunan terpadat di dunia yang bergerak hampir tanpa suara; dan sebuah gang tempat orang yang baru kamu temui menuangkan minuman untukmu dengan tangannya sendiri. Sunyi dan riuh, megah dan mungil, ruang publik dan ruang pribadi: semuanya ada di Shinjuku, berdampingan seolah itu hal biasa.
Menjelang akhir malam, mungkin kamu akan sadar bahwa pemandangan gratis dari ketinggian 202 meter dan minuman yang dituangkan orang asing untukmu di bar seluas sepuluh meter persegi ternyata sama-sama bentuk sambutan: dari luar terlihat tertutup, padahal sebenarnya terbuka.
Yang Akan Kamu Temui di Sana
Langkah 1: Observatorium Gratis di Gedung Pemerintahan

Sebelum turun menikmati malam, naiklah dulu ke tempat tinggi supaya kamu bisa melihat seluruh kota dan tahu arah.
Beberapa menit berjalan ke barat dari stasiun, berdirilah menara kembar Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo, pusat pemerintahan Tokyo. Di dekat puncak salah satu menaranya, di lantai 45 pada ketinggian 202 meter, ada dua observatorium, dan satu hal yang perlu kamu tahu sebelum antre adalah masuknya gratis. Tidak perlu tiket, tidak perlu memesan jam. Kamu naik lift khusus dari lantai satu, lalu seluruh kota yang bermandikan cahaya langsung terbentang di depan mata. Saat langit cerah di sore hari, kamu bisa melihat Tokyo Skytree di seberang sungai, bentangan gelap Teluk Tokyo, dan kadang siluet Gunung Fuji yang rendah di garis cakrawala.
Berdiri di dekat kaca saat senja, kamu bisa melihat rute malammu dari atas: petak gelap yang tenang di selatan adalah tamannya; hamparan lampu di bawah adalah stasiun yang baru kamu tinggalkan; dan cahaya padat yang tak pernah diam di timur adalah tujuanmu berikutnya. Gedung yang dibangun untuk mengurus pemerintahan kota membuka jendela dengan pemandangan terbaiknya bagi siapa saja yang datang, tanpa biaya dan setinggi ini: jarang ada kota yang menyambut orang asing semurah hati itu. Ingat perasaan ini, karena malam nanti kamu akan menemukannya lagi dalam ukuran yang jauh lebih kecil, di sebuah ruangan yang luasnya kira-kira sama dengan lift ini.
Langkah 2: Asap Bakaran dan Duduk Berdempetan

Turunlah lagi, berjalan ke arah stasiun, dan tepat di samping rel di sisi barat kamu akan menemukan celah sempit di antara dua gedung yang mudah sekali terlewat. Cari papan hijau yang lampunya redup, lampion merah, dan asap yang mengepul. Inilah Omoide Yokocho, yang namanya berarti "gang kenangan".
Gang ini sangat sempit. Kantor pariwisata Tokyo menyebutnya "nyaris tak muat untuk dua orang berjalan berdampingan." Di sepanjang gang berderet kedai yakitori (sate ayam bakar ala Jepang) yang mungil, disajikan bersama bir, dan tiap kedai hanya punya lima atau enam kursi di depan konter. Gang ini muncul sekitar tahun 1946 di atas puing-puing di sekitar pintu keluar barat, ketika kota masih porak-poranda setelah perang dan sebuah pasar kaki lima terbuka berdiri di sini. Sejak itu gang ini tetap sempit, rendah, berasap, dan digantungi lampion seperti dulu.
Di sini kamu tak perlu reservasi. Cukup menunduk melewati tirai pendek di depan kedai, cari bangku yang kosong, lalu pesan apa yang sedang dimakan orang di sebelahmu. Sikutmu akan bersentuhan dengan orang yang duduk di sebelah, dan terus terang saja, jaketmu akan bau asap saat pulang. Justru kedekatan seperti inilah daya tarik tempat ini, dan orang-orang sudah duduk berdempetan seperti ini di sini selama sekitar tujuh puluh lima tahun. Sebagian besar kedai hanya menerima uang tunai, jadi bawa sedikit yen dan semuanya akan lancar.
Langkah 3: Kawasan Neon yang Tampak Menyeramkan

Sekarang lewati bagian bawah rel ke sisi timur, lalu masuklah ke kawasan yang terang benderang.
