Taman Ritsurin: Mahakarya yang Tak Masuk Daftar Taman Terkenal Jepang, karena Pemandangan Terbaiknya Muncul Saat Kamu Berjalan
Ritsurin Garden
Oleh Kei · Lahir dan besar di JepangKisah di Balik Tempat Ini
Jepang punya satu daftar terkenal yang berisi tiga taman. Kalau kamu bertanya taman mana yang paling hebat di negeri ini, jawabannya selalu tiga nama yang sama: Kenroku-en di Kanazawa, Koraku-en di Okayama, dan Kairaku-en di Mito, yang dikenal sebagai Tiga Taman Terindah Jepang. Ritsurin tidak termasuk di dalamnya.
Padahal, Ritsurin menyandang status tertinggi yang diberikan Jepang kepada sebuah taman, yaitu Special Place of Scenic Beauty (Tempat Keindahan Alam Istimewa), status yang sama persis dengan yang dimiliki ketiga taman itu. Ritsurin juga taman berstatus cagar budaya terluas di seluruh Jepang. Michelin Green Guide memberinya tiga bintang, peringkat tertinggi yang hanya diberikan kepada tempat yang "layak didatangi dengan perjalanan khusus." Para penulis perjalanan yang benar-benar datang sampai ke Shikoku biasanya pulang dengan sedikit rasa kesal atas nama taman ini, dan menyebutnya taman yang terabaikan. Jadi, kamu datang dengan satu pertanyaan kecil: bagaimana mungkin salah satu taman terindah di Jepang tidak masuk daftar taman terindah di Jepang?
Sebagian jawabannya sederhana saja, yaitu soal cara daftar itu disusun. Trio terkenal itu adalah pengelompokan populer dari zaman modern, bukan ketetapan resmi dari masa lalu. Isinya tiga taman milik para penguasa feodal yang termasyhur, di tiga wilayah yang saling berjauhan, yang dipilih sebagai daftar pendek yang praktis saat Jepang mulai memodernisasi diri, sedikit lebih dari seabad yang lalu. Tiga taman dipilih, dan Ritsurin, yang berada di pulau yang lebih kecil, kebetulan tidak termasuk. Tidak masuknya Ritsurin ke daftar itu sama sekali bukan penilaian atas keindahannya.
Jawaban yang lebih dalam ada di taman itu sendiri, dan justru itulah alasan untuk datang. Tiga taman terkenal itu bisa kamu beri peringkat karena bisa kamu bayangkan: masing-masing punya satu pemandangan khas, satu kartu pos yang sudah cukup mewakili seluruh taman. Ritsurin tidak bisa diringkas menjadi satu gambar. Taman ini ditata selama lebih dari seratus tahun, rampung pada 1745, lalu menjadi tempat peristirahatan pribadi keluarga penguasa Matsudaira dari Takamatsu selama dua ratus dua puluh delapan tahun, melewati sebelas generasi, sebelum dibuka untuk umum pada 1875. Sepanjang waktu itu, seluruh taman dibangun di sekitar satu gagasan yang sampai sekarang masih dirangkum para pengelola taman dalam satu ungkapan singkat: ippo ikkei, "satu langkah, satu pemandangan." Begitu kamu melangkah, pemandangan di depanmu sudah berubah. Selangkah lagi, jembatan yang tadi terlihat sudah tertutup bukit. Ritsurin bukan taman untuk dipandangi sambil berdiri diam. Kamu berjalan masuk ke dalamnya, dan pemandangan di sekitarmu terus berganti selama kamu bergerak.
Karena itulah Ritsurin tidak bisa diwakili oleh satu kartu pos, dan karena itu pula taman ini tak pernah cocok dengan daftar yang disusun berdasarkan satu pemandangan terkenal. Hal terbaik dari taman ini adalah pengalaman berjalan menyusurinya.
Yang Akan Kamu Temui di Sana
Langkah 1: Turun di Stasiun yang Tepat
Sebelum sampai di gerbang Ritsurin, ada satu hal yang perlu kamu ingat: turunlah di stasiun yang tepat. Kedengarannya sepele. Tapi justru inilah penyebab paling umum kunjungan dimulai dengan kurang lancar, sampai-sampai warga setempat menulis artikel panjang khusus untuk mengingatkannya.
