Skip to content
WMJS
Crowds of pedestrians filling the Shibuya Scramble Crossing in Tokyo on a clear day, with surrounding billboards and buildings
Jepang dalam AngkaOleh Kei · Lahir dan besar di JepangDiperbarui 24 menit baca

42 Juta Pengunjung: Apakah Orang Jepang Senang dengan Hal Ini?

Yang akan Anda pelajari dari artikel ini:

  • Bagaimana Jepang berubah dari 5 juta menjadi 42,7 juta pengunjung per tahun hanya dalam dua dekade, dan ke mana semua pengunjung itu sebenarnya pergi
  • Apa kata 304 orang Jepang tentang gelombang wisatawan, dari penduduk Kyoto yang merasa "kalah jumlah" hingga kota-kota kecil yang berharap didatangi pengunjung
  • Mengapa tempat dengan wisatawan terbanyak tidak selalu paling ramah, dan apa artinya untuk perjalanan Anda berikutnya ke Jepang

Bagaimana perasaan orang Jepang tentang 42,7 juta pengunjung? Kami mengumpulkan 304 unggahan publik penduduk Jepang dan menganalisis data akomodasi pemerintah di seluruh 47 prefektur. Jawabannya sepenuhnya bergantung pada ke mana Anda pergi: hotel di Tokyo dan Kyoto memiliki lebih dari 55% tamu asing dan penduduk merasa kewalahan, sementara prefektur pedesaan seperti Fukui (hanya 2,8% tamu asing) justru aktif mengajak lebih banyak pengunjung datang. Kehangatan sambutan berbanding terbalik dengan kepadatan pengunjung.

42.683.837 orang. Itulah jumlah orang yang mengunjungi Jepang pada 2025, rekor sepanjang masa, dan delapan kali lipat jumlah dua puluh tahun lalu.

Tapi inilah yang tidak bisa ditunjukkan angka-angka itu: bagaimana perasaan orang yang tinggal di Jepang sebenarnya. Seorang penduduk Kyoto yang setiap hari berpapasan dengan lebih banyak orang asing daripada orang Jepang dalam perjalanan ke kantor merasakan hal yang sangat berbeda dari pemilik studio keramik di pedesaan Hyogo yang takjub ada orang yang menemukan kotanya.

Kami mengambil data pengunjung resmi yang dipublikasikan oleh JNTO dan Badan Pariwisata Jepang, memetakan di mana pengunjung terkonsentrasi, lalu menambahkan 304 pendapat nyata dari orang Jepang (penduduk kota, warga desa, pekerja pariwisata, dan warga biasa) untuk menyusun gambaran yang tidak bisa ditunjukkan oleh statistik pariwisata mana pun.

Angka memberi tahu Anda ke mana pengunjung pergi. Suara memberi tahu Anda di mana mereka benar-benar disambut.


Panduan Singkat

Yang Dikatakan Angka Yang Dikatakan Orang Jepang
🟢 Kabar baik 42,7 juta pengunjung di 2025, rekor yang membawa vitalitas ekonomi ke komunitas di seluruh Jepang Kebanyakan orang Jepang menghargai kontribusi ekonomi, terutama daerah pedesaan yang bilang "tidak ada yang datang, silakan berkunjung!"
🟡 Cerita sebenarnya 59% pengunjung datang dari hanya 3 negara (Korea, China, Taiwan) dan terkonsentrasi di Tokyo, Kyoto, dan Osaka "Saya bekerja di Shijo dan 80% orang di sekitar saya adalah orang asing". Penduduk daerah padat punya perasaan campur aduk: bersyukur, tapi juga kewalahan.
🔴 Kesenjangan Hotel Tokyo: 56% tamu asing. Hotel Fukui: 3%. Konsentrasinya ekstrem, dan begitu pula kesenjangan perasaan Di tempat yang pengunjungnya paling banyak, frustrasi paling tinggi. Di tempat yang pengunjungnya paling sedikit, sambutan paling hangat.

Satu hal yang perlu diingat: Destinasi terbaik di Jepang mungkin bukan yang paling terkenal. Tempat yang akan menyambut Anda paling hangat sering kali adalah tempat yang dilewatkan buku panduan, dan baik data maupun suara menunjuk pada kesimpulan yang sama.


Tentang Data

📊 Statistik pemerintah: Angka pengunjung dari Statistik Kedatangan Pengunjung JNTO (data bulanan per kewarganegaraan 2003–2026). Data akomodasi dari Survei Perjalanan Akomodasi 2025 Badan Pariwisata Jepang (Final/確定値), mencakup seluruh 47 prefektur. Data pengunjung (Excel) · Siaran pers tahunan (PDF)

💬 Suara orang Jepang: 304 respons berbahasa Jepang yang dikumpulkan dari platform publik dalam lima topik. Ini bukan survei ilmiah, tapi kumpulan apa yang benar-benar dikatakan orang Jepang dengan kata-kata mereka sendiri tentang hidup berdampingan dengan 42 juta pengunjung.