Menurut Kepolisian Metropolitan Tokyo sendiri, Kabukicho adalah "salah satu distrik hiburan terbesar di Jepang": izakaya, karaoke, bioskop, dan hotel berjejal di beberapa blok yang ramai sepanjang malam. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang menyebut Shinjuku "kota yang tak pernah tidur", lalu menambahkan sambil bercanda, "tepatnya, kota ini cuma tepar beberapa jam menjelang siang." Cari jalan besar dan toko Don Quijote raksasa yang menjadi penanda jalan utama, lalu tengadahlah; kamu mungkin melihat kepala Godzilla yang menganga seolah meraung di atas atap. Ini salah satu ikon terbaru Kabukicho, dipasang di atas gedung bioskop sekaligus hotel. Di dekatnya berdiri Tokyu Kabukicho Tower, gedung tinggi yang dibuka pada April 2023, sehingga gemerlap kawasan ini kini menjulang sampai ke langit.
Tempat ini bisa terlihat seperti tempat yang harus diwaspadai. Tapi justru orang-orang yang bertugas menjaga keamanan kawasan ini mengatakan bahwa risikonya sebagian besar hanya soal uang di dompetmu, bukan keselamatanmu. Berjalan di jalan-jalan utama yang terang, makan di tempat yang memajang harga, memotret neon: semuanya hal biasa dan aman dilakukan. Satu aturan yang mencegah hampir semua masalah adalah yang disampaikan dengan jelas oleh kepolisian Tokyo: sebagian calo di jalanan "mungkin membawamu ke tempat-tempat yang menguras uangmu", jadi meskipun mereka mendekatimu, jangan ikuti mereka. Badan pariwisata Jepang mengatakan hal yang sama dengan lebih singkat: "Abaikan para calo." Bar yang baik tidak perlu menarik tamu dari trotoar. Pilih sendiri tempatnya, yang harganya bisa kamu baca sebelum duduk, dan malammu akan tetap menyenangkan. (Kalau kamu ingin gambaran lebih luas tentang mengapa Jepang terasa begitu aman, ratusan penduduk menceritakannya dengan kata-kata mereka sendiri.)
Langkah 4: Pintu yang Tampak Tertutup

Di tepi timur Kabukicho, neon tiba-tiba lenyap dan berganti dengan gang-gang yang jauh lebih tua dan jauh lebih kecil. Enam gang sempit dipadati sekitar 280 bar, masing-masing hanya satu ruangan, dan banyak yang hanya muat lima atau enam orang. Inilah Golden Gai.
Golden Gai bermula pada 1947, di masa sulit pascaperang yang sama dengan gang di samping rel tadi, dan masih mempertahankan suasana awal 1950-an sementara kota di sekitarnya dibangun ulang menjadi gedung-gedung tinggi. Setiap bar punya ciri khasnya sendiri: bar untuk pencinta film, bar punk, bar yang dindingnya dari lantai sampai langit-langit penuh dengan barang kegemaran pemiliknya. Di balik sebagian besar pintu ada pemilik bar yang biasa dipanggil "master" atau "mama", yang mengurus tempatnya seorang diri seperti ruang tamu pribadi, hanya saja tamunya membayar.
Dan inilah pintu yang tampak tertutup itu. Biasanya kamu tak bisa melihat ke dalam; sebagian pintu memasang tanda kecil bertuliskan "kaiinsei", artinya "khusus anggota", dan peringatan di internet membuat seluruh jalan ini terdengar seperti ujian. Kenyataannya, rasa gugup di depan pintu itu bukan hanya dirasakan orang asing. Orang Jepang yang bercerita tentang Golden Gai pun mengatakan hal yang sama: lebih dari empat dari sepuluh orang mengaku mereka juga perlu mengumpulkan keberanian sebelum membuka pintunya. Biaya duduk kecil yang sering mengejutkan orang itu bukan tipuan; itu sewa ruangan seluas sepuluh meter persegi, harga untuk menjadi tamu selama satu malam. Soal bahasa pun jauh lebih mudah daripada yang kamu khawatirkan. Siapa saja yang disambut, apa arti biaya itu, dan mengapa para pemilik bar mengatakan wisatawan asing menyelamatkan jalan ini: semuanya diceritakan dengan terbuka dan menenangkan dalam artikel yang menghimpun suara 183 orang Jepang.