Yang sering menjebak adalah stasiun bernama Ritsurin, nama yang memang terdengar masuk akal. Kereta Jalur JR Kōtoku berhenti di sana, dan wajar kalau wisatawan mengira stasiun bernama Ritsurin pasti ada tepat di depan Taman Ritsurin. Ternyata tidak: dari stasiun itu kamu masih harus berjalan sekitar dua puluh menit, melewati jalan-jalan yang sama sekali tidak memberi petunjuk ke arah taman. Dua stasiun yang sebenarnya kamu cari adalah stasiun di dekatnya. Di jalur kereta lokal Kotoden (Jalur Kotohira), Stasiun Ritsurin-kōen berjarak sekitar sepuluh menit jalan kaki dari Gerbang Timur (East Gate), gerbang utama taman. Di Jalur JR Kōtoku, Stasiun Ritsurin-kōen-Kitaguchi hanya sekitar tiga menit dari Gerbang Utara (North Gate). Kalau turun di salah satu stasiun ini, kamu hampir langsung masuk ke taman begitu keluar dari kereta. Memang begitulah cara terbaik memulai kunjungan ke tempat seperti ini: santai, dengan kerikil yang sudah berderak di bawah kakimu.
Pilih gerbang yang sesuai dengan stasiunmu. Gerbang Timur adalah pintu masuk utama: para pemandu sukarelawan berkumpul di sini, tempat parkir dan lokernya paling besar, dan hanya gerbang ini yang buka saat iluminasi malam. Gerbang Utara lebih kecil dan lebih tenang. Keduanya sama-sama awal yang baik. Yang penting, kamu memulai dari taman, bukan dari tempat yang satu kilometer jauhnya sambil bertanya-tanya apakah kamu salah membaca peta.
Langkah 2: Berjalan Masuk ke Dalam Lukisan
Setelah masuk, ikuti jalan setapak menuju Taman Selatan (South Garden), bagian selatan yang lebih tua dan ditata para penguasa pada zaman Edo, lalu naiki bukit kecil bernama Hirai-hō. Bukit ini sengaja ditinggikan dan dibentuk agar mengingatkan pada siluet Gunung Fuji. Dari puncaknya terlihat pemandangan yang paling mewakili Ritsurin: jembatan Engetsu-kyō yang melengkung di atas air gelap Kolam Selatan (South Pond) seperti bulan separuh, rumah teh Kikugetsu-tei yang rendah di tepi seberang, dan di belakang semuanya, lereng hijau Gunung Shiun (Mt. Shiun) yang menjulang ke langit.

Perhatikan gunung itu baik-baik, karena gunung ini punya peran penting. Gunung Shiun sebenarnya berada di luar taman, tepat di balik batas baratnya, tetapi seluruh taman ditata agar gunung itu masuk ke dalam bingkai pemandangan. Teknik ini disebut shakkei, "pemandangan pinjaman": seni merancang taman dengan sengaja agar gunung yang bukan bagian dari taman ikut menjadi bagian dari gambarnya. Di Hirai-hō, "peminjaman" ini begitu menyatu sampai kamu hampir tidak bisa menemukan batas antara taman buatan manusia dan lereng gunung yang alami. Kolam, pohon pinus, jembatan, dan gunung tampak seperti satu lukisan utuh. Artinya, tiga abad yang lalu ada seseorang yang berdiri kira-kira di tempatmu berdiri sekarang dan menata sebuah gunung ke dalam pemandangan.
Sekarang turunlah, dan perhatikan bagaimana pemandangan berubah. Jembatan hilang di balik bukit. Sebatang pinus yang tadi tidak kamu perhatikan tiba-tiba tampak di depan. Rumah teh terlihat lagi dari sudut baru, dalam bingkai yang berbeda. Inilah ippo ikkei yang kamu alami sendiri, dan ini juga menjelaskan kenapa orang suka berkumpul di titik pandang terbaik. Hirai-hō adalah tempat yang paling sering difoto di taman ini, dan antrean orang yang dengan sabar menunggu giliran mengambil foto klasik itu memang bagian dari pengalamannya. Seperti di titik pandang favorit mana pun, sedikit kesabaran dan bergeser ke samping setelah selesai memotret akan membuat puncak kecil itu tetap nyaman bagi semua orang. Sebagian besar orang yang ikut mengantre di sebelahmu adalah orang Jepang.