Bagian 1: Angka-Angka

Jumlah uang dalam artikel ini dalam yen Jepang (¥). Untuk referensi: ¥1.000 ≈ sekitar $7 USD / €6 / £5. Kurs saat ini →

Dari 5 Juta ke 42 Juta dalam Dua Puluh Tahun

Transformasi Jepang menjadi destinasi wisata global terjadi cepat. Seberapa cepat:

Tahun Pengunjung Tonggak
2003 5.211.725 Titik awal
2008 8.350.835 Pertumbuhan stabil
2013 10.363.904 Pertama kali 10 juta
2015 19.737.409 Hampir dua kali lipat dalam 2 tahun
2018 31.191.856 Pertama kali 30 juta
2019 31.882.049 Puncak pra-pandemi
2020 4.115.828 Keruntuhan COVID-19
2021 245.862 Nyaris tutup total
2023 25.066.350 Tahun pemulihan
2024 36.870.148 Melampaui rekor 2019
2025 42.683.837 Rekor sepanjang masa: 8,2x level 2003
Source: JNTO Visitor Arrivals Statistics, Excel "2003"–"2025" sheets, annual totals by nationality

Lonjakannya luar biasa. Butuh 15 tahun (2003–2018) untuk naik dari 5 juta ke 30 juta. Lalu COVID menghapus semuanya: Jepang turun dari 32 juta menjadi 246.000 dalam satu tahun. Namun hanya tiga tahun kemudian, negara ini melampaui rekor lama dan terus melaju.

Tapi angka mentah menyembunyikan dua bentuk konsentrasi ekstrem yang membentuk bagaimana orang Jepang mengalami gelombang ini.

Konsentrasi #1: Dari Mana Mereka Datang

42,7 juta pengunjung tidak tersebar merata. Tiga negara tetangga menyumbang lebih dari setengah:

Pasar Pengunjung 2025 Pangsa Pertumbuhan YoY
🇰🇷 Korea Selatan 9.459.711 22,2% +7,3%
🇨🇳 China 9.096.455 21,3% +30,3%
🇹🇼 Taiwan 6.763.424 15,8% +11,9%
🇺🇸 Amerika Serikat 3.306.823 7,7% +21,4%
🇭🇰 Hong Kong 2.517.402 5,9% -6,2%
🇹🇭 Thailand 1.233.103 2,9% +7,3%
🇦🇺 Australia 1.058.396 2,5% +15,0%
🇵🇭 Filipina 885.023 2,1% +8,1%
🇸🇬 Singapura 726.251 1,7% +5,1%
🇨🇦 Kanada 688.021 1,6% +18,7%
Total top 3 59,3%
Total top 10 91,3%
Source: JNTO Visitor Arrivals Statistics 2025, Excel "2025" sheet, annual totals

Korea, China, dan Taiwan saja menyumbang 25,3 juta pengunjung, hampir 60% dari total. Top 10 pasar menyumbang lebih dari 91%. Untuk sekitar 200 negara dan wilayah lainnya di dunia, Jepang menerima kurang dari 3,7 juta pengunjung secara keseluruhan.

Ini penting karena kedekatan geografis membentuk pola perjalanan. Pengunjung Korea rata-rata hanya menginap 4 malam, sering mengunjungi kota-kota yang sama berulang kali. Pengunjung Eropa menginap 14–18 malam dan cenderung menjelajah lebih jauh. Konsentrasi pengunjung menginap singkat dari negara-negara terdekat memperparah kepadatan di tempat-tempat populer.

Konsentrasi #2: Di Mana Mereka Menginap

Inilah angka yang paling menjelaskan perasaan orang Jepang. Pengunjung asing tidak tersebar merata di 47 prefektur Jepang. Mereka menumpuk di segelintir kota:

Prefektur Pangsa Tamu Asing Total Malam Tamu Asing (万人泊)
🔴 Tokyo 55,7% 6.012
🔴 Kyoto 55,2% 1.829
🔴 Osaka 41,7% 2.452
🟡 Fukuoka 33,0% 842
🟡 Hokkaido 28,6% 1.330
🟡 Yamanashi 27,7% 275
🟡 Okinawa 27,2% 921
... ... ...
🟢 Akita 5,0% 15
🟢 Tochigi 4,3% 48
🟢 Gunma 4,1% 36
🟢 Mie 4,1% 38
🟢 Fukushima 3,7% 36
🟢 Shimane 3,3% 11
🟢 Fukui 2,8% 11
Source: Japan Tourism Agency, Accommodation Travel Survey 2025 (Confirmed/確定値), Excel "第2表(年計)" Columns A, B, Q

Di Tokyo dan Kyoto, lebih dari separuh tamu hotel adalah orang asing. Di Fukui, kurang dari 3%. Rata-rata nasional adalah 27,2%, tapi rata-rata itu menutupi rasio 20:1 antara prefektur paling dan paling sedikit dikunjungi.

Angka ini lebih dari sekadar statistik. Inilah kenyataan sehari-hari yang membentuk cara 125 juta orang Jepang memandang 42 juta pengunjung. Pekerja hotel di Shijo, Kyoto berpapasan dengan lebih banyak wajah asing daripada Jepang dalam perjalanan ke kantor. Pemilik ryokan di Fukui sudah berbulan-bulan tidak menerima tamu asing. Analisis mendalam tentang prefektur yang paling menyambut Anda menunjukkan persis di mana sambutan paling hangat menanti.