Untuk malam ini, caranya sederhana. Cari pintu yang terbuka, yang memasang tanda "English OK", atau yang memajang harga. Masuklah sendiri, berdua, atau bertiga, karena ruangannya terlalu kecil untuk rombongan. Tak perlu khawatir kalau kamu tidak bisa berbahasa Jepang; senyuman dan ucapan "kanpai" (bersulang) jauh lebih membantu daripada bahasa yang fasih. Jangan memotret bagian dalam bar tanpa izin: di ruangan sekecil dan seakrab ini, itulah etika yang paling penting. Setelah itu, geser pintunya dan biarkan pemilik bar yang mengatur suasana. Kamu tak perlu berwawasan luas atau terlihat keren untuk disambut. Cukup berani membuka pintu, dan bersikap ramah setelah masuk.
Langkah 5: Pulang dengan Jalur Yamanote

Larut malam, kamu kembali ke stasiun. Stasiun dengan peron rumit yang kamu takuti di awal malam tadi, sekarang hanyalah tempat naik kereta jalur lingkar untuk pulang dengan santai.
Sambil menunggu kereta di peron, mungkin kamu tiba-tiba sadar apa yang sebenarnya kamu alami malam ini. Kamu melewati stasiun tersibuk di dunia tanpa kesulitan. Kamu naik ke puncak gedung pemerintahan tanpa membayar apa pun dan bisa melihat seluruh kota. Kamu menunduk masuk ke gang berasap yang usianya lebih tua daripada kakek-nenekmu, lalu ke ruangan seukuran lemari tempat, hanya dengan membayar satu kursi, seseorang yang tadinya asing jadi tahu namamu. Pemandangan gratis dari ketinggian 202 meter dan minuman yang dituangkan langsung di ruangan sepuluh meter persegi, sambutan di ruang publik dan di ruang pribadi, ternyata berasal dari kebaikan yang sama, hanya wujudnya yang berbeda.
Shinjuku adalah kota dengan pintu-pintu yang tampak tertutup. Rahasianya cuma satu: coba saja buka.
Terima kasih sudah menjelajahi Shinjuku malam ini bersama kami.
Yang Perlu Diketahui
Cara ke sana dan mencari pintu keluar. Stasiun Shinjuku dilayani lima perusahaan kereta: JR East, kereta bawah tanah Tokyo Metro dan Toei, serta jalur Odakyu dan Keio. Itulah salah satu alasan stasiun ini menjadi yang tersibuk di dunia, dan mengapa stasiun ini terkenal dengan pintu keluar yang begitu banyak sampai warga Tokyo pun sesekali salah keluar. Trik sederhana warga setempat: jangan berpatokan pada arah mata angin, tapi pada nama pintu keluar atau tempat tujuanmu, dan ikuti papan petunjuk itu saja; saat meninggalkan peron, keluarlah ke arah yang sama dengan saat kamu masuk. Pembagian kasar untuk malam ini: sisi barat ada observatorium gedung pemerintahan dan Omoide Yokocho; sisi timur ada Kabukicho dan Golden Gai; sisi selatan ada taman Shinjuku Gyoen dan terminal bus Busta Shinjuku. Untuk kereta, kartu IC, dan cara bepergian secara umum, lihat berkeliling di Jepang.
Observatorium Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo. Dua observatorium berada di lantai 45 pada ketinggian 202 meter, bisa dicapai dengan lift khusus dari lantai 1 Gedung Utama No. 1, dan masuknya gratis. Jam buka umumnya 9:30–22:00 (masuk terakhir 21:30). Observatorium Utara tutup pada Senin ke-2 dan ke-4 setiap bulan, dan observatorium Selatan pada Selasa ke-1 dan ke-3 (observatorium Selatan juga biasanya buka lebih singkat), ditambah sesekali hari pemeriksaan; saat cuaca buruk, observatorium juga bisa tutup mendadak. Terakhir diverifikasi: 2026-06. Sebelum berangkat, cek jam buka terbaru, status observatorium (@tocho_tenbou), dan jadwal tutup di situs resmi.
Shinjuku Gyoen (ketenangan siang hari di samping keramaian). Beberapa menit dari sisi selatan stasiun terbentang salah satu taman besar Tokyo: 58,3 hektare yang terdiri atas taman bergaya Prancis, taman lanskap, dan taman tradisional Jepang, dengan sekitar 900 pohon sakura. Awalnya ini adalah tanah yang diberikan kepada keluarga Naitō, keluarga penguasa feodal, pada 1591, lalu dijadikan taman kekaisaran yang selesai pada 1906, dan dibuka untuk umum pada 1949. Tiket masuk ¥500 untuk dewasa, ¥250 untuk lansia (65+) dan pelajar, serta gratis untuk anak usia 15 tahun ke bawah. Jam tutup berubah sesuai musim: sekitar 16:30 di musim dingin, 18:00 di musim semi dan akhir musim panas, serta 19:00 di puncak musim panas, dengan masuk terakhir 30 menit sebelumnya. Taman tutup setiap Senin dan selama libur Tahun Baru, tetapi buka setiap hari selama musim sakura dan musim krisan. Ada satu aturan yang sering mengejutkan orang, jadi rencanakan dari awal: minuman beralkohol tidak boleh dibawa masuk. Datanglah ke taman ini untuk bersantai sebelum menikmati malam, bukan untuk minum. Terakhir diverifikasi: 2026-06. Pastikan jam buka musiman dan harga tiket di situs resmi.