Langkah 3: Pohon-Pohon Pinus yang Tak Pernah Selesai
Begitu mulai memperhatikan pohon pinusnya, kamu akan susah berhenti. Ada sekitar seribu empat ratus pohon pinus di taman ini, dan kira-kira seribu di antaranya dibentuk dan dirawat sepenuhnya dengan tangan. Para tukang kebun memangkasnya helai demi helai daun jarum dan dahan demi dahan, lalu mewariskan pekerjaan itu dari generasi ke generasi, pohon demi pohon, selama sekitar tiga ratus tahun. Beberapa pohon pinus di sini bahkan sudah berumur lebih dari tiga abad. Tak satu pun yang berupa bonsai dalam pot. Semuanya pohon berukuran penuh, dibentuk langsung di tempatnya selama beberapa generasi.

Tiga pohon di antaranya cukup terkenal sampai punya nama sendiri. Pinus bangau dan kura-kura (crane-and-turtle pine) merentang di atas susunan batu berbentuk kura-kura, dengan dahan-dahan yang terangkat seperti bangau yang hendak terbang. Tahun demi tahun, tangan para tukang kebun menjaganya tetap dalam pose burung yang sebenarnya tidak pernah bergerak. Pinus kotak (box pine) dibentuk menjadi pagar hidup dari pinus yang panjang, rendah, dan ratanya luar biasa, begitu geometris sampai terlihat seperti dibangun, bukan tumbuh. Lalu ada Neagari Goyō-matsu, satu-satunya pinus berdaun lima di taman ini, yang awalnya berupa bonsai dalam pot hadiah dari shogun kesebelas kepada penguasa kesembilan Takamatsu pada 1833. Setelah ditanam di tanah, pohon ini tumbuh setinggi sekitar delapan meter, dengan akar yang menyembul dari tanah seperti tangan yang mengepal.
Di balik angka "1.400 pinus" ada hal yang mudah terlewat. Taman seperti Ritsurin bukan benda jadi yang dibuka pada 1745 lalu dibiarkan begitu saja sejak itu. Taman ini lebih mirip pekerjaan yang terus berjalan daripada sebuah monumen: tangan-tangan manusia yang membuatnya, dan masih terus membuatnya, setiap hari. Pemangkasan tidak pernah selesai. Begitu sebuah dahan selesai dibentuk, dahan itu mulai tumbuh lagi, sehingga pekerjaan terus berlanjut dan diwariskan dari satu tukang kebun ke tukang kebun berikutnya. Para penguasa sudah lama tiada, daftar tiga taman itu sudah disusun tanpa Ritsurin, dan selama itu semua pohon pinus tetap dirawat. Taman yang dibuat untuk dijelajahi dengan berjalan kaki memang harus terus dirapikan lebih cepat daripada tanamannya tumbuh liar. Taman di sekelilingmu ini masih terus dibentuk sampai hari ini.
Langkah 4: Sejenak Hening di Tepi Kolam
Setelah berjalan sejauh itu, ada dua cara untuk beristirahat sejenak. Banyak wisatawan kehabisan waktu sehingga tidak sempat mencoba keduanya, lalu menyesal. Kalau kamu hanya punya setengah jam, gunakan waktu itu untuk salah satunya.
Cara yang tenang adalah mampir ke Kikugetsu-tei, rumah teh kayu kecil yang sudah berdiri di tepi Kolam Selatan sejak akhir abad ketujuh belas. Namanya diambil dari sepenggal syair Tiongkok kuno: cidukkan airnya, dan rembulan pun ada dalam genggamanmu. Kamu bisa duduk di atas tatami, menggeser pintu kertasnya, dan menikmati semangkuk teh hijau kocok sambil memandangi kolam yang tenang di depanmu, sementara ikan-ikan koi berenang perlahan di bawah beranda. Kamu tidak perlu tahu tata krama apa pun atau duduk bersimpuh secara formal. Ini hanya waktu istirahat yang santai, bukan upacara. Kalau jadi penasaran, lain kali kamu bisa mengenal lebih jauh dunia upacara minum teh Jepang yang tenang.
