Skip to content
WMJS
A hand raises a smartphone to film fireworks over a Tokyo street at night, the live camera view glowing on its screen above a crowd seen only from behind
Suara PembacaOleh Kei · Lahir dan besar di JepangDiperbarui 17 menit baca

Direkam Orang Tak Dikenal di Jepang: Bagaimana Rasanya bagi Orang Jepang

Kami mengunggah video pendek berisi satu pertanyaan sederhana untuk orang Jepang: Apa yang kamu rasakan ketika orang yang tidak kamu kenal mengarahkan kamera ke arahmu tanpa izin?

Satu komentar membuat kami terdiam.

修学旅行で着物を着たら海外の方が何も言わずに写真を撮ってきた。聞いてくれた人は数人で、撮った9割は許可なしで勝手に撮ってきた。ピースをしたらすごい嬉しそうに笑ってくれた人もいて嬉しい気持ちになったけど海外の人が普通にとってくることに驚いた Saat study tour sekolah, saya pakai kimono dan turis asing langsung memotret saya tanpa berkata apa-apa. Cuma beberapa orang yang minta izin — 9 dari 10 orang langsung memotret tanpa bertanya. Tapi saat saya buat tanda V untuk salah satu dari mereka, orang itu tersenyum begitu bahagia sampai saya juga ikut senang. Saya terkejut betapa santainya orang asing memotret begitu saja.

Dalam satu komentar ada rasa tidak nyaman sekaligus hangat, kaget sekaligus menerima.

Komentar itu membawa kami ke arah yang tak direncanakan, dan ternyata inilah topik yang memancing reaksi emosional paling kuat dari semua yang pernah kami teliti. Hasil polling di video juga menunjukkan hal yang sama: 92% penonton Jepang memilih "jujur, saya ingin mereka berhenti" (n=52).

Poin-poin penting:

  • 92% orang yang kami tanya di YouTube memilih "jujur, saya ingin mereka berhenti", dan 79% dari 70 suara yang dikumpulkan benar-benar merasa tidak nyaman, respons negatif terkuat dalam semua topik WMJS
  • 20% sisanya netral ("memang begitu, saya paham alasannya") dan 1% sama sekali tidak keberatan, tapi 1% itu mengatakan sesuatu yang penting
  • Satu pertanyaan mengubah segalanya. Bahkan cukup "OK?" atau gestur menunjuk kamera sudah cukup membuat orang yang difoto merasa dihargai
  • Pada 2026, kekhawatiran meluas dari soal foto ke soal tanpa sadar muncul sebagai tokoh dalam vlog atau livestream orang lain
  • Gen Z Jepang lebih peduli privasi dibanding generasi sebelumnya: 75,6% enggan menampilkan wajah di internet

Apa yang sebenarnya dirasakan orang Jepang saat kamu merekam mereka tanpa izin? Kami bertanya kepada 52 penonton Jepang dan mengumpulkan lebih dari 130 suara. Hasilnya: 92% orang yang kami tanya memilih "jujur, saya ingin mereka berhenti", dan 79% suara yang dikumpulkan benar-benar merasa tidak nyaman. Tapi kami juga menemukan hal lain: cukup tanyakan "boleh saya foto?", dan perasaan orang yang difoto langsung berubah, dari merasa terganggu menjadi senang hati. Jadi pesan artikel ini sederhana saja: tanyakan dulu.

92% penonton Jepang yang kami tanya memilih "jujur, saya ingin mereka berhenti." 79% dari 70 suara yang dikumpulkan benar-benar merasa tidak nyaman, respons negatif terkuat yang kami temukan dalam semua topik.

Tapi satu pertanyaan mengubah segalanya.


