Sapporo: Kota yang Digambar Jepang di Atas Kertas Kosong
Sapporo
Oleh Kei · Lahir dan besar di JepangKisah di Balik Tempat Ini
Sebagian besar kota di Jepang tidak pernah dirancang. Kota-kota itu tumbuh sedikit demi sedikit dari sebuah kastel atau persimpangan jalan, gang demi gang bertambah selama berabad-abad, sampai-sampai penduduk setempat pun mencari jalan dengan patokan bangunan, bukan dengan pola yang teratur. Karena itu, sopir taksi di Kyoto atau Tokyo kadang perlu waktu untuk menemukan sebuah alamat, dan banyak jalan berkelok karena alasan yang sudah tidak diingat siapa pun.
Sapporo adalah pengecualian. Kota ini digambar lebih dulu.
Pada tahun 1869, pemerintah Meiji yang baru mengganti nama pulau di utara yang dulu disebut Ezo menjadi Hokkaido, lalu membentuk Kaitakushi (Komisi Pembangunan Hokkaido) untuk membangun wilayah itu dan mendatangkan penduduk. Langkah pertama mereka adalah menata sebuah ibu kota di Dataran Ishikari yang luas dan datar, persis seperti orang menggambar di selembar kertas kosong: jaringan jalan berpola kotak-kotak yang lurus mengikuti arah utara–selatan dan timur–barat, dengan blok-blok selebar sekitar 109 meter yang berderet ke segala arah. Mereka mendatangkan penasihat asing, salah satunya komisaris pertanian asal Amerika, Horace Capron, dan dalam beberapa dekade saja berhasil membangun kota modern di tempat yang sebelumnya nyaris tanpa permukiman. Itulah sebabnya Sapporo langsung terasa berbeda begitu kamu tiba: jalannya lebar, langitnya lapang, orangnya tidak berdesakan, dan alamat mana pun bisa ditemukan cukup dengan menghitung. Wisatawan sering bilang kota ini "tidak terasa seperti Jepang". Mereka benar, dan sekarang kamu tahu sebabnya. Inilah satu-satunya kota yang dibangun Jepang dari kertas kosong dan sebuah penggaris.
Namun sebenarnya kertas itu tidak kosong. Jauh sebelum pola kotak-kotak itu digambar, dataran ini adalah tanah air orang Ainu, masyarakat adat di wilayah utara. Nama Sapporo sendiri berasal dari bahasa Ainu (salah satu tafsirannya adalah sat-poro-pet, "sungai besar yang kering"). Catatan resmi kota pun menyebutkannya dengan jelas: Komisi memulai pekerjaannya pada tahun 1869 di Hokkaido, tanah tempat orang Ainu tinggal. Saat berada di sini, ada baiknya kamu mengingat keduanya: ambisi rencana kota itu, dan tanah tempat rencana itu digambar.
Pola kotak-kotak itu juga harus memperhitungkan satu hal lagi, yaitu salju. Salju pertama turun pada akhir Oktober, dan di puncak musim dingin seluruh kota tertutup salju setebal kira-kira satu meter, dengan total lima meter yang turun sepanjang musim. Jadi Sapporo adalah kota terencana yang sekaligus dibangun agar kehidupan tetap berjalan sepanjang musim dingin, kota yang menyesuaikan diri dengan cuacanya alih-alih sekadar bertahan. Hakodate yang jauh di selatan memperlihatkan Jepang yang membuka diri kepada dunia; Sapporo memperlihatkan Jepang yang membangun. Pada malam yang cerah, dari atas gunung, kamu bisa melihat seluruh rencana kota itu terbentang di bawah dalam cahaya lampu. Bagian itu kita simpan untuk yang terakhir.
Yang Akan Kamu Temui di Sana
Langkah 1: Pola Kota yang Bisa Dibaca

Mulailah dari tengah, di Taman Odori, jalur hijau panjang yang membentang dari timur ke barat di pusat kota, sepanjang sekitar satu setengah kilometer melewati dua belas blok. Kebanyakan wisatawan menganggapnya taman kota yang menyenangkan, dan di musim panas memang begitu: pohon lilac (pohon resmi kota), air mancur, beer garden yang besar, dan para penari YOSAKOI Soran. Pada bulan Februari, taman ini menjadi panggung utama Festival Salju. Tapi coba perhatikan betapa rapinya taman ini membelah kota, dan kamu akan paham fungsi sebenarnya.