Kabukicho dengan tenang. Kawasan ini ramai dan, menurut badan pariwisata resmi Jepang, "ramai namun aman." Nikmati jalan-jalan utama yang terang, landmark-nya, restoran yang memajang harga, dan gemerlap neon. Nasihat dari kepolisian Tokyo cuma satu, dan memang hanya itu yang kamu perlukan: jangan ikuti orang yang mendekatimu di jalan sambil menawarkan minuman murah atau "bar bagus"; pilih sendiri tempatnya, yang harganya bisa kamu baca di depan pintu.
Golden Gai. Bar-bar mungil, kebanyakan hanya muat lima atau enam orang, dan banyak yang memungut biaya duduk kecil. Itu memang biaya kursi, bukan penipuan. Datanglah sendiri sampai bertiga, bawa uang tunai, cari pintu yang terbuka atau tanda "English OK" atau daftar harga yang dipajang (tanda "khusus anggota" hanya berarti kamu dipersilakan mencari bar lain, tak ada yang tersinggung), dan minta izin sebelum memotret di dalam. Seperti apa rasanya disambut di sana diceritakan lewat suara demi suara dalam artikel kami tentang sambutan di Golden Gai.
Omoide Yokocho. Dua menit berjalan kaki di sisi barat stasiun; konter yakitori yang mungil, asap, lampion merah, dan kebanyakan hanya menerima tunai, jadi bawa sedikit yen. Datanglah dalam kelompok kecil dan siaplah duduk berdempetan dengan orang di sebelahmu, maka kamu akan paling menikmatinya.
Uang tunai. Banyak bar dan kedai kecil terbaik di Shinjuku masih hanya menerima uang tunai; sebaiknya bawa sedikit untuk malam ini. Kapan kamu akan memerlukannya, baca lebih lanjut di tunai atau kartu di Jepang.
Berapa lama, dan kapan. Malam hari adalah bagian utamanya. Kalau hanya lewat sebentar, cukup sekitar satu jam; kalau mau lengkap (menonton matahari terbenam dari observatorium, makan di gang-gang, mampir ke satu atau dua bar), siapkan setengah hari yang santai sampai malam.
Siang di Tokyo, malam di Tokyo. Shinjuku adalah sisi kota yang riuh dan hangat. Untuk suasana siang yang cerah, Shibuya dan Harajuku hanya beberapa stasiun dari sini di jalur lingkar Yamanote, dan hutan yang sunyi di Meiji Jingu ada tepat di antara keduanya: cukup satu jalur lingkar untuk merasakan Tokyo yang tenang sekaligus yang riuh.
Info pariwisata resmi: GO TOKYO: Shinjuku
Jika Tak Berjalan Sesuai Rencana
Kamu benar-benar tersesat di stasiun. Awalnya semua orang juga begitu, karena ini stasiun tersibuk di dunia. Berhenti mencoba membaca seluruh peta. Pilih nama tempat tujuanmu (pintu keluar, jalur kereta, "Kabukicho", "Gyoen"), ikuti papan petunjuk itu saja, dan kalau ragu, petugas di gerbang tiket mana pun akan menunjukkan jalannya. Trik andalan warga setempat: tinggalkan peron ke arah yang sama dengan saat kamu masuk.
Ada orang di jalan yang menawarkan minuman murah atau "bar kecil yang asyik". Yang seperti ini cukup kamu lewati saja. Kepolisian Tokyo dan badan pariwisata Jepang sama-sama menyampaikannya dengan jelas: jangan ikuti calo di jalanan, karena tempat yang mereka tuju akan menagih jauh lebih mahal dari yang sepantasnya. Menolak ikut bukan berarti kamu tidak sopan; bar yang baik tidak mencari tamu di trotoar. Terus saja berjalan ke jalan-jalan utama yang terang dan pilih tempat yang harganya bisa kamu baca di depan pintu; di Kabukicho ada pos polisi yang buka 24 jam kalau kamu ingin punya titik tujuan yang pasti.