Panduan Cepat

Situasi Apa Kata Orang Jepang
🟢 Disambut Kamu bertanya sebelum memotret (bahkan hanya gestur) "Saat seseorang bertanya 'boleh saya foto?', saya justru merasa senang." Bahasa Jepang yang belum lancar atau gestur sederhana menunjuk kamera sudah cukup. Banyak orang akan tersenyum, berpose, dan menikmati momen bersamamu.
🟡 Kurang nyaman Kamu memotret tanpa bertanya, tapi dari jauh "Saya tahu mereka menganggapnya eksotis, tapi tetap terasa aneh." Banyak orang memahami rasa penasaran turis tapi berharap kamu menyapa mereka dulu sebagai sesama manusia.
🔴 Sangat terganggu Kamu merekam terus-menerus untuk vlog atau livestream "Saya pergi ke supermarket dan kemudian menemukan diri saya di Instagram seseorang tanpa blur sama sekali." Terekam dalam video (terutama tanpa blur) terasa sangat berbeda dari sekadar difoto satu kali.

Satu hal yang perlu diingat: Jepang memiliki konsep yang disebut shōzōken (肖像権), yaitu hak atas gambar diri sendiri. Kamu tidak perlu memahami detail hukumnya. Cukup tahu bahwa mengarahkan kamera ke seseorang tanpa menyapa mereka dulu bisa membuat mereka merasa ada sesuatu yang diambil tanpa persetujuan. Cukup mengangguk, tersenyum, atau memberi isyarat "boleh saya foto?", dan perasaan orang itu sudah berbeda meski kameranya sama.


Bagaimana Artikel Ini Terbentuk

Artikel ini berawal dari hal yang berulang kali kami lihat di kanal YouTube kami, jauh sebelum ada rencana riset.

Saat kami mengunggah video tentang etika fotografi, ada hal yang tak kami duga. Penonton Jepang menjawab pertanyaan kami sambil menceritakan pengalaman mereka sendiri. Ada siswi SMA yang mengenakan kimono saat study tour dan difoto oleh 9 dari 10 turis yang lewat. Ada perempuan yang pulang belanja dari supermarket lalu mendapati wajahnya di Instagram orang yang tidak dikenalnya. Ada pula pekerja jasa yang direkam setiap hari dan merasa tidak bisa menolak.

Angkanya pun sejalan dengan komentar-komentar itu. Lewat video, kami mengajukan pertanyaan sederhana: "Bagaimana kalau orang tak dikenal tiba-tiba mengarahkan kamera ke kamu?", dengan dua pilihan: "tidak keberatan" dan "jujur, saya ingin mereka berhenti." Dari 52 orang Jepang yang kami tanya, 92% memilih "jujur, saya ingin mereka berhenti." Hanya 8% yang bilang tidak keberatan.

Dan suara-suara yang kami kumpulkan menceritakan hal yang sama dari sudut pandang berbeda. Dari 70 suara orang Jepang tentang difoto tanpa izin, 79% benar-benar merasa tidak nyaman. Ini respons negatif terkuat dari seluruh 21 topik yang pernah kami teliti, lebih kuat daripada soal tip, menyerobot antrean, atau etika memakai sumpit.

Tapi yang membuat kami ingin menggali lebih jauh justru yang 1% (satu-satunya suara positif), karena orang itu berkata: "Cukup tanya dulu, biasanya kami akan bilang boleh."

Jadi kami memperluas riset dan mengumpulkan total lebih dari 130 suara: 70 suara awal tentang fotografi tanpa izin, ditambah suara-suara khusus tentang pengalaman "tanya dulu", tentang direkam untuk vlog dan livestream, dan tentang perbedaan generasi. Kami juga memasukkan data survei dari NTT Docomo Mobile Society Research Institute dan SHIBUYA109 Lab.

Catatan: Ini bukan survei statistik. Kami mengumpulkan apa yang ditulis orang Jepang dengan kata-kata mereka sendiri, dalam bahasa Jepang, di platform publik. Ada suara yang marah. Ada yang pengertian. Ada yang keduanya sekaligus, seperti siswi study tour yang merasa terkejut dan senang dalam satu momen yang sama. Perasaan campur aduk seperti itulah yang ingin kami tunjukkan.