Angka 42.683.837 yang sama itu berarti sangat berbeda bagi kedua orang ini.

Sebuah gang di Kyoto dengan rumah-rumah kayu, pohon willow menjuntai, dan bunga sakura yang mekar, dipenuhi orang yang berjalan dari sisi ke sisi, dilihat dari kejauhan
Shirakawa-suji di Kyoto pada musim bunga sakura. Dalam data akomodasi di atas, Kyoto memiliki pangsa tamu hotel asing tertinggi kedua di antara 47 prefektur Jepang.Photo by DimiTalen / CC0 / Wikimedia Commons

Bagian 2: Yang Tidak Dikatakan Angka

Data di atas memberi tahu Anda ke mana pengunjung pergi. Tapi tidak memberi tahu apa yang dirasakan sopir bus Kyoto ketika penumpang tetapnya tidak bisa naik, atau mengapa pemilik studio keramik di Hyogo berbinar ketika pengunjung asing tahu tentang "Enam Tungku Kuno", atau apa yang membuat seseorang di Asakusa berkata "sama sekali tidak terganggu".

Di sinilah 304 suara orang Jepang berperan, dan di sinilah angka-angka tadi mulai bermakna.


"42 Juta: Apa Itu Terlalu Banyak?"

Kami mulai dari pertanyaan paling luas: bagaimana perasaan orang Jepang tentang jumlah wisatawan mancanegara sebesar itu?

Dari 62 respons tentang gelombang pengunjung secara keseluruhan:

Menyambut
26%
Bersyarat: asal tahu sopan santun
29%
Terlalu banyak / jenuh
45%
Konteks tentang 45%: Forum online secara alami memperkuat frustrasi: orang yang punya keluhan akan bersuara, yang tidak punya keluhan memilih diam. Survei JTB 2025 menemukan 34,2% orang Jepang menyambut wisatawan mancanegara karena alasan ekonomi, sementara studi EY Japan 2025 menemukan 41% penduduk di daerah yang ramai wisatawan memandang wisatawan secara positif. Sentimen online cenderung lebih negatif daripada sikap masyarakat pada umumnya.

Suara-suara yang menyambut sangat lugas dan tulus:

地方経済の活性化につながるので歓迎だ Saya menyambut karena membantu menghidupkan ekonomi daerah.

浅草に住んでるけど全くなんとも思わないよ Saya tinggal di Asakusa dan sama sekali tidak terganggu.

Kelompok tengah yang bersyarat adalah yang paling menarik: mereka bukan pro atau kontra, tapi menarik garis yang jelas:

迷惑かけるやつは来んな。それ以外は別にいい Kalau mau bikin masalah, jangan datang. Selain itu, tidak apa-apa.

マナーが良ければ問題ない。普通に過ごしている人には何も思わない Tidak masalah kalau sikapnya baik. Saya tidak berpikir apa-apa tentang orang yang berperilaku normal.

Dan suara-suara yang frustrasi mengungkapkan sesuatu yang penting: yang mereka keluhkan sebenarnya sistem, bukan pengunjung:

外国人のせいで国内のホテルや旅館の宿泊費も高騰している Harga hotel dan ryokan melonjak karena wisatawan asing.

自分の国なのに気軽に旅行できない Ini negara sendiri tapi sudah tidak bisa jalan-jalan santai lagi.

利益を受けるのは業者だけで、一般市民は混雑や物価上昇の被害を受けている Yang untung hanya bisnis. Warga biasa cuma menanggung kepadatan dan kenaikan harga.

Di sinilah data dan suara bertemu pada kesimpulan yang sama. Data akomodasi menunjukkan tamu asing kini menyumbang 27,2% dari seluruh malam menginap di hotel secara nasional, hampir tiga kali lipat level sebelum pandemi. Itu tidak hanya berarti lebih banyak wisatawan di jalanan. Artinya keluarga Jepang yang merencanakan perjalanan ke Kyoto mendapati harga hotel dua kali lipat, shinkansen penuh sesak, dan restoran favorit sudah penuh. Frustrasi 45% itu bukan soal anti-asing. Yang mereka rasakan adalah tersingkir oleh harga dari infrastruktur wisata negaranya sendiri.

💡 Terdorong harga dari negara sendiri

Orang Jepang tidak kesal pada pengunjungnya. Yang membuat kesal adalah apa yang ditimbulkan 42 juta pengunjung terhadap infrastruktur wisata mereka. Ketika kamar hotel yang sama harganya dua kali lipat dari lima tahun lalu, perjalanan akhir pekan ke Kyoto menjadi kemewahan. Angka menunjukkan pariwisata meledak. Suara menunjukkan siapa yang menanggung biaya tersembunyi.


🔴 Pandangan dari Kyoto, Osaka, dan Tokyo

Apa yang terjadi ketika lebih dari separuh orang di sekitar Anda adalah orang asing?