Odori awalnya tidak dibuat sebagai taman. Pada tahun 1871, lahan ini dibuka sebagai jalur penahan api, celah lebar yang sengaja dibuat agar kebakaran di satu sisi tidak merembet ke sisi lain. Garis itu juga membagi fungsi kota. Di sebelah utara ada kawasan pemerintahan: kantor-kantor pemerintah, pengadilan, dan markas Komisi. Di sebelah selatan ada permukiman, toko-toko, dan kawasan hiburan. Cobalah berdiri di taman dan berputar sekali: menghadap ke utara, ke arah kantor-kantor dan gedung bata merah bekas kantor pemerintah prefektur, lalu ke selatan, ke arah pusat perbelanjaan dan lampu-lampu Susukino. Kamu sedang berdiri tepat di garis pertemuan dua bagian kota terencana ini, garis yang masih memisahkan keduanya dengan jelas setelah satu setengah abad.
Di sini pula kamu akan menemukan cara paling unik sekaligus paling praktis di Sapporo: alamat di kota ini berupa koordinat. Odori menjadi garis nol untuk utara dan selatan, satu sumbu lain yang tegak lurus menjadi patokan timur dan barat, dan setiap alamat menunjukkan jaraknya dari pusat dalam hitungan blok, misalnya "Utara 1, Barat 2" atau "Selatan 4, Barat 3". Setelah paham, kamu bisa membaca kota ini seperti kertas berpetak dan berjalan langsung ke tempat yang belum pernah kamu datangi. Wisatawan yang sudah seminggu tersesat di kota-kota tua di selatan biasanya merasa lega saat tiba di sini. Begitu juga banyak wisatawan Jepang. Pola kotak-kotak ini mungkin terasa agak kaku pada awalnya, tapi berkat pola inilah Sapporo menjadi kota yang paling mudah dijelajahi di Jepang.
Di ujung timur taman berdiri Menara TV Sapporo, setinggi 147,2 meter, dengan dek observasi di bagian tengahnya. Dari atas sana, pola kota terbentang di bawahmu sebagai garis hijau yang lurus sempurna: rencana kota itu, dilihat dari dalam.
Langkah 2: Gedung yang Katanya Mengecewakan

Satu blok di utara taman, terjepit di antara gedung-gedung perkantoran, ada bangunan kayu kecil dengan jam di bagian atapnya: Menara Jam Sapporo. Sebaiknya kamu tahu reputasinya sebelum melihatnya, karena justru reputasi itulah yang membuatnya menarik. Wisatawan Jepang sering bercanda menyebutnya salah satu dari "tiga tempat wisata paling mengecewakan" di Jepang: kamu memotretnya, sadar bahwa aslinya lebih kecil daripada di kartu pos, lalu pergi lima menit kemudian. Pada tahun 1878, bangunan ini berdiri gagah di tengah kota perbatasan yang bangunannya masih rendah-rendah; sekarang ia hanya gedung kayu sederhana yang tenggelam di antara beton, sehingga foto tidak pernah bisa menyamai bayangan orang. Kalau kamu datang mengharapkan monumen megah, kamu akan kecewa, tapi kamu tidak sendirian, karena yang paling kecewa justru orang Jepang sendiri.
Tapi bangunan ini hanya mengecewakan kalau kamu melihatnya sebagai monumen. Ia memang bukan monumen. Gedung ini dibangun pada tahun 1878 sebagai aula latihan (embujo) Sekolah Pertanian Sapporo, yang kini menjadi Universitas Hokkaido. Jam besar di menaranya dibuat oleh perusahaan E. Howard di Boston dan mulai berjalan pada tahun 1881. Bangunan kecil ini bukan objek wisata yang ditambahkan belakangan; ia termasuk bangunan pertama yang didirikan di kota ini, titik awal tempat seluruh ibu kota terencana itu tumbuh.
Kamu bisa membuktikannya sendiri. Kaitakushi menandai bangunan-bangunannya dengan satu lambang: bintang merah berujung lima yang disebut Bintang Goryo, meniru Bintang Utara. Setelah tahu, kamu akan menemukannya di mana-mana: di Menara Jam (ada tujuh belas, kalau kamu mau menghitung), di bangunan kayu tua Hoheikan, di Seikatei, dan di dinding bata merah bekas kantor pemerintah. Setiap bintang ibarat tanda tangan kecil dari orang-orang yang sama yang menggambar pola kota ini. Ternyata Menara Jam bukan sekadar tempat yang mengecewakan: ia adalah tanda tangan di bagian bawah halaman.
