Mengunjungi Hakone, Rute Keliling Gunung yang Berpusat pada Onsen
Hakone (Lake Ashinoko)
Oleh Kei · Lahir dan besar di JepangApakah Hakone layak dikunjungi? Menurut pendapat yang kami kumpulkan, sebagian besar bilang layak, tapi tergantung caranya. Dari 186 wisatawan internasional yang benar-benar pernah ke sana, yang dibobot menurut jumlah pembaca yang setuju dengan tiap pendapat, 59% bilang layak dan hanya 15% merasa kecewa, sementara penilaian wisatawan Jepang lebih positif lagi, hanya 5% yang kecewa. Hakone adalah rute keliling yang menyambung kereta gunung, kereta kabel, kereta gantung, dan perahu, dengan onsen sebagai pusatnya; Free Pass Odakyu dua hari dari Shinjuku sekitar ¥7.100, naik Romancecar dari Tokyo sekitar 90 menit, dan untuk mengelilingi seluruh putaran perlu waktu sehari penuh. Yang paling menentukan apakah Anda masuk kelompok 59% atau 15% adalah menginap semalam di ryokan, bukan terburu-buru pulang-pergi dalam sehari. Pendapat wisatawan mancanegara dan orang Jepang, termasuk satu jenis kekecewaan yang bisa dihindari, dibahas di bawah.
Makna Rute Keliling Hakone
Sebagian besar tempat wisata punya satu daya tarik utama, entah kuil, menara, atau satu pemandangan terkenal, dan sisanya hanyalah jalan menuju ke sana. Hakone berbeda. Di sini tidak ada satu tempat utama yang dituju, melainkan sebuah rute yang berputar. Anda naik gunung dengan kereta merah kecil yang maju lalu mundur bergantian karena lerengnya terlalu curam untuk didaki lurus. Lalu Anda pindah ke kereta kabel yang ditarik naik lereng dengan tali baja. Setelah itu Anda pindah lagi ke kereta gantung, kabin kaca yang terangkat dari punggung bukit dan melayang di atas lembah yang penuh uap. Anda naik perahu menyeberangi danau, lalu naik bus turun kembali ke titik awal. Justru berkelilingnya itulah inti perjalanan ini. Lalu di suatu tempat di sepanjang jalan, di akhir, di tengah, atau kapan pun Anda mau, Anda melepas pakaian dan berendam di air panas. Itulah tujuan seluruh perjalanan.
Mengapa seluruh kawasan ini berupa rute keliling? Jawabannya ada pada untuk apa orang sejak dulu datang ke Hakone. Jauh sebelum menjadi tempat liburan yang mudah dijangkau dari Tokyo, Hakone adalah tempat orang datang untuk berobat. Orang dulu menyebutnya toji, "pengobatan dengan air panas", yaitu menetap di dekat sumber air panas selama berhari-hari, berendam berulang kali, membiarkan tubuh pulih dan pikiran mengendur. Dalam pengertian lama ini, sumber air panas jarang dianggap sekadar hiburan; ia lebih mirip obat yang harus didatangi dari jauh, dan untuk itu orang menginap.
Dan orang memang datang jauh-jauh. Jalan besar Jepang kuno, yaitu Tokaido, mendaki lurus melewati pegunungan ini, dan hampir setiap orang yang berpindah antara Edo (Tokyo sekarang) dan wilayah barat melewati tempat ini. Hakone adalah ruas terberat dari jalan itu, dengan jajaran celah gunung curam yang menghadang seperti tembok, dan para penguasa pada masa itu memasang pos pemeriksaan di tepi danau untuk mengawasi siapa yang melintas. Setelah lelah mendaki, para pengelana melakukan hal yang masih dilakukan orang di sini sampai sekarang: berhenti dan berendam. Sumber-sumber air panas itu mula-mula dikenal sebagai Hakone Nanayu, "tujuh sumber air panas Hakone". Kini Hakone memiliki tujuh belas kawasan sumber air panas, dan jika digabung, jumlah tamu yang menginap di sini lebih banyak daripada di kawasan sumber air panas mana pun di Jepang.
