Skip to content
WMJS
Izumo Taisha, Tempat Para Dewa Jepang Berkumpul Menjalin Ikatan Antarmanusia
Panduan DestinasiPrefektur Shimane

Izumo Taisha, Tempat Para Dewa Jepang Berkumpul Menjalin Ikatan Antarmanusia

Izumo Taisha (Izumo Oyashiro)

Oleh Kei · Lahir dan besar di Jepang

Apakah perjalanan ke Izumo Taisha sepadan? Dari suara-suara yang kami kumpulkan, sebagian besar menjawab ya, dengan satu catatan soal jarak: dari 60 pelancong internasional yang pernah mempertimbangkan atau sudah menempuh perjalanan ini, dihitung menurut seberapa banyak pembaca lain yang setuju dengan tiap kisah, 52% bilang perjalanan jauh ini sepadan dan hanya 5% bilang tidak, sementara sisanya bilang tergantung cara mengatur harinya. Umat Jepang yang menempuh perjalanan jauh yang sama menilainya lebih tinggi lagi: 61% menyebutnya kunjungan yang berharga. Kuil ini berada di luar jalur Shinkansen, di pesisir Laut Jepang, jadi sisihkan setidaknya setengah hari, atau satu hari penuh kalau mampir juga ke Pantai Inasa, dan datanglah pada pagi hari kerja supaya tidak berbarengan dengan rombongan bus wisata. Hal yang hampir selalu mengejutkan pengunjung pertama kali, termasuk di mana sebenarnya tali raksasa yang terkenal itu tergantung, dibahas di bagian "Kata Mereka yang Sudah Berkunjung" di bawah.

Maknanya

Ada satu bulan dalam setahun ketika, di seluruh Jepang, para dewa konon sedang tidak ada di rumah. Kalender lama menyebut bulan kesepuluh penanggalan bulan sebagai Kannazuki, "bulan tanpa dewa". Begitu di mana-mana, kecuali di sini. Di pesisir Laut Jepang, bulan yang sama justru bernama sebaliknya: Kamiarizuki, "bulan ketika para dewa ada", karena konon ke sinilah para dewa pergi.

Izumo Taisha (nama resminya Izumo Oyashiro) adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Asal-usulnya lebih tua daripada catatan sejarah mana pun, sampai ke zaman para dewa, dan kuil ini sudah disebut dalam Kojiki (712) dan Nihon Shoki (720), dua kitab sejarah tertulis tertua di Jepang. Dewa yang dipuja di sini adalah Okuninushi no Okami, dewa penguasa negeri. Sebagian besar buku panduan wisata memperkenalkannya dengan satu kata bahasa Inggris saja, matchmaking atau mak comblang, dan menyebut tempat ini kuil cinta.

Padahal maknanya jauh lebih luas, dan kuil ini sendiri menjelaskannya dengan hati-hati. En-musubi, yang konon dijalin oleh Okuninushi, biasanya diterjemahkan sebagai menjodohkan, tetapi artinya mencakup segala macam ikatan antarmanusia: bukan hanya suami dan istri, tetapi juga antarsahabat, antara pekerja dan tempat kerjanya, bahkan dengan orang yang belum pernah kamu temui. Kuil ini menggambarkannya sebagai hubungan berharga yang membuat semua makhluk hidup bisa tumbuh bersama. Kamu datang ke Izumo bukan hanya untuk memohon kisah cinta yang indah, tetapi untuk mensyukuri setiap ikatan yang akan membentuk hidupmu, termasuk yang belum terjalin.

Setahun sekali, pada Kamiarizuki, delapan juta dewa Jepang konon meninggalkan kuil masing-masing dan datang ke pesisir barat yang jauh ini untuk bermusyawarah. Yang mereka bahas adalah en (ikatan): siapa yang akan dipertemukan dengan siapa pada tahun berikutnya. Kisah ini sudah diwariskan di tempat ini selama lebih dari seribu tahun. Jelajahilah pelan-pelan, dan kamu akan memahaminya sendiri.