Langkah 3: Boys, Be Ambitious
Berjalanlah ke arah stasiun lalu sedikit lebih jauh, dan jalan-jalan berpola kotak itu berganti menjadi kampus Universitas Hokkaido yang luas dan rindang. Deretan pohon poplar dan ginkgo di sana lurus seperti jalan-jalan di luar, seolah rencana kota itu berlanjut sampai ke dalam kampus. Dulu tempat ini adalah Sekolah Pertanian Sapporo, didirikan pada tahun 1876, yang disebut pihak universitas sebagai lembaga akademik modern pertama di Jepang. Sekolah ini tidak dibangun supaya indah. Ia dibangun untuk mendidik orang-orang yang kelak membangun segala hal lainnya: insinyur, ahli agronomi, dan perencana yang dibutuhkan daerah baru.
Wakil kepala sekolah pertamanya adalah seorang Amerika, William S. Clark. Ia datang pada tahun 1876 bersama dua profesor dan sejumlah kecil mahasiswa, mengajar kurang dari setahun, dan meninggalkan satu kalimat. Konon, saat berkuda pergi di hari perpisahan, ia menoleh dan berseru kepada murid-muridnya: "Boys, be ambitious!" ("Anak-anak muda, jadilah ambisius!"). Universitas menjaga kalimat itu dengan saksama; menurut mereka, versi yang lebih panjang yang sering dikutip sekarang adalah tambahan orang-orang di kemudian hari, dan hanya kalimat pendek inilah yang benar-benar diucapkan. Entah bagaimana, kalimat itu menjadi abadi di Jepang. Berdirilah di bawah pohon-pohon poplar itu, dan kamu akan mengerti mengapa negeri yang memulai dari nol ingin kalimat itu terukir di sekolah pertamanya. Di sini, ambisi lebih dari sebuah slogan: ia adalah pesan yang diwariskan sejak sekolah ini berdiri.
Langkah 4: Bir yang Lahir dari Dingin
Kembali ke selatan, ke kawasan hiburan Susukino dan bekas kawasan pabrik bir, dan kisah yang sama muncul lagi, kali ini di piring dan di gelas. Sapporo adalah tempat lahirnya ramen miso, semangkuk ramen kental dan panas yang diciptakan warga kota yang dingin ini untuk diri mereka sendiri; kampung halaman jingisukan, daging domba panggang yang berasal dari peternakan milik Komisi di daerah baru ini; dan nama kota ini juga menjadi nama salah satu merek bir tertua di Jepang. Semua ini bukan sekadar pemanis. Inilah hidangan para perintis.
Bir adalah contoh yang paling jelas. Pada tahun 1875, pemerintah memutuskan membangun pabrik bir baru di Tokyo, dan baru akan memindahkannya ke utara kalau berhasil. Tapi pejabat yang bertanggung jawab, Murahashi Hisanari, mendengarkan pembuat birnya yang belajar di Jerman dan memahami hal yang belum disadari para perencana di Tokyo: bir yang difermentasi dingin dengan benar membutuhkan es, dan iklim yang dingin untuk menyimpannya. Maka ia mengedarkan memo yang menyatakan bahwa pabrik bir sebaiknya dibangun di Hokkaido sejak awal "mengingat salju dan esnya yang melimpah", dan pemerintah pun berubah pikiran. Pabrik bir itu dibuka di Sapporo pada tahun 1876 sebagai usaha Kaitakushi, dan sampai sekarang bir masih diseduh di lahan yang sama. Kisah kecil ini menggambarkan dengan pas bagaimana kota ini terbentuk: bukan "birnya terkenal, jadi minumlah", melainkan "bir ada di sini justru karena dinginnya". Industri bir di sini lahir karena iklimnya. (Kalau kamu ingin menjelajahi peta mi Jepang yang lebih luas, setiap jenis kuah punya daerah asalnya sendiri, dan ramen miso Sapporo adalah salah satu contoh paling jelas makanan yang lahir dari iklim.)