Suhu Emosi: 79% Terganggu

Dari 70 suara orang Jepang tentang difoto tanpa izin:

Tidak keberatan
1%
Memahami tapi kurang nyaman
20%
Benar-benar terganggu
79%

Sebagai perbandingan: topik paling kontroversial yang pernah kami bahas, kursi prioritas di kereta, membagi opini Jepang sekitar 60/15/25. Etika penggunaan sumpit batang hijaunya sekitar 92%. Hanya di topik inilah batang merah jauh lebih panjang daripada batang lainnya.

Suara-suara ini mungkin berat untuk didengar, tapi penting untuk disimak.

Kenyataan Sehari-hari

Bagi orang yang mengenakan pakaian tradisional, baik pekerja budaya seperti para geiko dan maiko yang tinggal dan bekerja di distrik geisha Gion di Kyoto, maupun turis yang menikmati pengalaman sewa kimono, difoto tanpa persetujuan adalah hal rutin, bukan langka.

浅草で着物着て歩いてたら、外国人にいきなりカメラ向けられた。声もかけずに。モデルじゃないんだけど… Saya sedang berjalan di Asakusa mengenakan kimono, dan seorang turis tiba-tiba mengarahkan kamera ke saya tanpa berkata apa-apa. Saya bukan model...

観光地にいくと、結構な頻度で外国人がストーカーの如くずっとついてまわって写真とってくる Di tempat wisata, turis asing mengikuti terus seperti stalker, terus memotret.

京都で友達と着物着て観光してたら、ずーっと外国人の二人組についてこられて、写真撮られまくった。やめて!って言ってもぜんぜん撮るのやめなくて Saya sedang jalan-jalan di Kyoto bersama teman, keduanya pakai kimono, lalu dua orang asing terus mengikuti kami sambil memotret. Saya bilang "berhenti!" tapi mereka sama sekali tidak berhenti.

Satu perasaan disebut berulang kali: rasanya seperti dijadikan tontonan.

外国人は日本に来て日本人勝手に撮るのも動物園行って動物撮るのも同じ感覚なのか見下されてる気分 Orang asing datang ke Jepang dan memotret orang Jepang tanpa izin — apakah rasanya sama seperti memotret binatang di kebun binatang? Rasanya seperti direndahkan.

Anak-anak dan Sekolah

Banyak suara khawatir soal anak-anak yang difoto orang tak dikenal.

大阪の都市部、外国人が凄く多いのよね。制服を着た小学校の子ども達が集団でいると、珍しいから、写真撮ろうとするんですわ Di pusat kota Osaka, turis sangat banyak. Saat mereka melihat kelompok anak SD berseragam, mereka mencoba memotret karena "tidak biasa."

幼稚園で遠足に行くと、外国人が勝手に園児達の写真を撮るから困るらしい Saat anak TK pergi darmawisata, orang asing memotret anak-anak tanpa izin — ini benar-benar masalah.

Ada yang bercerita bahwa kejadian semasa kecil masih membuatnya waswas sampai sekarang:

小学生の頃ランドセルが珍しかったからか、学校の帰り道に写真を撮られました。もう小学生ではないですが、外国人が増えるので、浴衣とか着てたらまた撮られるのではないかと怖いです Waktu SD, seseorang memotret saya — mungkin karena ransel sekolah (ランドセル) saya terlihat unik. Sekarang saya bukan anak kecil lagi, tapi dengan semakin banyaknya turis, saya takut kalau pakai yukata akan difoto lagi.

Kejadian waktu kecil itu masih memengaruhi perasaannya terhadap kamera, bertahun-tahun kemudian.

Yang Terjadi Setelahnya: Tersebar di Media Sosial

Banyak orang bilang, yang paling buruk justru apa yang terjadi setelah difoto.