Apa yang Akan Kamu Temui di Sana

Langkah 1: Jalan Masuk yang Menurun

Kebanyakan jalan masuk kuil menanjak. Yang ini justru menurun. Dari torii kayu besar di Seidamari (gerbang utama di bagian atas), jalan setapak yang diapit pohon pinus melandai pelan ke arah kuil. Bentuk seperti ini jarang ditemukan, dan menjadi tanda pertama bahwa Izumo punya banyak kekhasan sendiri.

Berjalanlah di pinggir dan biarkan bagian tengah jalan kosong. Bagian tengah itu disediakan untuk para dewa, dan orang Jepang terbiasa berjalan di tepi sebagai bentuk sopan santun tanpa perlu dipikirkan. Tak lama kemudian, kamu akan melewati kuil kecil bernama Harae no Yashiro (kuil penyucian). Mampir sebentar di sini untuk menyucikan diri sebelum melanjutkan adalah bagian dari urutan berkunjung. Ini bukan ujian benar atau salah, hanya urutan yang memang biasa dijalani.

Selanjutnya, kamu mungkin akan merasakan betapa tenangnya tempat ini. Izumo jauh dari Rute Emas, di pesisir yang jarang didatangi wisatawan yang baru pertama kali ke Jepang, dan karena jauh itulah tempat ini tidak ramai. Kalau kamu pernah berdesakan di deretan gerbang merah Fushimi Inari, bedanya akan terasa sekali: sama-sama kuil Shinto, bahkan yang ini lebih tua, tetapi cukup sepi sampai kamu bisa mendengar langkah kakimu sendiri. Shimane termasuk wilayah yang paling sedikit dikunjungi di Jepang, dan justru karena itu para pelancong yang sudah pernah ke Kyoto datang mencarinya: tempat-tempat yang menyambutmu paling hangat justru karena jarang didatangi orang.

Letaknya yang terpencil pun ada maknanya. Dalam kisah-kisah lama, pesisir ini adalah tempat para dewa naik ke darat dari laut. Perjalanannya panjang karena tempat ini memang berada di ujung terjauh daratan.

Langkah 2: Empat Tepukan, Salam Khas Kuil Ini

Di balai pemujaan Haiden, kamu akan memberi persembahan dan berdoa. Tata caranya di sini sedikit berbeda. Di hampir semua kuil di Jepang, urutannya dua kali membungkuk, dua kali bertepuk, lalu sekali membungkuk. Di Izumo, urutannya dua kali membungkuk, empat kali bertepuk, lalu sekali membungkuk.

Banyak buku panduan menyebut ini sebagai hal yang gampang keliru: hati-hati, di sini empat kali, jangan sampai salah. Menurut penjelasan kuil, empat tepukan ini adalah cara kuil ini memberi salam. Asal-usulnya ada pada upacara terbesarnya: dalam festival agung tahunan setiap bulan Mei, para pendeta bertepuk delapan kali, dan sejak dahulu angka delapan berarti tak terhingga, tepuk tangan tanpa batas yang dipersembahkan kepada dewa. Pada hari biasa, jumlah itu dibagi dua menjadi empat. Kuil juga menambahkan bahwa berapa pun tepukannya, ketulusan doa tetap sama.

Jadi, membungkuklah dua kali dengan pelan. Bertepuklah empat kali. Satukan kedua tangan dan tundukkan kepala, lalu membungkuk sekali lagi. Kalau karena kebiasaan kamu cuma bertepuk dua kali lalu baru sadar, tidak apa-apa. Umat Jepang yang berdoa di sini juga sering begitu; warga Jepang sendiri pun kaget harus bertepuk dua kali lebih banyak. Tahu perbedaannya lalu mengikutinya sudah menjadi bentuk kecil penghormatan pada tempat ini. (Tata krama umum saat mengunjungi kuil mana pun, seperti bak air, persembahan, dan pakaian, adalah topik tersendiri, dan orang Jepang lebih memperhatikan ketulusanmu daripada gerak tanganmu.)