Langkah 5: Rencana Kota yang Menyala
Sisakan jam terakhir untuk gunung. Di tepi barat daya kota, kereta gantung dan kereta kabel kecil akan membawamu naik ke Gunung Moiwa, ke dek observasi setinggi 531 meter. Datanglah saat senja, lalu tunggu sampai lampu-lampu di bawah menyala.
Banyak buku panduan hanya menyebutnya "pemandangan malam yang indah", dan tempat ini memang resmi masuk "Tiga Pemandangan Malam Terbaik Baru" di Jepang. Tapi berdirilah di pagar pembatas dan perhatikan baik-baik apa yang sedang kamu lihat. Pemandangan malam Hakodate yang terkenal adalah bentuk daratannya sendiri, jam pasir bercahaya yang diapit laut. Pemandangan Sapporo sama sekali berbeda. Di sini cahaya berbaris dalam garis-garis lurus dan sudut siku-siku, membentang sampai ke tepi gelap Dataran Ishikari: blok demi blok tanpa henti, jaringan lampu jalan dan jendela yang menyala. Kantor pariwisata kota menyebutnya "hamparan permata yang ditaburkan di seluruh dataran". Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, yang terlihat lebih nyata daripada permata. Itu adalah rencana kota itu sendiri. Pola kota yang digambar di atas kertas kosong pada tahun 1869, jalur penahan api, sistem koordinat, dan jalan-jalan lurus kampus itu, semuanya akhirnya menyala. Yang kamu lihat adalah hasil keputusan manusia, yang kini bercahaya. Sebuah kota yang pernah digambar seseorang di atas meja, kini berpendar di tengah salju.
Terima kasih sudah berjalan-jalan bersama kami.
Hal yang Perlu Diketahui
Cara ke sana: naik pesawat. Hanya ini yang perlu kamu rencanakan dengan serius. Shinkansen belum sampai ke Sapporo (perpanjangan Shinkansen Hokkaido masih bertahun-tahun lagi), jadi hampir semua orang datang lewat udara ke Bandara New Chitose di selatan kota. Dari bandara, kereta JR Rapid "Airport" langsung menuju Stasiun Sapporo dalam sekitar 37 menit, enam kali per jam pada siang hari, dan peronnya terhubung langsung dengan terminal. Beli tiket di mesin tiket atau tempelkan kartu IC (Kitaca, Suica, PASMO, dan kartu lainnya bisa dipakai). Kalau kamu datang dari Hakodate, kereta ekspres terbatas Hokuto menghubungkan kedua kota dalam sekitar tiga setengah jam. Terakhir diverifikasi: 2026-06. (Untuk gambaran umum soal kereta, tiket terusan, dan kartu IC di Jepang, lihat panduan berkeliling Jepang.)
Berkeliling kota, dan kota di bawah tanah. Pusat Sapporo tidak luas dan enak dijelajahi dengan berjalan kaki: Stasiun Sapporo, Odori, dan Susukino berada di satu garis lurus, masing-masing berjarak sekitar satu kilometer. Tepat di bawah garis itu ada Chi-Ka-Ho, lorong bawah tanah Sapporo Ekimae-dori yang dibuka pada tahun 2011, panjangnya sekitar 520 meter, berpemanas dan dipenuhi toko, sehingga kamu bisa menyeberangi pusat kota saat badai salju tanpa memakai mantel. Inilah bukti paling nyata bahwa kota ini dibangun untuk menghadapi musim dingin: bebas hambatan dan bisa dilalui dalam cuaca apa pun. Tiga jalur kereta bawah tanah (Namboku, Tozai, dan Toho) bertemu di Stasiun Odori, sementara di atas tanah ada trem yang berjalan melingkar melayani wilayah barat daya. Terakhir diverifikasi: 2026-06.
Cara membaca alamat di Sapporo. Cukup tiga puluh detik untuk memahaminya, dan setelah itu kota ini jadi peta yang bisa kamu pecahkan sendiri. Alamat di sini berupa koordinat: Taman Odori adalah garis pembatas Utara (kita) dan Selatan (minami), dan sebuah sumbu lain memisahkan Timur (higashi) dan Barat (nishi). "Utara 1 Barat 2" berarti satu blok di utara Odori dan dua blok di barat sumbu tengah. Karena setiap blok sekitar 109 meter, kamu bisa memperkirakan jarak jalan kaki sebelum berangkat. Menara Jam ada di Utara 1 Barat 2; ingat itu, dan kamu tidak akan pernah kesulitan menemukannya.