Pintu bar di Golden Gai terlihat khusus anggota dan nyalimu menciut. Kamu tidak sendirian: lebih dari empat dari sepuluh orang Jepang mengatakan mereka juga butuh keberanian untuk membuka pintu itu. Cari bar yang pintunya terbuka, yang memasang tanda "English OK" atau "pemula dipersilakan", atau yang memajang harga. Tanda "kaiinsei" atau "khusus anggota" hanya berarti bar itu tidak menerima tamu baru malam ini; pindah saja ke bar berikutnya, tidak ada yang dirugikan. Sebagian besar pemilik bar hanya berharap kamu cukup berani untuk masuk, dan bersikap ramah setelah di dalam.
Observatorium, atau salah satunya, tutup. Observatorium bisa tutup mendadak saat angin kencang atau hujan, dan observatorium Utara serta Selatan masing-masing punya hari tutup tetap setiap bulan. Kalau satu tutup, yang lain sering kali buka; cek @tocho_tenbou untuk status terbarunya. Pemandangannya gratis, jadi tak ada ruginya mencoba lagi di malam lain, atau menikmati kota dari tempat tinggi yang lain.
Shinjuku Gyoen tutup lebih awal dari perkiraanmu, atau kamu terlanjur membawa anggur. Masuk terakhir di taman ini cukup awal (30 menit sebelum jam tutup musiman), dan minuman beralkohol tidak boleh dibawa masuk. Keduanya bukan masalah kalau kamu menjadikan taman ini tempat bersantai di siang hari dan menyimpan acara minum untuk bar-bar setelah gelap. Datanglah pagi atau awal siang, lalu simpan acara bersulangnya untuk Omoide Yokocho.
Gangnya terlalu berasap atau terlalu sempit. Omoide Yokocho dan Golden Gai memang kecil sejak awal, dan tidak semua orang menyukainya di setiap malam. Coba kedai dengan konter yang sedikit lebih lega, gang yang lebih lebar, atau pindah ke restoran di jalan utama Kabukicho. Kedekatan memang daya tariknya, tapi tak ada yang mengharuskanmu langsung menyukainya pada kali pertama.
Sources:
- Guinness World Records: Busiest railway station: Shinjuku Station as the world's busiest railway station (including subways), 2,704,703 average daily passenger throughput in 2022; the Gare du Nord in Paris (~600,000/day) as the closest competitor; operators served (JR East, Keio, Odakyu, Toei Subway, Tokyo Metro)
- Tokyo Metropolitan Government: Observatories: two observatories at a viewing height of 202 meters; free admission; access by the observatory elevator from the 1st floor of Main Building No. 1; short-notice weather closures (@tocho_tenbou)
- GO TOKYO: Tokyo Metropolitan Government Building: observatories on the 45th floor at 202 m; free; general hours 9:30–22:00 (last entry 21:30); North deck closed 2nd/4th Mondays, South deck closed 1st/3rd Tuesdays; views of Tokyo Skytree, Tokyo Bay and sometimes Mt. Fuji
- 国民公園協会 (National Parks Foundation): Shinjuku Gyoen: area 58.3 hectares; three garden styles (Formal, Landscape, Japanese Traditional); seasonal hours
- 国民公園協会: Shinjuku Gyoen history: Naitō family granted the land in 1591; completed as an imperial garden in 1906 (opening attended by Emperor Meiji); opened to the public in 1949
- Ministry of the Environment: Shinjuku Gyoen admission & rules: admission ¥500 adults / ¥250 seniors (65+) and students / free for children 15 and under; seasonal closing times; closed Mondays and Dec 29–Jan 3; open daily in cherry-blossom and chrysanthemum seasons; alcohol prohibited inside
- GO TOKYO: Shinjuku Gyoen National Garden: around 900 cherry trees; an escape beside the city center
- GO TOKYO: Shinjuku Golden Gai: around 280 bars across a six-row block of alleys; each seating only five or six; formerly a postwar red-light district that retains its early-1950s atmosphere; a few minutes from the station's east exit, adjacent to Kabukicho
- 新宿ゴールデン街商店街振興組合 (Shinjuku Golden Gai Shopping District Association): origin in 1947 as a postwar black-market and red-light area; over ~70 years of history; around 280 establishments