Dari 65 respons dari penduduk daerah wisata konsentrasi tinggi:

Bangga / bersyukur
8%
Campur aduk
25%
Kewalahan
68%
Konteks penting: 68% ini berasal dari suara online penduduk di daerah paling terkonsentrasi, yaitu tempat dengan tingkat tamu asing melebihi 50%. Survei warga Kyoto 2025 menunjukkan gambaran berbeda: 65,2% penduduk Kyoto merasa bangga dengan reputasi wisata kota mereka, dan 70,1% mengakui pentingnya pariwisata. Tapi survei yang sama menunjukkan 70,6% terganggu oleh kepadatan di sekitar tempat wisata dan 63,8% oleh kemacetan transportasi umum. Kebanggaan dan frustrasi hidup berdampingan.

Suara dari penduduk melukiskan gambaran nyata kehidupan sehari-hari di kota yang jenuh wisatawan:

四条に住んでるけどすれ違う人ほぼ外人。一体どこの国に住んでるんだろう? Saya tinggal di Shijo, dan hampir semua orang yang berpapasan adalah orang asing. Saya bertanya-tanya saya tinggal di negara mana.

伏見稲荷の近所に住んでるけどマジで外国人しかおらん Saya tinggal dekat Fushimi Inari, dan serius hanya ada orang asing.

嵐山に住んでるけど毎日地獄。人の家のガレージで平気で座ってアイス食べてる外人 Saya tinggal di Arashiyama, dan setiap hari seperti neraka. Orang asing duduk di garasi rumah orang makan es krim seolah tidak ada masalah.

Pandemi memberikan perbandingan yang tak disengaja:

コロナ禍は京都は平和だった Saat COVID, Kyoto damai.

Tapi bahkan dalam suara paling frustrasi, ada kesadaran diri:

日本人もマナー悪い人沢山見かけるよ。守らないのは意外と日本人の方が多い Saya juga sering lihat orang Jepang yang sikapnya buruk. Mengejutkannya, justru orang Jepang yang lebih sering melanggar aturan.

Dan data survei warga Kyoto menambahkan nuansa penting yang suara online saja tidak bisa tangkap:

観光の重要性は認識している(70.1%)。観光評価を誇りに感じる(65.2%)。一方、一部観光地周辺の混雑で迷惑している(70.6%) 70,1% mengakui pentingnya pariwisata. 65,2% merasa bangga dengan reputasi wisata Kyoto. Namun, 70,6% terganggu oleh kepadatan di sekitar beberapa area wisata.

Di sinilah data konsentrasi menjadi personal. Statistik akomodasi menunjukkan Kyoto di 55,2% tamu asing, artinya mayoritas penghuni hotel adalah orang asing. Angka tunggal itu menjelaskan mengapa Shijo, jalan yang membelah distrik geisha Gion di Kyoto, terasa seperti negara lain bagi penduduknya. Tapi survei warga Kyoto mengungkapkan bahwa bahkan penduduk tersebut menyimpan dua perasaan sekaligus: bangga bahwa dunia menghargai kota mereka, dan kelelahan karena berbagi kota dengan jutaan orang.

Rasa bangga yang bercampur kewalahan inilah kenyataan emosional yang tidak bisa ditangkap angka pengunjung mana pun. Perpaduan antara sambutan dan kelelahan yang sama juga terjadi dalam diri satu orang, bukan cuma tersebar di peta, dan dibahas lebih lanjut dalam Apakah Orang Jepang Benar-Benar Menginginkan Wisatawan? Jawaban yang Jujur. Dan menunjuk pada masalah struktural: masalahnya bukan 42 juta pengunjung. Tapi 42 juta pengunjung pergi ke lima tempat yang sama. Gunung Fuji menghadapi tekanan serupa, dan Jepang untuk pertama kalinya memberlakukan batas jumlah pendaki per hari, yang kami bahas dalam Mengapa Gunung Fuji Dibatasi.

💡 Bangga dan kewalahan di saat bersamaan

Data Kyoto menunjukkan 55,2% tamu hotel asing. Survei warga Kyoto menunjukkan 65,2% kebanggaan dan 70,6% frustrasi terhadap kepadatan. Ini bukan kontradiksi. Ini satu kota yang dilihat dari dua sudut. Kekaguman dunia memang membanggakan. Tapi empat puluh juta langkah kaki yang melewati lingkungan tempat Anda tinggal setiap tahun terasa lain.


🟢 Pandangan dari Pedesaan Jepang

Bagaimana dengan tempat yang tamu asingnya hanya 3% atau kurang?

Dari 55 respons dari penduduk dan pemilik usaha di daerah yang kurang dikunjungi:

Silakan datang!
33%
Sambut, tapi perlu persiapan
31%
Lebih baik tidak
36%
Catatan tentang 36%: Suara negatif di sini sebagian besar berasal dari daerah yang sudah mengalami limpahan wisatawan dari titik panas terdekat: Shirakawa-go, daerah pedesaan Okinawa, dan kota-kota dekat Niseko. Sementara itu, daerah yang benar-benar terpencil dan sangat sedikit menerima pengunjung asing hampir seluruhnya bersikap positif.

Perbedaan dari Kyoto sangat mencolok. Di daerah padat orang berkata "terlalu banyak", sedangkan di tempat yang jarang dikunjungi orang berkata:

今、一人も来ないのでもっと来てほしい Sekarang tidak ada yang datang, jadi saya ingin lebih banyak orang berkunjung.