温泉地に住んでるので、ただスーパーに買い物に行くだけでも世界の誰かの写真か動画に映り込んで、SNSに知らず知らず晒されてると思う Saya tinggal di kota onsen. Hanya pergi ke supermarket saja, saya pikir saya sudah masuk foto atau video seseorang, terekspos di media sosial di suatu tempat di dunia tanpa saya sadari.

地元の朝市に野菜買いに行ったら、インスタに私と夫の姿晒されてた…モザイクなんてもちろん無し Saya pergi ke pasar pagi lokal untuk beli sayur, lalu menemukan foto saya dan suami diposting di Instagram — tanpa blur tentu saja.

インターネット上に上がってる写真や動画の中に、迷惑撮影で映り込んで勝手に晒された自分の顔、どれだけあるんだろ…? Dari semua foto dan video di internet, berapa banyak yang mengandung wajah saya — diambil tanpa persetujuan dan dipajang untuk seluruh dunia...?

Kecemasan ini ada dasarnya. Seseorang menceritakan kejadian yang benar-benar dialaminya:

外国人からの盗撮について。SNSにあげられてしまいました。報告をしているのですが動画が消えません。しかも動画が拡散されてしまっていて本当に困っています Soal direkam diam-diam oleh orang asing — sudah diunggah ke media sosial. Saya sudah melaporkan tapi videonya tidak dihapus. Lebih parah lagi, videonya sudah tersebar dan saya benar-benar bingung.

💡 Respons terkuat yang pernah kami temukan

Dari 21 topik dan ribuan suara orang Jepang, fotografi tanpa izin menghasilkan respons negatif paling intens yang pernah kami ukur. Soal berisik di kereta, bingung soal tip, atau cara memegang sumpit tidak memancing reaksi sekuat difoto tanpa ditanya. Sebabnya, ini menyangkut hal yang lebih dalam daripada etika: orang merasa dipandang sebagai objek foto, bukan sebagai manusia.

Deretan loker kayu di ruang kelas sekolah dasar Jepang, masing-masing berisi tas randoseru berwarna hitam, merah, atau merah muda, dengan meja dan kursi kecil di lantai kayu di depannya
Randoseru, tas punggung kaku yang dipakai anak-anak sekolah dasar Jepang, tersimpan di loker kelas. Ada yang mengenang pernah difoto dalam perjalanan pulang sekolah, mungkin karena tasnya terlihat tidak biasa.Photo by AHLN / CC BY 2.0 / Wikimedia Commons

Momen Saat Seseorang Bertanya

Angka 79% belum menceritakan semuanya.

Saat kami mengumpulkan suara khusus tentang apa yang terjadi ketika seseorang memang bertanya sebelum memotret, perasaannya justru berbalik.

写真撮ってもいいですか?って一声かけてくれる人はむしろ嬉しかったかな Saat seseorang bertanya "boleh saya foto?", saya justru merasa senang.

基本的には、恥ずかしながら両方OKです…こちらから聞いて一緒にワイワイ撮ります Sejujurnya, saya oke dengan keduanya — dan saat mereka bertanya, saya malah lebih aktif. Kami foto bersama dan senang-senang.

外国人なら気持ちは分かるので撮ります。着物が珍しいのかな… Kalau orang asing, saya paham perasaan mereka, jadi saya mau difoto. Mungkin mereka menganggap kimono unik ya...

Seseorang menceritakan perbedaan itu dengan jelas:

ちゃんと撮ってもいいですか?って聞いてきた方もいました。とても丁寧だったので、余計に盗撮してきた人に腹が立ちます Ada yang bertanya dengan sangat sopan "boleh saya foto?" Dan karena mereka begitu sopan, saya jadi semakin marah pada orang yang diam-diam memotret saya.

Yang perlu dilakukan ternyata sederhana sekali. Beberapa orang bilang usaha kecil pun sudah berarti:

「OK?」って聞いてくる人もいるけど Ada yang cuma tanya "OK?" — dan itu saja sudah membantu.