Berapa lama, dan perjalanan seperti apa. Sapporo adalah kota yang nyaman dan makin terasa menyenangkan kalau dinikmati pelan-pelan, bukan kota dengan daftar tempat wajib kunjung, jadi beri waktu secukupnya saja: dua sampai tiga hari untuk kotanya, ditambah satu atau dua perjalanan singkat, dan kamu akan menikmatinya sepenuhnya; kalau hanya mampir buru-buru satu sore, kota ini bisa terasa "cuma kota biasa". Perjalanan sehari yang paling dekat dan mudah adalah ke Otaru, kota kanal yang berjarak sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit naik kereta. Kesalahan yang sering terjadi adalah menginap di Sapporo lalu mencoba pergi-pulang dalam sehari ke bukit lavender Furano dan Biei, atau ke Asahikawa: tempat-tempat ini benar-benar jauh, jadi lebih baik menginap di sana daripada menempuh perjalanan pulang-pergi yang panjang. Jadikan Sapporo titik awal untuk berkeliling Hokkaido lebih luas, dan kota ini akan sangat berguna.
Kapan sebaiknya datang. Sebenarnya Sapporo punya dua wajah. Musim dingin (musim salju dan Festival Salju Sapporo, yang berlangsung sekitar seminggu di awal Februari; tahun 2027 diadakan 4–11 Februari di lokasi Odori, Susukino, dan Tsudome) adalah yang paling terkenal. Musim panas lebih jarang diketahui orang: saat bagian lain Jepang panas menyengat, Sapporo tetap sejuk dan lapang, ada lavender di perbukitan sekitarnya, dan sejak lama kota ini menjadi tempat orang Jepang menghindari panas. Sakura mekar terlambat di utara ini, sekitar awal Mei. Yang kurang menyenangkan adalah cuaca peralihan: di musim dingin hari sudah gelap sejak pertengahan sore, dan saat salju mencair di musim semi jalanan becek berminggu-minggu, jadi siapkan perlengkapan sesuai musim yang kamu pilih. (Baca juga cara memilih musim untuk ke Jepang.)
Tempat wisata, dan informasi praktis yang bisa berubah. Kebanyakan cukup dikunjungi sekitar satu jam, tidak perlu seharian:
- Menara Jam Sapporo: buka 8:45–17:10 (tutup 1–3 Januari); dewasa ¥350, pelajar dan anak-anak lebih murah atau gratis.
- Menara TV Sapporo: dek observasi buka 9:00–22:00; dewasa ¥1.200.
- Bekas Kantor Pemerintah Hokkaido ("Kantor Bata Merah"): gedung bata megah tahun 1888 tepat di utara Odori ini dibuka kembali pada Juli 2025 setelah renovasi panjang (kira-kira 8:45–21:00; tiket masuk murah). Cari Bintang Goryo merah di bagian depannya.
- Museum Bir Sapporo: satu-satunya museum bir di Jepang, berada di lahan pabrik bir Kaitakushi tahun 1876. Perlu dicatat, mulai Juli 2026 museum ini memungut tiket masuk (sebelumnya kunjungan mandiri gratis), jadi cek jam buka dan tarif terbaru sebelum pergi.
- Kereta gantung Gunung Moiwa (untuk pemandangan malam): buka mulai 10:30 (11:00 di musim dingin) sampai 22:00, keberangkatan naik terakhir sekitar 21:30; tiket pulang-pergi dewasa sekitar ¥2.100.
Jam buka, tarif, dan tanggal festival bisa berubah, jadi pastikan informasi yang bergantung pada waktu di situs resmi di bawah ini sebelum menyusun jadwal harianmu. Terakhir diverifikasi: 2026-06.
Pakaian, dan berjalan di atas es saat musim dingin. Sapporo lebih dingin daripada wilayah Jepang lainnya dan bersalju hampir setengah tahun. Di musim dingin, yang paling perlu diwaspadai adalah jalan yang licin karena es, lebih daripada dinginnya: bawa sepatu dengan sol yang mencengkeram, atau beli alas karet antiselip yang dijual di sana, dan lewati lorong bawah tanah saat angin kencang. Di musim panas, satu lapis jaket tipis sudah cukup; malam hari di gunung terasa sejuk di musim apa pun.