Cara yang kedua adalah naik wasen, perahu kayu beralas datar yang didorong dengan galah oleh tukang perahu sambil bercerita, mengelilingi Kolam Selatan dalam waktu sekitar tiga puluh menit. Dari atas air, taman terlihat dari sisi yang sama sekali berbeda: bukit-bukit yang tadi kamu naiki kini menjulang di atasmu, jembatan melintas di atas kepala, dan gunung "pinjaman" itu terpantul di permukaan kolam. Perahunya kecil, hanya muat beberapa penumpang sekali jalan, dan cukup populer sehingga sebaiknya kamu memesan lebih dulu.
Pilih yang mana pun, datanglah pagi hari kalau memungkinkan. Ritsurin buka sekitar matahari terbit, dan selama satu atau dua jam pertama taman ini hampir sepi: kabut masih naik dari permukaan kolam, burung-burung berkicau riuh, dan cahaya pagi yang rendah dan keemasan menyinari pohon-pohon pinus yang dibentuk dengan tangan. Pengunjung biasanya mulai berdatangan sekitar pukul sepuluh. Orang yang datang pagi hampir tidak pernah menyesal. Sebaliknya, orang yang datang tengah hari di musim panas, saat udara panas dan naungan tipis, kadang menyesal.
Langkah 5: Berjalan Keluar Menuju Laut
Dalam perjalanan keluar, mampirlah ke Taman Utara (North Garden), dan suasananya langsung berbeda. Taman Selatan adalah dunia yang padat dan tertata rapi milik para penguasa zaman Edo, sedangkan bagian utara ditata ulang pada masa yang lebih modern menjadi lebih santai dan terbuka: kolam-kolam yang luas, aturan yang lebih sedikit, dan ruang yang lega. Bagian ini jadi tempat yang pas untuk bersantai setelah padatnya Taman Selatan, sebelum kamu sampai di gerbang.
Lalu kamu kembali ke jalan biasa di Takamatsu, dan kota ini pun layak kamu lihat sekali lagi. Kebanyakan pelancong hanya mengenal Takamatsu sebagai tempat pindah ke kapal feri: pelabuhan Takamatsu adalah pintu gerbang menuju pulau-pulau seni di Laut Pedalaman Seto, dan banyak orang menganggap kotanya sekadar tempat lewat sebelum naik kapal. Ada urutan yang lebih baik: habiskan jam-jam pertama pagi yang tenang di taman, saat taman sedang indah-indahnya, lalu pergi ke pulau pada sore hari. Daratan pun punya mahakaryanya sendiri, dan kebetulan itu adalah taman seorang daimyo yang terlupakan dari daftar terkenal. Hal ini juga mengingatkan kita pada sudut-sudut Jepang yang tenang, tempat pelancong yang mau singgah disambut hangat.
Kamu mungkin tidak sempat melihat setiap kolam atau menaiki setiap bukit, dan itu tidak apa-apa. Kamu sudah berjalan masuk ke taman yang tidak bisa diringkas menjadi satu gambar, dan selama satu atau dua jam, pemandangan di sekitarmu berubah di setiap langkah. Begitulah Ritsurin. Seluruh taman ini adalah satu perjalanan berjalan kaki, dari awal sampai akhir.
Hal yang Perlu Diketahui
Jam buka dan tiket masuk. Taman Ritsurin buka setiap hari sepanjang tahun (hanya tutup jika ada peringatan badai untuk wilayah Takamatsu). Taman buka kira-kira dari matahari terbit sampai terbenam, jadi jam bukanya bergeser mengikuti musim: paling pagi pukul 5:30 di puncak musim panas dan sekitar pukul 7:00 di musim dingin, lalu tutup antara pukul 17:00 dan 19:00. Tiket masuk ¥500 untuk dewasa dan ¥170 untuk anak-anak; anak usia prasekolah gratis, dan semua orang bisa masuk gratis pada 1 Januari dan 16 Maret, hari jadi pembukaan taman. (Tiket tahunan untuk satu orang seharga ¥3.180.) Perlu diingat, tarifnya naik pada pertengahan 2025, dan beberapa situs lama masih mencantumkan harga sebelumnya. Terakhir diverifikasi: 2026-06. Pastikan jam buka dan tarif terbaru di situs resmi Taman Ritsurin.