Seorang perempuan di festival kembang api menceritakan perasaannya saat seseorang bertanya dengan bahasa Jepang yang terbata-bata:

花火大会で妹と浴衣で行ったのですが、外国人の方にカタコトで「可愛いですね。一緒に写真撮ってください」と言われて写真を撮りました Di festival kembang api bersama adik, kami mengenakan yukata saat seorang turis asing berkata dengan bahasa Jepang terbata-bata: "Cantik sekali. Boleh foto bareng?" Jadilah kami foto bersama.

"カタコト" (katakoto) berarti bahasa Jepang yang terbata-bata. Tidak lancar pun tidak masalah. Karena ditanya lebih dulu, ia jadi senang berfoto bersama.

Kembali ke siswi study tour dari komentar di kanal YouTube kami, yang menjadi awal artikel ini. 9 dari 10 turis memotretnya tanpa berkata apa-apa. Tapi saat ia membuat tanda V untuk salah satu turis, "Orang itu tersenyum begitu bahagia sampai saya juga ikut senang."

Kameranya sama, kimononya sama, tempat wisatanya pun sama, tapi perasaannya sangat berbeda. Bedanya hanya satu: apakah orang itu lebih dulu memandangnya sebagai sesama manusia.

💡 Satu pertanyaan mengubah segalanya

Yang membedakan 79% dan 1% adalah menunjukkan bahwa kamu melihat orang itu. Tidak perlu aturan atau pelatihan budaya. Cukup menunjuk kamera sambil mengangguk, tersenyum, atau bertanya "OK?" dalam bahasa apa pun. Gestur itu mengatakan: Saya melihat kamu sebagai manusia, bukan objek. Di Jepang, tempat omoiyari (kepedulian terhadap orang lain) mengakar kuat, gestur kecil itu selalu mengubah suasana pertemuan.


Kekhawatiran Baru 2026: Menjadi Konten Orang Lain

Cerita yang kami dengar sudah berubah. Saat kami mulai mengumpulkan suara pada 2025, kebanyakan soal foto: ada yang mengarahkan kamera, menekan tombol, lalu selesai.

Pada 2026, yang lebih banyak diceritakan adalah direkam untuk vlog, livestream, atau konten, dan menurut mereka rasanya sangat berbeda.

入店時からスマホ片手に動画を撮影し続けていた外国人グループがいたんです。楽しむのはいいと思うんですけど、正直声がうるさくて、さっさと店を出てしまいました Ada sekelompok orang asing masuk restoran sambil merekam video dari ponsel sejak masuk pintu. Saya tidak keberatan mereka bersenang-senang, tapi jujur mereka berisik sekali sampai saya langsung pergi.

電車内の様子をハンディカメラで撮影している外国人がいたんです。ぐるっと端から端まで映していたんです Seorang asing di kereta merekam dengan kamera genggam, menyapu dari ujung gerbong ke ujung lainnya. (Perempuan usia 30-an)

Keduanya jauh berbeda. Foto hanya menyimpan satu momen, sedangkan vlog merekam dirimu, mulai dari wajah, reaksi, sampai keseharianmu, untuk ditonton penonton orang lain. Yang paling merasakannya adalah orang yang tinggal persis di sekitar objek wisata. Di pulau seni Naoshima, wisatawan menyusuri gang tempat warga menjalani hari seperti biasa, dan begitu ada yang mengangkat kamera, kehidupan sehari-hari itu bisa berubah menjadi konten orang lain.

外国人て一切ボカシ入れずに動画撮るし、観光地住まいだから本当に迷惑してる Orang asing merekam tanpa blur sama sekali. Saya tinggal di daerah wisata dan benar-benar terganggu.

知らない所で全世界に公開されてたら嫌すぎる Membayangkan disiarkan ke seluruh dunia tanpa tahu — rasanya tidak tertahankan.

YouTuberにモザイク無しで顔と名札も映像にばっちり映されてたから Seorang YouTuber merekam wajah dan name tag saya dengan jelas — tanpa blur sama sekali.