Situs resmi: Welcome to Sapporo (city tourism) · Sapporo Snow Festival · Mt. Moiwa Ropeway · Former Hokkaido Government Office
Jika Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Menara Jam terasa mengecewakan. Hampir semua orang merasakannya: gedung ini justru terkenal di seluruh Jepang karena itu, dan wisatawan Jepang pun merasakan hal yang sama. Berhentilah mencari monumen megah dan lihat gedung ini sebagai jejak tertua kota: aula latihan tahun 1878 milik sekolah yang menjadi awal segalanya, bertanda bintang Komisi. Luangkan lima menit, hitung beberapa bintang, lalu lanjutkan perjalanan. Begitu kamu tahu ceritanya, rasa kecewa itu malah jadi separuh keseruannya.
Kamu naik ke Gunung Moiwa dan hanya melihat awan. Cuaca di gunung mudah berubah, dan awan rendah di sore hari bisa menutup seluruh pemandangan. Kalau ramalan cuaca menunjukkan ada malam yang cerah, simpan kunjunganmu untuk malam itu, jangan habiskan satu-satunya malam cerahmu saat langit mendung. Kalau tetap tertutup kabut, kamu tidak sendirian; banyak warga setempat pernah mencoba peruntungan yang sama. Berjalan di antara lampu-lampu kota di bawah pun sama menyenangkannya.
Sapporo terasa "cuma kota biasa". Kalau hanya satu sore, mungkin memang begitu: daya tarik Sapporo ada pada suasana, makanan, dan kotanya yang mudah dipahami, bukan deretan tempat wisata unggulan. Pelan-pelan saja: baca beberapa alamat dari koordinatnya, makan semangkuk ramen miso, susuri lorong bawah tanah, dan rasakan pola kota yang terencana itu. Kesenangan di Sapporo ada pada memahami kotanya, bukan mencentang daftar.
Alamatnya membingungkan. Semua orang bingung di jam pertama, lalu justru merasa inilah alamat yang paling mudah di Jepang. Cari Odori (garis pembatas utara–selatan) dan sumbu tengah (garis pembatas timur–barat), lalu baca setiap alamat sebagai "sekian blok dari masing-masing garis". Kalau ragu, kereta bawah tanah dan lorong bawah tanah punya papan petunjuk berbahasa Inggris dan bertemu di Odori.
Museum Bir sekarang berbayar, atau sedang tutup. Sejak Juli 2026 museum ini berbayar dan sesekali tutup untuk perawatan, jadi cek situs resminya dulu daripada datang tanpa persiapan. Sapporo Beer Garden di sebelahnya, tempat makan daging domba panggang sambil minum bir, punya jam buka sendiri, dan tempat inilah yang sebenarnya dicari kebanyakan orang.
Sedang puncak musim dingin dan hari sudah gelap di pertengahan sore. Siang hari di ujung utara ini singkat, dan jalanan tertutup es. Atur jadwalmu menyesuaikan hal itu: tempat wisata dan pasar di pagi hari, kota bawah tanah yang hangat di sore hari, lalu pemandangan malam dengan pakaian tebal setelah gelap. Pakai sepatu antiselip, pelankan langkah di atas salju yang padat, dan nikmati senja biru yang panjang sebagai bagian dari perjalanan, bukan gangguan.
Kamu berencana pergi-pulang sehari dari Sapporo ke Furano dan Biei. Cek dulu jadwal keretanya dengan teliti: bukit lavender itu lebih jauh daripada kelihatannya di peta, dan kalau pergi-pulang dalam sehari, sebagian besar waktu siangmu habis di perjalanan. Kalau tempat itu penting bagimu, sediakan satu malam khusus untuk menginap di sana. Untuk perjalanan sehari dari Sapporo, pilih tempat yang benar-benar dekat, seperti Otaru.