Perahu dan rumah teh dikenai biaya tambahan. Naik perahu wasen di Kolam Selatan seharga ¥850 untuk dewasa dan ¥420 untuk anak-anak, lamanya sekitar tiga puluh menit, hanya memuat enam penumpang sekali jalan, dan tidak untuk anak di bawah tiga tahun. Reservasi (mulai tanggal 1 bulan sebelumnya sampai sehari sebelumnya) sangat dianjurkan; ada juga tiket untuk hari yang sama dalam jumlah terbatas yang dijual mulai pagi. Semangkuk matcha di rumah teh Kikugetsu-tei seharga ¥800 (atau ¥600 untuk sencha), disajikan bersama kue manis, kira-kira pukul 9:00–16:30. Keduanya terpisah dari tiket masuk taman. Terakhir diverifikasi: 2026-06.
Cara ke sana, dan soal salah stasiun. Dari pulau utama, Takamatsu bisa dicapai dengan JR Marine Liner, yang melintasi Jembatan Besar Seto (Great Seto Bridge) dari Okayama dalam sekitar 55 menit; dari Tokyo atau Osaka, naik Shinkansen ke Okayama lalu pindah kereta di sana. Setibanya di Takamatsu, jangan turun di Stasiun JR "Ritsurin", karena dari sana kamu masih harus berjalan 20 menit ke taman. Turunlah di Stasiun Ritsurin-kōen milik Kotoden (sekitar 10 menit jalan kaki ke Gerbang Timur) atau Stasiun JR Ritsurin-kōen-Kitaguchi (sekitar 3 menit ke Gerbang Utara). Dari Stasiun JR Takamatsu, taman bisa dicapai sekitar 7 menit dengan taksi, atau naik bus sampai halte "Ritsurin-kōen-mae". (Soal tiket terusan, kartu IC, dan cara jaringan kereta Jepang saling terhubung, lihat cara berkeliling Jepang.)
Berapa lama sebaiknya di sana. Tidak ada satu jawaban yang pasti, itulah sebabnya saran di internet berkisar dari satu jam sampai dua hari. Jalan cepat melewati tempat-tempat utama butuh sekitar satu jam; kunjungan santai ke Taman Selatan, pohon-pohon pinus, dan Hirai-hō butuh hampir dua jam; tambahkan naik perahu, semangkuk teh, dan museum-museumnya, dan setengah harimu akan terisi dengan nyaman. Taman ini dibuat untuk dijelajahi dengan santai, bukan dengan terburu-buru, jadi kalau bisa, sediakan waktu lebih lama.
Pulau-pulau seni. Pelabuhan Takamatsu adalah pusat utama kapal feri ke Laut Pedalaman Seto: Naoshima (sekitar 50 menit dengan feri), Shōdoshima, Megijima, dan lainnya. Rencana yang pas adalah taman di pagi hari, lalu pulau di sore hari. Jadwal dan tarif feri berbeda menurut rute dan musim, jadi cek operator feri menjelang perjalananmu.
Musim dan iluminasi. Ritsurin bisa dinikmati sepanjang tahun, tetapi ada masa-masa terbaiknya: bunga plum lalu sakura di musim semi (dengan iluminasi malam khusus selama sekitar sepuluh malam, biasanya akhir Maret sampai awal April, yang menerangi sekitar 300 pohon sakura), daun hijau segar dan bunga iris di awal musim panas, serta warna-warni musim gugur di akhir November, saat pohon maple diterangi selama kira-kira sepuluh malam lagi. Pada 2025, taman ini merayakan 150 tahun dibuka untuk umum. Tanggal iluminasi berubah setiap tahun, jadi cek situs resminya sebelum menyusun rencana.