大阪や京都ばかりに行ってしまうから、もっと来てほしい Mereka hanya pergi ke Osaka dan Kyoto. Saya harap lebih banyak yang datang ke sini.

Beberapa suara paling menyentuh datang dari tuan rumah pedesaan yang menemukan makna tak terduga dari pengunjung asing:

訪日ゲストは商店街で「こんなにすばらしい商品は初めて見た!」「あなたのお店はすごい」と褒め言葉をかけてくれ、失いかけていた誇りや商売への自信を取り戻す Pengunjung asing memuji jalan perbelanjaan — "Belum pernah lihat produk sehebat ini!" "Toko Anda luar biasa!" — dan para pemilik toko mendapatkan kembali kebanggaan dan kepercayaan diri dalam bisnis yang hampir mereka hilangkan.

「私に会いに来て」というのがコンセプト。そのうえでの京丹後の風景、食、文化歴史なんです "Datanglah untuk bertemu saya" — itulah konsep saya. Pemandangan, makanan, dan sejarah budaya Kyotango datang setelah itu. (Pemilik ryokan, Kyotango)

住んでいる私たちにとって当たり前の景色や日常が魅力と捉えられていることに驚く Kami terkejut bahwa pemandangan dan kehidupan sehari-hari yang kami anggap biasa ternyata dianggap menarik. (Pejabat kota Tamba Sasayama)

Dan detail yang membuat seorang walikota daerah senang:

高山の人たちはいつの時代も外から来る人々を迎え入れ、宿や食事を提供して相手に喜ばれてきた。その喜ぶ姿を、自分たちの喜びに変えることができる人たち Orang Takayama selalu menyambut pengunjung dari luar, menyediakan penginapan dan makanan. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengubah kegembiraan tamu menjadi kegembiraan mereka sendiri. (Walikota Takayama)

Bahkan suara negatif di pedesaan berbeda dari frustrasi Kyoto. Di Kyoto orang mengeluh "terlalu banyak", sedangkan di pedesaan yang dikeluhkan adalah belum siap menerima tamu:

外国人観光客が来るのは別によいのですが、そのために我々日本人があれこれ「おもてなしのし過ぎ」に走ってしまうのはどうも腑に落ちない Wisatawan asing datang sih tidak apa-apa, tapi yang membuat saya tidak nyaman adalah kita orang Jepang jadi berlebihan dalam "omotenashi."

Sekarang lihat apa yang terjadi ketika Anda menumpangkan data dengan suara. Statistik akomodasi menunjukkan Fukui di 2,8% tamu asing dan Shimane di 3,3%. Warga di daerah ini berkata "silakan datang!". Statistik menunjukkan Tokyo di 55,7% dan Kyoto di 55,2%. Warga di sana berkata "saya bertanya-tanya tinggal di negara mana".

Polanya konsisten: intensitas sambutan berbanding terbalik dengan kepadatan pengunjung. Dan satu suara menangkap perbedaan kualitas dengan sempurna:

準富裕層や文化に関心が高い人が多いためか、とてもマナーが良い人が多い印象 Mungkin karena banyak yang kelas menengah-atas atau punya minat budaya tinggi, pengunjung yang sampai ke daerah kami cenderung sangat beradab.

Pengunjung yang mencapai pedesaan Jepang cenderung jenis pengunjung yang diinginkan komunitas: penasaran pada budaya, menginap lebih lama, dan tahu menghormati. Data mengonfirmasi hal ini: artikel pendamping kami Ke Mana Uang Anda Pergi menunjukkan pengunjung Eropa yang menginap 14–18 malam dan menghabiskan ¥360.000–¥390.000 menghasilkan pengeluaran per orang tertinggi dengan dampak kepadatan terendah.

💡 Peta sambutan terbalik

Data menunjukkan rasio 20:1 antara prefektur paling dan paling sedikit dikunjungi. Suara menunjukkan rasio sambutan hampir persis terbalik. Warga Fukui (2,8% tamu asing) berkata "silakan datang". Warga Kyoto (55,2%) berkata "saya bertanya-tanya tinggal di negara mana". Tempat yang paling menyambut Anda adalah yang dilewatkan buku panduan.

💬 What do you think?

Japanese readers: How do you feel about this?Visitors: Have you experienced this in Japan?

Share your voice →

Wisatawan dan Tetangga: Garis yang Semakin Kabur

Jepang tidak hanya punya 42 juta pengunjung. Negara ini punya 4,13 juta penduduk asing, untuk pertama kalinya melewati angka 4 juta (Immigration Services Agency, akhir 2025). Garis antara "wisatawan" dan "tetangga" semakin sulit ditarik.

Dari 62 respons tentang hidup berdampingan dengan penduduk asing:

Menyambut / tetangga baik
34%
Oke kalau ikut aturan
32%
Cemas / frustrasi
34%

Distribusi yang terbagi hampir sempurna menjadi tiga ini sudah cukup menjelaskan banyak hal. Berbeda dengan kecenderungan frustrasi yang jelas di daerah wisata terkonsentrasi, sikap terhadap penduduk asing menetap sangat seimbang.

Suara positif menunjukkan penerimaan tumbuh lewat tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus:

2軒隣が中国人夫婦です。挨拶も笑顔でしてくれるし、地域の掃除にも出てくる Ada pasangan China dua rumah sebelah. Mereka menyapa dengan senyum dan ikut bersih-bersih lingkungan juga.