Sources:
- City of Sapporo: About Sapporo / Outline and English Outline: Founding in 1869 under the Hokkaido Development Commission (Kaitakushi), Ezo renamed Hokkaido, the Ainu as the prior inhabitants of Hokkaido, the Ainu-language origin of the name "Sapporo" (the sat-poro-pet / "dry, great river" reading), first snow in late October and ~1 m / ~5 m snowfall, city status 1922, three subway lines
- Sapporo Tourist Association & City Cultural Properties Division: Cultural Heritage Walk, The Otomobori: The grid laid out by Iwamura Michitoshi, Odori as the administrative/residential divider, the ~109 m blocks, the Sosei River (formerly the Otomobori) as the east–west axis
- Sapporo Tourist Association: Cultural Heritage Walk, The Story of the Kaitakushi: The Kaitakushi (1869–1882) and its foreign advisors, the red Goryo Star emblem on the Clock Tower (17), Hoheikan and Seikatei, and Murahashi Hisanari's insistence on Sapporo for the brewery because cold-fermentation needed natural ice and a cool climate
- Odori Park Official (Sapporo Park & Greenery Association): Odori Park 1.5 km, built in 1871 as a large-scale firebreak separating the northern administrative district from the southern residential/commercial district, 4,700 trees of 92 species, the TV Tower (147.2 m) and the park's festivals
- City of Sapporo: Sapporo Ekimae-dori Underground Walkway (Chi-Ka-Ho): Opened 2011-03-12, links JR Sapporo Station to Susukino, built as a barrier-free, all-weather space "unaffected by season or weather"; ~520 m via Welcome to Sapporo
- Sapporo Clock Tower Official: Built 1878 as the drill hall (embujo) of the Sapporo Agricultural College (now Hokkaido University), the clock from E. Howard & Co. of Boston completed in 1881, Important Cultural Property (1970), hours 8:45–17:10, admission ¥350 (closed Jan 1–3), at North 1 West 2
- Sapporo TV Tower Official: Built 1957, 147.2 m, observation deck at 90.38 m, open 9:00–22:00, adult ¥1,200, eastern end of Odori Park
- Hokkaido University: History and Library: "Boys, be ambitious!": Founded 1876 as Sapporo Agricultural College ("the first modern academic institute in Japan"), William S. Clark as first vice-president (arrived 1876 with Wheeler, Penhallow and students), the verified short form "Boys, be ambitious!" and the note that longer versions were later embellishments
- Sapporo Breweries Official: History (1876): The 1875 plan to build the brewery in Tokyo, Murahashi Hisanari's memo arguing for Hokkaido "given its ample snow and ice" for low-temperature fermentation and aging, and the 1876 Kaitakushi brewery; Sapporo Beer Museum: Japan's only beer museum on the original brewery grounds, paid admission from July 2026
- Japan Tourism Agency Multilingual Database (content by City of Sapporo): Sapporo Snow Festival and Sapporo Snow Festival Official: Begun in winter 1950 with six snow sculptures by students (~50,000 attended), JSDF assistance from 1955, the Odori/Susukino/Tsudome venues, more than two million visitors a year, and the next edition February 4–11, 2027
- Mt. Moiwa Ropeway Official and Welcome to Sapporo: Mt. Moiwa night view: The 531 m summit reached by ropeway and mini cable car, hours and round-trip fare (about ¥2,100), and the night view "like a carpet of jewels scattered across the Ishikari Plain," one of Japan's "New Three Major Night Views" (HOKKAIDO LOVE!)
- Hokkaido Prefectural Government: Former Hokkaido Government Office renewal and operator site: The red-brick building of 1888 (Important Cultural Property), reopened July 25, 2025 after seismic-retrofit renovation, and the red Goryo Star of the Development Commission on its facade
- JR Hokkaido: New Chitose Airport to Sapporo: The Rapid "Airport" train (about 37 minutes, six per hour through midday, IC cards accepted, platform connected to the terminal)
Kredit foto: Pemandangan malam Sapporo dari Gunung Moiwa oleh 663highland (CC BY-SA 3.0); Taman Odori oleh redlegsfan21 (CC BY-SA 2.0); Menara Jam Sapporo oleh Bjørn Christian Tørrissen (CC BY-SA 4.0); semuanya via Wikimedia Commons.
WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.
Terima kasih. Setiap catatan dibaca langsung oleh manusia.
Suara nyata
Apakah tempat ini sepadan?
Pernah ke sini? Bagikan foto Anda.
Foto Anda bisa muncul di panduan ini — dengan nama dan tautan profil Anda.
Kirim fotoArtikel Terkait


Apakah Kebun Binatang Asahiyama Sepadan? Kata Pengunjung dan Warga Jepang