Di belakang Haiden berdiri Honden (bangunan suci utama), bangunan kuil tertinggi di Jepang dengan tinggi sekitar 24 meter. Bangunan dengan gaya taisha-zukuri (gaya kuno yang meniru istana-istana zaman awal) ini berasal dari tahun 1744 dan ditetapkan sebagai Harta Nasional pada 1952. Kamu tidak bisa masuk ke dalamnya. Melewati gerbang Yatsuashi di depannya, hanya para pendeta dan orang yang menjalani doa khusus yang boleh masuk, sedangkan kebanyakan pengunjung berdoa di depan gerbang itu. Ruang yang paling suci memang dipisahkan agar tetap suci, dan kalau sudah tahu ini sebelumnya, kamu tidak akan merasa kecewa. Ada satu detail yang menarik: di dalam, dewa dipuja dengan menghadap ke barat, bukan ke gerbang selatan tempat orang berdoa, sehingga ada tempat berdoa kecil di sisi barat tempat kamu bisa berdiri berhadapan langsung dengannya. Menurut catatan lama, Honden zaman dahulu pernah setinggi 48 meter. Selama berabad-abad cerita itu dianggap legenda, sampai penggalian pada tahun 2000 menemukan sisa tiang-tiang raksasa yang diikat menjadi satu di depan gerbang, dan legenda itu pun makin sulit dianggap sekadar dongeng.

Langkah 3: Tali Raksasa Seberat Lima Ton, Dipilin dengan Tangan

Setibanya di Kaguraden (balai tari suci), langkahmu akan terhenti dengan sendirinya. Di atas pintu masuknya tergantung O-shimenawa, tali jerami suci yang begitu besar sampai benda-benda di sekitarnya terlihat kecil: panjangnya sekitar 13,6 meter dan beratnya kira-kira 5,2 ton, salah satu yang terbesar di Jepang. (Jangan tertukar dengan tali di atas balai pemujaan. Tali itu panjangnya 6,5 meter dan sebenarnya juga besar, tetapi jauh lebih kecil daripada yang ini.)

Tali seperti ini dibuat sepenuhnya dengan tangan oleh para sukarelawan di kota pegunungan Iinan, dan hanya diganti sekitar enam sampai delapan tahun sekali. Kalau diperhatikan baik-baik, tali ini dipilin mulai dari kiri, kebalikan dari hampir semua kuil lain di Jepang yang talinya dimulai dari kanan. Di Izumo, menurut adat sejak lama, sisi kiri adalah sisi yang dimuliakan. Bahkan arah pilinan jerami pun mengikuti tata aturan khas kuil ini.

Shimenawa adalah penanda batas area suci. Kamu mungkin pernah dengar bahwa melempar koin sampai tersangkut di tali itu membawa keberuntungan. Mohon jangan lakukan itu. Kuil ini menyatakannya dengan jelas: tali itu adalah batas suci, bukan sumur harapan, dan koin yang dilempar ke sana tidak membawa keberuntungan dan juga tidak sopan. Kalau ingin menitipkan permohonan, sudah ada tempatnya: papan kayu ema untuk menuliskan doa, atau jimat untuk dibawa pulang. Ikatan yang kamu doakan di sini dijalin dengan niat yang tulus, bukan dengan untung-untungan sekeping koin.

Langkah 4: Bulan Ketika Para Dewa Berkumpul dan Bermusyawarah

Di belakang balai utama, merapat ke lereng yang berhutan, berdiri dua bangunan panjang dan rendah bernama Jukusha ("sembilan belas kuil"), masing-masing dengan sembilan belas pintu kecil di bagian depannya. Hampir sepanjang tahun, bangunan ini kosong. Tetapi pada Kamiarizuki, konon bangunan ini penuh, karena di sinilah para dewa yang datang dari seluruh Jepang menginap.

Menurut kisahnya, pada malam tanggal sepuluh bulan kesepuluh penanggalan bulan, delapan juta dewa Jepang datang dari laut dan naik ke darat di Pantai Inasa, sekitar satu kilometer di sebelah barat kuil. Para pendeta menyalakan api untuk menyambut mereka, lalu para dewa diiringi dalam arak-arakan panjang yang hening menuju kuil, tempat mereka menginap di Jukusha. Selama tujuh hari berikutnya para dewa bermusyawarah dan menentukan ikatan-ikatan untuk tahun mendatang, dan warga sekitar menjaga suara tetap pelan agar tidak mengganggu. Tanggal-tanggal ini mengikuti penanggalan bulan, bukan kalender Masehi, sehingga pertemuan yang di daerah lain disebut bulan kesepuluh biasanya jatuh pada bulan November dalam kalender kita.