Beberapa catatan praktis. Jalan setapaknya berlapis kerikil halus, jadi koper beroda sebaiknya dititipkan di loker koin di gerbang; kursi roda dan kereta dorong bayi bisa dipinjam gratis di loket tiket. Pemandu sukarelawan gratis berkumpul di Gerbang Timur (tur rutin yang ramah bagi penutur bahasa Inggris berangkat setiap Minggu pagi), dan pemandu pribadi, termasuk yang berbahasa Inggris, bisa dipesan lebih dulu.
Situs resmi: ritsuringarden.com
Jika Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Kamu turun di Stasiun JR Ritsurin dan taman tidak kelihatan di mana pun. Ini sering sekali terjadi, karena nama stasiunnya memang menyesatkan. Tamannya ada sekitar satu kilometer ke arah selatan. Daripada berputar-putar, cara tercepat adalah mengikuti papan petunjuk ke Gerbang Timur, atau naik taksi untuk jarak yang pendek itu. Lain kali, turunlah di Stasiun Ritsurin-kōen milik Kotoden atau Stasiun JR Ritsurin-kōen-Kitaguchi supaya bisa langsung sampai di gerbang.
Siang hari, panas, dan ramai. Ritsurin tidak pernah sepadat Kyoto, tetapi tengah hari di musim panas adalah waktu yang paling kurang nyaman: matahari terik, naungan sedikit, dan rombongan paling banyak. Kalau jadwalmu tidak memungkinkan waktu lain, langsung saja ke jalan setapak Taman Selatan yang teduh oleh pepohonan dan ke Kikugetsu-tei yang sejuk, lalu naik ke Hirai-hō saat ada awan yang menutupi matahari. Kalau kamu bisa kembali pada jam buka di hari lain, taman di pagi hari terasa sangat berbeda dan jauh lebih tenang.
Kamu khawatir taman ini tidak layak didatangi jauh-jauh ke Takamatsu. Hampir tidak ada orang yang benar-benar berjalan menyusuri taman ini lalu pulang dengan pikiran seperti itu. Penyesalan yang kamu baca di internet hampir selalu soal bagaimana orang berkunjung, bukan soal perlu atau tidaknya datang: terburu-buru karena mengejar feri, tiba saat siang yang panas, atau kehabisan waktu untuk naik perahu atau minum teh. Kalau kamu meluangkan satu pagi yang santai untuk taman ini, perjalananmu akan terbayar. Kekecewaan yang ada semuanya bisa dihindari.
Kamu hanya punya satu jam. Itu sebenarnya cukup untuk bagian terpentingnya. Masuk dari Gerbang Timur, langsung ke Taman Selatan, naiki Hirai-hō untuk melihat pemandangan khas ke arah jembatan dan kolam, lalu nikmati ippo ikkei sepanjang jalan keluar. Kamu memang melewatkan perahu dan Taman Utara, tetapi kamu sudah menyusuri bagian yang paling penting.
Kamu tidak berhasil memesan perahu. Perahu wasen cepat penuh, terutama di musim ramai dan akhir pekan yang cerah. Tiket untuk hari yang sama dijual dalam jumlah terbatas mulai pagi di gerbang, jadi tanyakan begitu kamu tiba. Kalau sudah habis, kamu tetap bisa duduk di rumah teh Kikugetsu-tei, yang biasanya tidak perlu reservasi, dan menikmati kolam yang sama dengan tenang dari ruang tatami.
Malam hari taman terang benderang dan kamu tidak menyangkanya. Selama iluminasi musim semi dan musim gugur, taman dibuka lagi setelah gelap, dan pintu masuknya hanya lewat Gerbang Timur. Pengalamannya berharga dan cukup berbeda, dengan pohon pinus dan jembatan yang diterangi cahaya berlatar air yang hitam. Namun tiketnya terpisah dari kunjungan siang hari, dan acaranya hanya berlangsung sekitar sepuluh malam setiap musim, jadi cek tanggalnya dulu, jangan hanya menebak.