Ada yang bercerita bahwa hal ini sampai memengaruhi kesehariannya:

周りを勝手に映してネットにあげてる人多すぎじゃない?それが嫌でマスクしたい Terlalu banyak orang yang merekam orang di sekitar lalu mengunggahnya. Itulah kenapa saya ingin pakai masker.

Orang lain memperhatikan bahwa anak muda sudah mulai beradaptasi:

映されてる高校生らしき子達が顔映されないようにフード被ったり顔背けてるのが可哀想過ぎた Saya melihat anak-anak yang sepertinya siswa SMA menarik hoodie dan membuang muka agar tidak terekam. Sangat menyedihkan.

Dan mungkin suara yang paling mengena:

週末は街なかでも生配信してたりするから、何処で遭遇するかわからなくてマジ憂鬱 Akhir pekan, ada livestreamer di mana-mana di pusat kota. Tidak tahu kapan akan bertemu. Benar-benar bikin sedih.

Kini kecemasan itu terbawa ke mana-mana: kapan saja, di ruang publik mana pun, seseorang bisa menjadi tokoh dalam konten orang lain tanpa disadari.

💡 Dari foto menjadi konten

Saat orang Jepang membicarakan soal direkam, ada satu kata yang sering sekali muncul: 晒される (sarasu), artinya dipajang di depan umum. Mereka memilih kata ini alih-alih "difoto" atau "direkam". Ketika foto diam berganti menjadi video yang merekam terus-menerus, masalahnya menjadi lebih besar dan juga berubah sifatnya. Foto hanya menyimpan satu momen, sedangkan vlog adalah cerita, dan orang yang direkam menjadi tokoh di dalamnya tanpa pernah setuju ikut main.

Gang sempit di kawasan permukiman di Pulau Naoshima, diapit rumah-rumah tua berdinding papan cedar hangus, plester putih, dan jendela kisi kayu, tanpa orang di jalan
Sebuah gang di kawasan permukiman Pulau Naoshima. Wisatawan di pulau seni ini berjalan melewati depan rumah warga yang sedang menjalani hari seperti biasa.Photo by 663highland / CC BY 2.5 / Wikimedia Commons

Bagaimana dengan Generasi Muda?

Banyak orang mengira anak muda Jepang (generasi Instagram dan TikTok) tidak terlalu peduli soal direkam. Hasil survei justru menunjukkan sebaliknya.

SHIBUYA109 Lab (2025) menemukan bahwa 75,6% Gen Z Jepang merasa enggan memposting foto yang menampilkan wajah atau tubuh mereka di internet, dan mereka punya berbagai cara agar wajah tak terlihat: selfie lewat cermin (56,9%), foto hanya tampak belakang atau samping (43,6%), memegang ponsel menutupi wajah (43,3%).

Survei terpisah oleh Z-SOZOKEN (2025) menemukan bahwa 52% Gen Z akan berhenti dari media sosial jika menampilkan wajah menjadi syarat wajib.

Dan NTT Docomo Mobile Society Research Institute menemukan hasil yang menarik: anak muda di perkotaan (63% khawatir soal perekaman tanpa izin) sebenarnya lebih khawatir dibanding lansia di area yang sama (59%).

Hasil ini mungkin terdengar aneh, tapi akan masuk akal kalau kita mendengar cerita generasi muda:

高校1年生の女です。よく観光地とか、遊びに行った時に外国人の方によく盗撮されるんですけどなんか意味とかってあるんですか? Saya siswi kelas 10. Saat pergi ke tempat wisata, saya sering diam-diam difoto oleh orang asing. Apakah ada alasannya?

高2女子です。外国人の方に「写真写って貰っても良いですか?」と言われたので撮ってもらいましたが、後から不安になりました Saya siswi kelas 11. Seorang turis asing bertanya dengan bahasa Jepang terbata-bata "boleh foto bareng?" jadi saya setuju. Tapi setelahnya saya merasa cemas.