トラブルないよ。むしろ老害のがヤバい Tidak ada masalah sama sekali. Jujur, orang tua yang bikin masalah malah lebih parah.

Kompleks perumahan Shibazono di Saitama, dengan lebih dari 60% penghuni berasal dari luar negeri, telah menjadi contoh hidup berdampingan yang diakui secara nasional:

外国出身の住人や芝園かけはしプロジェクトのような若い人たちが加わることで、イベントが開催できたり、お祭りに参加してもらったりして大変助かっています Kehadiran warga asal luar negeri dan anak muda dari Proyek Jembatan Shibazono sangat membantu — mereka ikut acara dan festival.

Kelompok tengah yang bersyarat menarik garis yang jelas dan praktis:

ルールを守ってくれてる人なら無問題 Tidak masalah selama mereka mengikuti aturan.

日本人でもマナー悪い人はいる Orang Jepang yang sikapnya buruk juga ada.

Dan kecemasan sering tentang komunikasi, bukan permusuhan:

言葉が通じないことが不安 Saya merasa cemas karena kami tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama.

Temuan inti dari suara-suara ini terhubung langsung dengan data pariwisata. Pengunjung lewat. Penduduk tinggal. Dan menetap (belajar aturan memilah sampah, ikut bersih-bersih lingkungan, menyapa orang dengan nama) mengubah cara pandang sepenuhnya. Data akomodasi menghitung "orang-malam". Tapi suara membedakan antara 4 malam dan 4 tahun. Kepercayaan tumbuh dari waktu, dan itu tidak bisa dibeli dengan pengeluaran wisata.

💡 Dari wisatawan menjadi tetangga

Suara-suara itu membedakan dengan tajam antara sekadar lewat dan menetap. Wisatawan yang menginap 4 malam adalah statistik. Tetangga yang ikut bersih-bersih lingkungan adalah anggota komunitas. Data akomodasi menghitung keduanya sebagai "orang-malam asing", tapi penduduk Jepang langsung merasakan perbedaannya.


Kesenjangan Generasi

Apakah orang muda Jepang merasakan berbeda tentang gelombang pengunjung?

Dari 60 respons tentang sikap lintas generasi:

Nyaman / sudah terbiasa
23%
Kesenjangan generasi ada
43%
Tidak nyaman berapapun usia
33%

Data dari survei Badan Imigrasi Jepang menunjukkan pola yang jelas:

18歳から29歳では「通う学校に外国人がおり、知り合いである(あった)」が最も高い。60歳以上では「外国人の知人はいないし、付き合ったこともない」が最も高い Di kalangan usia 18–29, jawaban paling umum adalah "ada orang asing di sekolah saya dan kami kenal." Di kalangan 60+, paling umum adalah "saya tidak punya kenalan asing dan tidak pernah punya."

25~29歳で外国人との日常的な交流頻度が最も高く、38.8%が「頻繁に」または「ときどき」交流があると回答 Kelompok usia 25–29 memiliki frekuensi interaksi harian tertinggi dengan orang asing — 38,8% melaporkan kontak sering atau kadang-kadang.

Tapi kesenjangan generasi bukan cerita sederhana "muda berarti ramah, tua berarti menolak". Data mengungkapkan dua hal yang mengejutkan:

「原則反対」は20-50代で3-4割台だが、60代以上では2割台に下がる。高齢者は人手不足の現実を感じて容認する傾向 "Menentang secara prinsip" di angka 30–40% untuk usia 20–50, tapi turun ke sekitar 20% untuk 60+. Lansia cenderung menerima karena merasakan realitas kekurangan tenaga kerja.

外国人観光客の増加に「興味がない」と答えた20代は25.5%で全世代最高 25,5% orang berusia 20-an bilang mereka "tidak tertarik" dengan peningkatan wisatawan asing — tertinggi di semua kelompok usia.

Jadi orang muda tidak selalu lebih ramah. Mereka lebih acuh tak acuh. Tumbuh besar dengan teman sekelas asing, K-pop, dan aplikasi terjemahan, kehadiran orang asing tidak istimewa bagi mereka. Bukan sambutan hangat. Lebih ke sikap biasa saja.

Dan hambatan bahasa terjadi di semua kelompok usia:

外国語がわからないことが手助けをためらう最大の理由で56.6%。若い世代ほど翻訳ツールの使用率が高く、40代以上は「やさしい日本語」での対応が多い Tidak memahami bahasa asing adalah alasan #1 ragu membantu (56,6%). Generasi muda lebih banyak menggunakan alat terjemahan; yang di atas 40 mengandalkan "bahasa Jepang sederhana."

Data generasi pada akhirnya menceritakan kisah yang sama dengan data geografi, tapi pada sumbu yang berbeda. Sama seperti sambutan paling hangat muncul di tempat yang pengunjungnya paling sedikit, kenyamanan terhadap orang asing paling tinggi pada orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka. Orang muda yang tumbuh dengan teman asing merasa santai. Orang tua tanpa riwayat kontak merasa cemas. Variabelnya adalah kontak, bukan usia.