Banyak orang sekalian mampir ke Pantai Inasa. Ada satu kebiasaan di sini yang membuat hampir semua pengunjung pertama kali bingung, jadi ingat urutannya: pertama, ambil sedikit pasir kering dari pantai, bawa ke kuil kecil bernama Soga no Yashiro di belakang balai utama, tukar di sana dengan pasir yang disimpan di bawah bangunannya, lalu bawa pulang sebagai jimat pelindung. Ke pantai dulu, baru ke kuil: urutan inilah yang sering terlewat.

Cobalah berdiri di pantai itu saat senja, ketika matahari tenggelam ke Laut Jepang. Mungkin kamu akan bertanya-tanya dengan sendirinya. Kenapa di sini? Kenapa para dewa dari seluruh negeri mau datang setahun sekali ke ujung negeri yang jauh dan sepi ini, hanya untuk membicarakan siapa yang akan berjodoh dengan siapa? Tidak ada yang memaksamu menemukan jawabannya. Kamu boleh berdiri sebentar bersama pertanyaan itu, lalu pulang. Percaya atau tidak bahwa para dewa benar-benar naik ke darat, itu bukan hal yang penting. Sejak lama sekali orang sudah turun ke pantai ini untuk mendoakan ikatan-ikatan mereka, dan doa-doa itu nyata, apa pun pendapatmu tentang kisah lainnya.

Kata Mereka yang Sudah Berkunjung

Sebelum menyisihkan dua hari untuk mencapai pesisir ini, ada baiknya mendengar dulu cerita orang yang sudah pernah ke sana. Kami mengumpulkan suara para pelancong internasional yang pernah mempertimbangkan atau sudah menempuh perjalanan ke Izumo, lalu menghitungnya menurut seberapa banyak pembaca lain yang setuju dengan tiap suara:

Sepadan dengan jarak tempuhnya: kuil dan ketenangan di sekitarnya membuat mereka terkesan
52%
Tergantung caranya: jaraknya memang jauh, jadi rencanakan harinya dengan baik
43%
Tidak sepadan bagi mereka: terlalu jauh untuk apa yang bisa dilakukan di sana
5%
Siapa pemilik suara-suara ini: Pelancong internasional yang pernah mempertimbangkan atau sudah menempuh perjalanan ke Izumo, di Reddit. Beginilah sebaran 60 suara (asing), dihitung menurut seberapa banyak tiap suara mendapat persetujuan. Ke-60 komentar itu berasal dari 37 akun, jadi beberapa pelancong bersuara lebih dari sekali di sini. Ini kumpulan suara, bukan jajak pendapat. Utas yang menanyakan apakah sesuatu sepadan biasanya lebih dulu didatangi orang yang ragu, sehingga dalam kumpulan seperti ini suara skeptis cenderung lebih menonjol. Suara yang tidak menampilkan jumlah reaksi dihitung sebagai satu.

Di zona hijau, nadanya hangat dan apa adanya. "Saya suka sekali kuil Izumo. Kelinci-kelinci lucu ada di mana-mana!" tulis seorang pelancong, dan yang lain berkata singkat: "Saya dan istri mengunjungi Izumo sekitar dua tahun lalu, sungguh sepadan dengan waktu kami." Zona merah yang tipis kebanyakan membahas soal jarak, meski ada satu orang yang bercerita tentang hari yang kehabisan kegiatan: "Saya ke sana naik Sunrise Izumo. Hanya menghabiskan satu hari penuh di sana, tidak banyak yang bisa dilakukan."

Umat Jepang, yang menceritakan perjalanan jauh yang sama dengan kata-kata mereka sendiri, menilainya lebih tinggi lagi:

Berharga: bersyukur akhirnya bisa berkunjung
61%
Tergantung: datang pagi-pagi, dan pahami denah area kuil
37%
Yang kurang memuaskan: lebih kecil atau lebih sepi dari bayangan
2%
Siapa pemilik suara-suara ini: Pengunjung dan warga lokal Jepang, lewat ulasan mereka sendiri di jalan dan 4travel. Beginilah sebaran 149 suara (Jepang) dari 132 akun, dihitung menurut sinyal yang dicatat masing-masing situs. Sinyalnya berbeda: di jalan berupa jumlah pembaca yang menandai ulasan sebagai membantu, di 4travel berupa nilai yang diberikan penulis ulasan. Ini kumpulan suara, bukan jajak pendapat. Ulasan ini ditulis oleh orang-orang yang memang sudah memilih untuk datang, jadi wajar kalau pendapat positif lebih banyak. Suara yang tidak menampilkan jumlah reaksi dihitung sebagai satu.