- GO TOKYO: Omoide Yokocho: "Memory Lane"; an alley barely two people across; yakitori counters seating five or six; dimly lit green sign, smoky stalls and red lanterns; about 2 minutes from Shinjuku Station (1 Nishi-Shinjuku)
- Omoide Yokocho official: history: origin around 1946 as a postwar black-market lane by the west exit
- Tokyo Metropolitan Police: Safety tips for entertainment districts: Kabukicho as "one of the largest entertainment districts in Japan"; warning that street touts may take you to places that rip you off, and that even if they approach you, you should not follow them
- JNTO (Japan National Tourism Organization): Kabukicho: "the most densely packed, neon-burning, lively yet safe downtown area in Asia"; "Ignore the touts"; the Godzilla head; the Don Quixote store marking the main street
- JNTO: Shinjuku: "the town that doesn't sleep, more accurately, it passes out for a couple of hours late morning"; Kabukicho as the nightlife heart
- GO TOKYO: Tokyu Kabukicho Tower: opened April 14, 2023; one of the largest complexes of its kind in Japan
- GO TOKYO: Tokyo at Night: Shinjuku "stays lively all night long," from the tiny bars of Golden Gai to the venues of Kabukicho
Semua foto dari Wikimedia Commons: gerbang neon Kabukicho (gambar utama dan thumbnail), foto oleh Basile Morin, CC BY-SA 4.0; gedung-gedung tinggi Nishi-Shinjuku saat senja, foto oleh Dick Thomas Johnson, CC BY 2.0; gang Omoide Yokocho di bawah cahaya lampion, foto oleh Douglas Paul Perkins, CC BY 3.0; fasad neon di Kabukicho, foto oleh Basile Morin, CC BY-SA 4.0; sebuah gang di Golden Gai pada malam hari, foto oleh Alexkom000, CC BY 4.0; pemandangan malam Shinjuku dari observatorium Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo, foto oleh Tomi Mäkitalo, CC BY-SA 3.0.
WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.
Terima kasih. Setiap catatan dibaca langsung oleh manusia.
Suara nyata
Apakah tempat ini sepadan?
Pernah ke sini? Bagikan foto Anda.
Foto Anda bisa muncul di panduan ini — dengan nama dan tautan profil Anda.
Kirim fotoArtikel Terkait

Apakah Golden Gai di Shinjuku Ramah terhadap Orang Asing?

Izakaya Pertamamu — Panduan Ramah ke Cara Makan Favorit Jepang

Apakah Jepang Aman? — Yang Ingin Orang Jepang Sampaikan kepada Anda
Panduan lain di Kanto
Mengunjungi Akihabara, Kota Elektronik Tokyo Tempat Anda Bebas Menyukai Apa yang Anda Sukai
Apakah Akihabara layak dikunjungi? Dari 149 pendapat pelancong yang sudah dibobot, 29% tegas bilang layak, 44% bilang tergantung apakah Anda menyukai anime, game, atau elektronik, dan 69% orang Jepang menyukainya. Lengkap dengan tata letak distrik, cara ke sana, untuk siapa tempat ini cocok, dan panduan audio.
Akihabara (Electric Town)
Mengunjungi Harajuku, Tempat Kamu Bisa Memakai Apa Saja Tanpa Seorang pun Menoleh
Apakah Harajuku layak dikunjungi? Kami menghitung 99 suara pelancong: 64% bilang layak asal kamu tidak berlama-lama di keramaian Takeshita Street dan lanjut ke Cat Street dan Omotesando. Crepe, mode kawaii, cara ke sana, lengkap dengan panduan audio.
Harajuku
Meiji Jingu, Mengapa 100.000 Pohon Ditanam untuk Membuat Hutan yang Merawat Dirinya Sendiri
Apakah Meiji Jingu sepadan dikunjungi? Kami menimbang 70 suara pelancong: 75% bilang sepadan, dan warga Jepang menilainya lebih hangat di angka 82%. Gratis, hutan seluas 70 hektar yang ditanam sepenuhnya dengan tangan pada 1920, dengan Gerbang Torii Besar dan Sumur Kiyomasa di Taman Dalam, lengkap dengan panduan audio.
Meiji Jingu
Mengunjungi Senso-ji, Kuil Tertua di Tokyo
Apakah Senso-ji sepadan untuk dikunjungi? Kami menimbang 125 suara pelancong: 54% bilang jelas sepadan. Jam buka, gratis masuk, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan mengapa keramaian selalu menjadi bagian dari doa, lengkap dengan panduan audio.
Senso-ji Temple