💡 Bukan lebih hangat, hanya sudah terbiasa

Penentu terbesar kenyamanan dengan orang asing adalah seberapa sering bertemu, bukan usia. Orang muda tumbuh dengan teman sekelas asing. Orang tua sering tidak punya riwayat interaksi sama sekali. "Kesenjangan" generasi sebenarnya adalah kesenjangan kontak, dan itu kabar baik, karena kontak meningkat di setiap tingkat usia.


Peta yang Tak Terlihat

Setelah membaca seluruh 304 respons dalam lima topik, muncul satu pola yang tidak disebut langsung oleh siapa pun, tapi ditunjuk oleh semuanya.

Ada peta Jepang yang tak terlihat yang tidak ditunjukkan buku panduan mana pun. Ini bukan peta tentang ke mana harus pergi. Ini peta tentang tempat yang menantikan Anda.

Di peta yang terlihat hanya ada Tokyo, Kyoto, Osaka. Peta yang tak terlihat berisi tempat-tempat yang kedatangan Anda membuat hari seseorang jadi lebih cerah: studio keramik di Tamba Sasayama, jalan perbelanjaan tempat pemiliknya mendapatkan kembali kebanggaan yang sempat hilang, ryokan di Kyotango yang konsepnya adalah "datanglah untuk bertemu saya".

Data mengonfirmasi apa yang dirasakan warga:

  • Kepadatan pengunjung tertinggi → frustrasi tertinggi
  • Kepadatan pengunjung terendah → sambutan paling hangat
  • Ada kontak langsung → rasa nyaman tertinggi

Ketiga pola ini menunjuk pada satu kesimpulan: "pariwisata berlebih" bukan soal jumlah. Ini soal persebaran. Jepang punya ruang untuk 42 juta pengunjung. Tapi tidak punya ruang untuk 42 juta pengunjung di lima kota yang sama.

Dan suara-suara itu menambahkan satu hal yang tidak bisa ditunjukkan data: apa yang dilakukan pengunjung lebih penting daripada ke mana mereka pergi. Bahkan di daerah padat, orang yang mencoba bahasa Jepang, mengikuti ritme lokal, dan menunjukkan perhatian mendapat kehangatan. Bahkan di daerah pedesaan yang ramah, pengunjung yang tidak menghormati kehidupan warga tetap membuat warga kesal.

Di balik berita utama tentang 42 juta kedatangan, orang Jepang sebenarnya cukup penasaran tentang para pengunjung, dengan cara yang jarang muncul dalam diskusi kebijakan. Artikel apa yang sebenarnya dicari orang Jepang tentang orang asing mengungkap gambaran yang lebih personal, kadang mengejutkan, tentang bagaimana negara tuan rumah memandang para tamunya.

Peta yang tak terlihat bukan hanya soal geografi. Tapi soal perilaku.

Rumah-rumah beratap genteng berkelompok di kaki bukit berhutan di Tamba Sasayama, Hyogo, dengan sawah dan sungai dangkal di bagian depan
Kami-Tachikui di Tamba Sasayama, Hyogo. Seorang pejabat kota yang dikutip dalam artikel ini mengatakan warga terkejut bahwa pemandangan sehari-hari yang mereka anggap biasa justru yang dianggap menarik oleh pengunjung.Photo by 663highland / CC BY 2.5 / Wikimedia Commons

Yang Sebenarnya Ingin Orang Jepang Sampaikan

Setelah membaca 304 suara itu, pesannya bukan "jangan datang" atau "datanglah lebih banyak". Ada sesuatu yang lebih spesifik.

Anda disambut, terutama di tempat yang paling tidak Anda sangka.

Jika Anda sedang memilih tujuan

  • Pertimbangkan tempat yang tidak masuk ke kebanyakan buku panduan. Data menunjukkan 97% kapasitas hotel Jepang memiliki sangat sedikit tamu asing. Di tempat seperti itulah kedatangan Anda paling dihargai.
  • Menginap lebih lama di lebih sedikit tempat. Suara orang Jepang konsisten membedakan antara pengunjung yang "terburu-buru lewat" dan yang "tinggal dan berinteraksi". Data akomodasi mengonfirmasi: menginap lebih lama menghasilkan pengeluaran lebih tinggi dengan dampak kepadatan lebih rendah.
  • Anggaplah seperti mengunjungi rumah seseorang. Tuan rumah pedesaan yang paling ramah menggambarkan konsep mereka sebagai "datanglah untuk bertemu saya". Ketika Anda memperlakukan kunjungan sebagai pertemuan dengan seseorang, bukan daftar yang harus dicentang, sambutannya berubah total.
  • Waktu kunjungan sama pentingnya dengan tujuan. Kota yang sama terasa sangat berbeda tergantung bulannya. Temukan kapan orang Jepang paling ingin Anda berkunjung, jawabannya mungkin mengejutkan.