Soal jarak juga muncul dalam ulasan-ulasan ini. "Saya sudah lama ingin berkunjung, tapi karena letaknya begitu jauh saya tidak pernah benar-benar bisa," tulis salah satunya; "tahun ini saya akhirnya memutuskan sekaranglah waktunya, dan pergi." Di zona merah yang kecil, ada satu hal yang mengejutkan hampir semua orang: tali besar yang membuat orang datang jauh-jauh ternyata tidak tergantung di atas balai pertama yang mereka temui, melainkan di Kaguraden, sedikit lebih jauh ke dalam.

Penjelasan lengkapnya, termasuk letak pasti tali itu dan cara mengatur harimu, ada di artikel Apakah Izumo Taisha Layak Dikunjungi?

Hal yang Perlu Diketahui

Cara ke sana: Izumo berada di pesisir Laut Jepang, di luar jaringan Shinkansen, jadi perlu sedikit perencanaan, dan ada beberapa rute yang bisa dipilih. Cara paling mudah untuk tahap pertama adalah naik pesawat: dari Bandara Izumo Enmusubi (namanya berarti "bandara penjalin jodoh Izumo") ada bus langsung ke Izumo Taisha (sekitar 40 menit, ¥1,100, jumlahnya terbatas dan menyesuaikan jadwal penerbangan), serta bus yang lebih sering ke Stasiun JR Izumo-shi (sekitar 30 menit, ¥850). Kalau naik kereta, kereta ekspres terbatas Yakumo berangkat dari Okayama (stasiun Shinkansen) ke Stasiun Izumo-shi dalam sekitar tiga jam; dari Tokyo, Sunrise Izumo, satu-satunya kereta tidur malam reguler yang masih beroperasi di Jepang, tiba keesokan paginya. Dari Stasiun JR Izumo-shi, ada dua cara untuk melanjutkan: bus Ichibata ke halte "Seimon-mae" di depan gerbang utama (sekitar 25 menit, pilihan paling praktis), atau kereta Ichibata yang pemandangannya indah, berganti kereta sekali di Kawato sampai Stasiun Izumo Taisha-mae (sekitar 29 menit, ¥550), lalu jalan kaki 10 menit. Menyambung rute-rute ini adalah bagian tersulit dari perjalanan; panduan kami tentang berkeliling di Jepang menjelaskan sistem transportasinya secara umum.

Jam buka dan biaya: Tidak ada biaya masuk untuk berdoa di kuil. Area kuil buka setiap hari, umumnya pukul 6:00 sampai 19:00, sedangkan area di belakang balai utama (termasuk Soga no Yashiro, tempat menukar pasir) tutup lebih awal, sekitar pukul 16:30. Loket jimat dan pendaftaran doa buka kira-kira pukul 8:30–16:30. Terakhir diverifikasi: 2026-06.

Kapan sebaiknya berkunjung: Pagi pada hari kerja adalah waktu paling sepi dan, menurut banyak orang, paling indah, ketika area kuil yang luas masih tenang sebelum bus-bus wisata berdatangan. Bunga sakura mekar dari akhir Maret sampai pertengahan April; daun musim gugur berwarna dari awal sampai akhir November. Perlu diingat, musim daun merah bertepatan dengan Kamiarizuki dan festival-festivalnya, sehingga pertengahan sampai akhir November menjadi masa paling ramai dalam setahun. Untuk festival tahun 2026, upacara penyambutan para dewa jatuh pada 18 November, festival Kamiari selama tujuh hari berlangsung pada 19–25 November, dan Enmusubi-taisai (upacara agung penjalinan jodoh) diadakan pada 23 dan 25 November. Karena mengikuti penanggalan bulan, tanggalnya berubah setiap tahun; selalu cek kalender kuil sebelum menyusun rencana. Terakhir diverifikasi: 2026-06. Untuk gambaran musim secara umum, lihat waktu terbaik untuk mengunjungi Jepang.