Sources:
- Ritsurin Garden: Official Site (operator), Visitor Information: Open every day, year-round; opening hours that shift by month roughly from sunrise to sunset; admission ¥500 adult / ¥170 child, free on January 1 and the March 16 opening anniversary, annual pass ¥3,180; the East and North gates; the Michelin three-star rating
- Ritsurin Garden: Official Notice of Fee Revision, June 1 2025: The current admission, wasen boat (¥850 adult / ¥420 child) and Kikugetsu-tei tea (matcha ¥800 / sencha ¥600) prices in effect after the 2025 revision
- Kagawa Prefecture Tourism Association (Udon-ken Tabi-net): Ritsurin Garden, "Special": Completed over more than 100 years, finished in 1745; used by the Matsudaira clan as a private retreat for 228 years across 11 generations before opening to the public in 1875; the largest Cultural Property Garden in Japan; about 75 hectares total with an roughly 16-hectare strolling garden; six ponds and thirteen landscaped hills; about 1,400 pines, of which roughly 1,000 are kept hand-pruned; the Michelin Green Guide Japan three-star ("worth a special journey") rating; ippo ikkei, "one step, one view"
- Kagawa Prefecture Tourism Association: Ritsurin Garden, "Viewing/Highlights": Hirai-hō, a hill shaped to resemble Mt. Fuji and the garden's finest viewpoint; Engetsu-kyō Bridge; the Kikugetsu-tei teahouse on the South Pond; Mt. Shiun as the backdrop; the wasen boat ride; the Neagari Goyō-matsu pine grown from a bonsai given by the eleventh shogun in 1833
- Agency for Cultural Affairs: National Cultural Properties Database, Ritsurin-kōen: Designation as a Place of Scenic Beauty in 1922 and elevation to Special Place of Scenic Beauty on March 31, 1953, under the criterion for parks and gardens
- JNTO (Japan National Tourism Organization): Autumn Beauty: Ritsurin Garden: A "strolling-style daimyo garden" that took over 100 years to create and was completed in 1745; ippo ikkei as "every step, a different scene"; the autumn-colour illumination of roughly ten nights
- Takamatsu City Tourism (art-takamatsu.com): Access via the Marine Liner: The JR Marine Liner crossing the Great Seto Bridge from Okayama to Takamatsu in about 55 minutes, and Takamatsu as the gateway to the Seto Inland Sea art islands
- InsideJapan Tours: "The Incredible, Overlooked Beauty of Ritsurin Garden": The widely repeated framing that Ritsurin is often said to rival, or be overlooked beside, Japan's official Three Great Gardens
Kredit foto: Taman Ritsurin (foto utama dan gambar mini: jembatan lengkung dan Kolam Selatan di kaki Gunung Shiun), jalan setapak berkerikil di antara pohon pinus, dan pohon pinus yang dipangkas dengan tangan di kaki Gunung Shiun; semua foto oleh 663highland, CC BY 2.5, via Wikimedia Commons (dipotong dan diubah ukurannya).
WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.
Terima kasih. Setiap catatan dibaca langsung oleh manusia.
Suara nyata
Apakah tempat ini sepadan?
Pernah ke sini? Bagikan foto Anda.
Foto Anda bisa muncul di panduan ini — dengan nama dan tautan profil Anda.
Kirim fotoArtikel Terkait
Panduan lain di Shikoku
Naoshima: Pulau yang Hidup Kembali berkat Seni
Panduan jalan kaki di Naoshima, pulau seni Laut Pedalaman Seto: labu Kusama, Museum Seni Chichu di bawah tanah, dan rumah-rumah yang menjadi karya seni di desa.
Naoshima Island
Dōgo Onsen — Pemandian Berusia 3.000 Tahun yang Bisa Kamu Masuki, Bukan Sekadar Dilihat
Panduan audio Dōgo Onsen Matsuyama: rumah pemandian kayu berusia ~3.000 tahun, pusaka nasional yang masih bisa kamu masuki. Pilih pemandian & tiket Honkan, plus kisah Botchan dan Spirited Away di sekitarnya.
Dōgo Onsen (Matsuyama)
Kastel Kochi — Tempat Seluruh Kastel Bertahan, Bukan Hanya Menaranya
Panduan audio budaya untuk Kastel Kochi — satu-satunya kastel Jepang asli yang menara utama beserta istana penguasanya sama-sama bertahan, lengkap dengan pasar Minggu berusia 300 tahun, jam buka, biaya, dan cara berkunjung.
Kochi Castle