Suara kedua patut direnungkan. Meski orang itu sudah bertanya dengan sopan, setelahnya ia tetap cemas foto itu akan ke mana dan siapa yang akan melihatnya. Generasi ini paham bahwa apa pun yang sudah masuk internet bisa bertahan sangat lama, hal yang mungkin belum terpikir oleh generasi sebelumnya.

Ada satu angka lagi yang memperjelas gambarannya: survei TesTee (2017) menemukan bahwa 55% perempuan muda memiliki aplikasi kamera senyap atau bersuara rendah, yang dipakai agar tidak mengganggu orang lain di tempat umum, bukan untuk memotret diam-diam. Generasi yang paling akrab dengan kamera ternyata juga yang paling memikirkan dampaknya bagi orang lain.

💡 Generasi yang paham

Tumbuh bersama kamera, Gen Z Jepang justru lebih peka terhadap kamera. Mereka paham bahwa foto yang diambil hari ini bisa tersimpan di internet untuk waktu lama, memakai aplikasi kamera senyap agar tidak mengganggu orang lain, dan menyembunyikan wajah bahkan di profil sendiri. Jadi saat orang tak dikenal mengarahkan kamera ke arah mereka, itu bukan hal sepele, karena mereka tahu betul apa yang bisa terjadi setelahnya.


Apa yang Bisa Kita Pelajari

Artikel ini berawal dari seorang siswi study tour berkimono dan sebuah kamera. Kesimpulannya bisa sesederhana ini: turis sebaiknya bertanya sebelum memotret. Itu memang benar, tapi suara-suara yang kami kumpulkan menunjukkan lebih dari itu.

Tidak semua orang Jepang keberatan difoto. Kelompok 20% yang netral memahami rasa penasaran turis, dan yang 1% tidak keberatan melihatnya sebagai pertukaran budaya. Bahkan di antara 79% yang merasa terganggu, banyak yang mengatakan sesuatu seperti: "Kalau mereka cuma tanya dulu, saya pasti bilang boleh."

Yang membuat perasaan itu berbeda adalah apakah kamu menyapa orang itu dulu sebelum memotret.

Masalah ini lebih dalam daripada tips etika biasa karena ada beberapa hal lain di baliknya, dan itulah sebabnya kami menceritakannya lewat suara orang Jepang di rubrik Voices:

  • Yang memotret dan yang difoto tidak setara. Orang yang memegang kamera punya pilihan. Orang yang direkam hampir tidak punya. Banyak suara menggambarkan ingin menolak tapi merasa tidak bisa, terutama pekerja jasa yang takut konfrontasi, seperti staf berkostum yang membagikan selebaran di kawasan seperti Akihabara, orang-orang yang sedang bekerja, bukan pajangan untuk difoto.

  • Risikonya kini berbeda. Pada 2026, satu foto bisa menjadi konten yang tersebar ke seluruh dunia, tersimpan di internet untuk waktu lama, dan bisa ditemukan siapa saja, dari atasan, tetangga, sampai orang yang tidak dikenal.

  • Generasi muda paham betul. Orang yang paling nyaman dengan teknologi justru paling tidak nyaman direkam orang tak dikenal. Kedengarannya bertentangan, tapi itu karena mereka tahu ke mana gambar itu bisa pergi.

Kembali ke suara pertama di artikel ini. Siswi study tour berkimono itu difoto 9 dari 10 turis tanpa izin. Ia bisa saja hanya menceritakan hal itu, tapi ia juga bercerita tentang seorang turis yang tersenyum begitu bahagia saat ia membuat tanda V, sampai ia sendiri ikut senang.

Artikel ini ingin menceritakan alasan di balik aturan "tanya dulu". Di Jepang, kalau kamera diarahkan begitu saja, orang merasa hanya dijadikan konten. Kalau diajak berfoto bersama, foto itu bisa menjadi kenangan bagi seseorang.