Pakaian: Ini sisi Laut Jepang, dan musim dinginnya dingin, sering mendung, bersalju atau hujan, dengan angin dari laut. Pakailah pakaian hangat dari Desember sampai Februari. Area kuil sebagian besar datar, jadi sepatu yang nyaman sudah cukup.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan: Setengah hari cukup untuk menjelajahi kuil dengan santai: jalan masuk, balai pemujaan, tali raksasa, dan Jukusha. Kalau ditambah Pantai Inasa dan tradisi menukar pasir, kamu bisa menghabiskan satu hari penuh tanpa terburu-buru. Karena Izumo jauh dari Rute Emas, banyak pelancong menginap semalam dan sekalian menjelajahi pesisir San'in di sekitarnya, daripada datang dan pergi dengan tergesa-gesa.

Catatan tentang balai utama: Kamu tidak bisa masuk ke Honden, dan itu hal yang biasa. Semua orang, termasuk orang Jepang, berdoa dari luar gerbang. Kalau sudah tahu ini sebelum datang, kamu tidak akan kecewa, malah bisa lebih merasakan kesakralan tempat ini.

Jika Tak Berjalan Sesuai Rencana

Kamu khawatir perjalanannya terlalu jauh dan tidak sepadan. Tempat ini memang terpencil, tidak perlu ditutup-tutupi. Tetapi justru karena jauh itulah Izumo terasa berbeda dari kuil-kuil Kyoto yang ramai: lapang, tenang, dan perlu usaha untuk sampai ke sana. Pelancong yang sudah pergi jarang menyesali perjalanannya; yang mereka sesali adalah tidak menyediakan waktu lebih lama.

Kamu terbiasa bertepuk dua kali. Banyak umat Jepang juga begitu, dan hampir semua orang lupa aturan empat tepukan saat pertama kali datang. Cukup bertepuk dua kali lagi, lalu lanjutkan. Tidak ada yang menilai, dan orang senang melihatmu berdoa dengan cara kuil ini.

Kamu agak malu berdoa soal en-musubi. Kamu tidak sendirian. Banyak pengunjung Jepang juga merasa canggung memohon soal jodoh, dan tidak semua yang datang yakin dengan apa yang mereka percayai. Ingat, ikatan yang dimaksud bukan hanya soal asmara: berdoa agar orang-orang baik hadir dalam hidupmu, dalam bentuk apa pun, justru itulah yang biasa dimohonkan orang di kuil ini.

Kamu tidak bisa menukar pasir di Soga no Yashiro. Kemungkinan besar kamu melewatkan langkah pertama: kamu perlu membawa sedikit pasir kering dari Pantai Inasa sebelum mendatangi kuil kecil di belakang balai utama, lalu menukarnya dengan pasir yang disimpan di sana. Kalau kamu belum sempat ke pantai, anggap saja itu alasan untuk datang lagi.

Hujan atau turun salju. Pesisir Laut Jepang memang sering mendung, tetapi langit kelabu justru cocok dengan suasana Izumo: tali raksasa dan bangunan kayu tuanya malah terlihat lebih indah dalam cahaya yang lembut. Pakailah pakaian hangat, hati-hati melangkah, dan nikmati waktumu.

Kamu hanya punya setengah hari. Itu cukup untuk bagian terpenting kunjungan. Susuri jalan masuk, berdoa di balai pemujaan dengan empat tepukan, berdiri di bawah tali raksasa di Kaguraden, dan lihat Jukusha. Pantai Inasa dan tradisi menukar pasir bisa disimpan untuk kunjungan berikutnya.


Sources:

Foto: tali shimenawa raksasa di Kaguraden, Izumo Taisha, oleh Big Ben in Japan, CC BY-SA 2.0, melalui Wikimedia Commons.

WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.

Suara nyata

Apakah tempat ini sepadan?

Pernah ke sini? Bagikan foto Anda.

Foto Anda bisa muncul di panduan ini — dengan nama dan tautan profil Anda.

Kirim foto

Artikel Terkait

Panduan lain di Chugoku