Di mana pun Anda pergi

  • Tata krama adalah paspor terbaik Anda. Temuan paling konsisten dari 304 suara: sikap yang penuh perhatian selalu disambut baik, apa pun lokasinya, berapa pun usia Anda, dan seramai apa pun tempatnya.
  • Beberapa kata sudah sangat berarti. "Sumimasen", "arigatou gozaimasu", dan senyuman disebutkan lebih sering daripada perilaku spesifik apa pun.
  • Ikuti ritme lokal. Antre ketika orang lain antre. Jaga volume suara sesuai ruangan. Jangan makan sambil berjalan di area permukiman. Ini bukan aturan. Ini sinyal yang mengatakan "saya menyadari kehadiran Anda, dan saya menghormati tempat ini".
  • Orang di kota kecil akan mengingat Anda. Di Tokyo, Anda hanya satu dari jutaan orang. Di kota pedesaan, Anda mungkin satu-satunya pengunjung asing minggu itu, dan mereka akan mengingat Anda.

しずしずと写真撮ったり、静かな観光客には「来てくれてありがとう」と思う Ketika wisatawan diam-diam mengambil foto dan berperilaku tenang, saya berpikir "terima kasih sudah datang."


Perspektif Lain dari Orang Jepang

Penasaran tentang aspek lain mengunjungi Jepang? Artikel-artikel ini mengeksplorasi apa yang sebenarnya dipikirkan orang Jepang, berdasarkan ratusan suara nyata.


Bagikan Pengalaman Anda

Pernahkah Anda mengunjungi tempat di Jepang yang membuat Anda merasa benar-benar disambut? Kota kecil yang mengejutkan Anda? Momen ketika Anda menyadari sedang berada di tempat istimewa? Kami ingin mendengarnya. Cerita Anda membantu pengunjung lain menemukan Jepang yang menunggu di luar halaman buku panduan.

Bagikan pengalaman Anda di Voice Box →


Sumber

Data Statistik (Sumber Primer, dianalisis langsung)

Semua data statistik diekstrak langsung dari file pemerintah berikut, diunduh dan disimpan di direktori sources/ artikel. Lihat sources/README.md untuk catatan ekstraksi detail dan referensi sheet.

  • Japan National Tourism Organization (JNTO): Visitor Arrivals Statistics

  • Japan Tourism Agency (観光庁): Accommodation Travel Survey 2025 (Confirmed/確定値)

  • Angka dari artikel pendamping: rentang "¥360.000–¥390.000" dan "14–18 malam" yang dikutip untuk pengunjung Eropa bukan angka sumber tersendiri. Angka-angka itu adalah ilustrasi pembulatan dari artikel ini sendiri atas data per negara yang bersumber dari artikel pendamping "Ke Mana Uang Anda Pergi" (Japan Tourism Agency Consumption Trend Survey, Excel Sheet "参考2"): Italia 357.002 yen / 13,7 malam, Prancis 359.869 yen / 18,4 malam, Spanyol 362.767 yen / 13,9 malam, Australia 386.512 yen / 13,5 malam, Inggris 391.320 yen / 14,4 malam, Jerman 392.251 yen / 18,0 malam.

Data Penelitian Primer

  • Data penelitian sentimen pengunjung WMJS (304 respons berbahasa Jepang dikumpulkan April 2026)
    • Sentimen keseluruhan: 62 respons (visitors_too_many.json)
    • Daerah terkonsentrasi: 65 respons (visitors_kyoto_overwhelmed.json)
    • Sambutan pedesaan: 55 respons (visitors_rural_welcome.json)
    • Wisatawan vs tetangga: 62 respons (visitors_neighbor_or_tourist.json)
    • Kesenjangan generasi: 60 respons (visitors_generation.json)

Survei yang Dirujuk

  • JTB Tourism Research & Consulting: Survei tren perjalanan 2025
  • EY Japan: Sikap penduduk terhadap pariwisata inbound 2025
  • Immigration Services Agency (出入国在留管理庁): Survei sikap terhadap koeksistensi dengan orang asing (令和5年度)
  • Kyoto City: Survei kesadaran warga 2025 (令和7年市民意識調査)
  • Immigration Services Agency (出入国在留管理庁): Statistik penduduk asing (akhir 2025): total 4.125.395 orang

Sumber Pengumpulan Pendapat

Sumber-sumber berikut digunakan untuk mengumpulkan pendapat dan sentimen orang Jepang. Tidak dikutip sebagai otoritas faktual tetapi sebagai platform tempat orang Jepang menyampaikan pandangan mereka.

Sentimen keseluruhan (visitors_too_many):

Daerah terkonsentrasi (visitors_kyoto_overwhelmed):

Sambutan pedesaan (visitors_rural_welcome):

Wisatawan vs tetangga (visitors_neighbor_or_tourist):

Kesenjangan generasi (visitors_generation):

  • Survei koeksistensi Immigration Services Agency (data pemerintah resmi)
  • Situs tanya-jawab, forum, dan unggahan media sosial publik berbahasa Jepang: pendapat langsung tentang sikap lintas generasi
  • https://shueisha.online/ (pelecehan pelanggan terhadap pekerja asing)

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform online telah diedit ringan untuk kemudahan membaca (memperbaiki kesalahan ketik, memformat agar lebih jelas). Makna dan maksud setiap komentar tetap tidak berubah. Sumber asli ditautkan di atas.

WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.

How well do you know Japan?

Based on 51,218+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

Punya pertanyaan lanjutan tentang topik ini? Kami akan menanyakannya kepada orang Jepang.

Voice Box →