Untuk tips praktis tentang cara memotret dengan sopan di Jepang, termasuk di kuil, festival, dan di jalan, lihat panduan lengkap kami: Etika Foto di Tempat Wisata.

Untuk memahami nilai budaya kepedulian terhadap orang lain yang melatarbelakangi semua ini: Omoiyari: Benang Tak Terlihat dari Kepedulian Jepang.


Apakah Kamu Pernah Mengalami Ini?

Entah kamu wisatawan yang bingung harus bagaimana, atau pernah difoto tanpa dimintai izin, kami ingin mendengar ceritamu.

Voice Box →


Sumber

Data Survei

  • NTT Docomo Mobile Society Research Institute: Survey on Photography Manners (2023)

    • Usia 15-79, perbandingan perkotaan dan pedesaan
    • 63% anak muda perkotaan khawatir soal perekaman tanpa izin
    • Sumber
  • SHIBUYA109 Lab: Gen Z Social Media Behavior Report (2025)

    • 75,6% Gen Z enggan memposting foto yang menampilkan wajah
    • Selfie lewat cermin (56,9%), foto belakang/samping (43,6%), ponsel menutupi wajah (43,3%)
    • Sumber
  • Z-SOZOKEN: Gen Z SNS Usage Survey (2025)

  • TesTee: Young Women's Camera App Survey (2017)

    • 55% perempuan muda (10-20 tahun) memiliki aplikasi kamera senyap untuk menghindari mengganggu orang lain
    • Sumber (via PR Times)
  • Bengo4 (Lawyer Dot Com): Secret Photography Survey (2023)

    • 44% perempuan pernah mengalami atau menduga difoto diam-diam
    • 50,4% tidak mengambil tindakan
    • Sumber (via PR Times)

Suara Online

  • Situs tanya-jawab, forum, dan unggahan media sosial berbahasa Jepang yang terbuka untuk umum: opini langsung dari mereka yang mengalaminya tentang difoto tanpa izin, difoto saat mengenakan kimono, anak-anak yang difoto orang tak dikenal, diminta berfoto, kejadian di festival kembang api, video yang diunggah tanpa persetujuan, perekaman dan siaran langsung di ruang publik, YouTuber asing yang merekam di Jepang, serta fotografi jalanan dan hak potret di Jepang.

Media

Data Asli WMJS

  • Kanal YouTube (bahasa Jepang): video photo_without_permission, 3 komentar penonton, termasuk cerita siswi berkimono saat study tour (video ID: jPlJU5q-T-o, diunggah 2026-05-16)
  • Kanal YouTube (bahasa Jepang): polling photo_without_permission, 52 orang menjawab per 2026-05-27. "Tidak keberatan": 8%, "Jujur, saya ingin mereka berhenti": 92%
  • Kanal YouTube (bahasa Inggris): polling photo_without_permission, komentar yang disematkan mengutip hasil 79% (video ID: 6LRbbzC3y5w)
  • Kumpulan suara awal: 70 suara tentang difoto tanpa izin (dikumpulkan 2026-04-25)
  • Riset tambahan: lebih dari 60 suara tentang pengalaman ditanya lebih dulu, kekhawatiran soal vlog dan livestream, serta perbedaan antargenerasi (dikumpulkan 2026-05-28)

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform online telah diedit ringan agar lebih mudah dibaca (memperbaiki typo, memformat agar jelas). Makna dan maksud setiap komentar tidak berubah. Sumber asli ditautkan di atas.


Artikel ini tersedia dalam bahasa-bahasa yang mencakup 95%+ pengunjung ke Jepang (berdasarkan data JNTO 2025). Butuh bahasa lain? Beri tahu kami melalui Voice Box.

WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.

How well do you know Japan?

Based on 51,218+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

Punya pertanyaan lanjutan tentang topik ini? Kami akan menanyakannya kepada orang Jepang.

Voice Box →