Jadi, naik kereta kecil ke atas gunung adalah versi modern dari apa yang sudah dilakukan orang di sini selama berabad-abad: mendaki untuk sampai ke sumber air panas. Dengan cara pandang ini, Hakone akan terasa berbeda. Tempat ini bukan lagi daftar atraksi yang harus dikejar sebelum kereta terakhir, melainkan tempat untuk berkeliling pelan-pelan lalu beristirahat, seperti sejak dulu.
Menjelajahi Hakone Tahap demi Tahap
Langkah 1: Tiba di Gerbang Hakone
Sebagian besar pengunjung datang dari Tokyo, dan perjalanan ke sini saja sudah separuh kesenangannya. Dari Shinjuku, sebuah kereta ekspres khusus bernama Romancecar sampai ke pegunungan dalam waktu sedikit lebih dari satu jam untuk perjalanan tercepat, lalu berhenti di Hakone-Yumoto, stasiun gerbang Hakone. Di sini lereng gunung mengapit dari dua sisi dan sungai mengalir deras di samping peron.
Yumoto adalah kawasan sumber air panas tertua dari ketujuh belas kawasan itu; konon sumbernya pertama kali dibuka pada abad kedelapan, sekitar tahun 738. Semua rute naik gunung juga berawal dari sini. Begitu keluar stasiun, Anda akan melihat kota kecil yang sempit dan menanjak, terselip di lembah sungai: pemandian dengan tirai kain belah noren tergantung di pintunya, toko-toko yang menjual bakpau kukus dan kerajinan kayu bertatah yang menjadi ciri khas kawasan ini, dan, pada pagi yang dingin, samar-samar bau belerang serta uap yang melayang dari suatu tempat yang tak terlihat.
Banyak orang ingin langsung naik kereta berikutnya, dan itu boleh saja. Namun, kalau Anda meluangkan sedikit waktu di Yumoto sebelum berangkat, perjalanan akan terasa lebih lengkap. Di sinilah dulu pengobatan itu dimulai; di sini para pengelana di jalan kuno tiba dengan letih dan akhirnya bisa bersantai. Urusan praktis seperti tiket terusan mana yang perlu dibeli dan bagaimana kereta serta bus tersambung ada di bagian Hal yang Perlu Diketahui di bawah. Saat berdiri di peron, cukup ingat satu hal: Anda sudah sampai di kaki gunung, dan dari sini jalannya terus menanjak.
Langkah 2: Naik Gunung, Berganti Kendaraan di Tiap Tahap

Tahap pertama adalah yang paling indah. Kereta gunung Hakone Tozan, yang dibuka pada tahun 1919, adalah kereta gunung kecil yang harus melewati lereng terlalu curam untuk didaki lurus, jadi kereta ini tidak naik lurus. Di tiga titik dalam perjalanan naik, rel berakhir buntu; masinis dan kondektur berjalan menyusuri gerbong untuk bertukar tempat, lalu kereta berbalik arah dan mendaki ruas rel berikutnya yang lebih tinggi. Cara ini disebut switchback (jalur zig-zag), dan dengan cara ini jalur tersebut bisa menanjak delapan puluh meter untuk setiap seribu meter, tanjakan paling curam untuk kereta Jepang yang memakai roda dan rel biasa. Pada bulan Juni, tepi rel dipenuhi bunga hortensia, dan kereta yang merayap pelan berzig-zag ini termasuk kereta yang paling sering difoto di Jepang.
Di tengah perjalanan, kereta melewati Miyanoshita, desa yang berkembang menjadi resor pegunungan pada era Meiji di sekitar sebuah hotel bergaya Barat yang besar dan bersejarah. Suasana masa itu masih terasa: toko barang antik, nuansa Barat yang samar, dan kesan kota peristirahatan di bukit yang sudah menyambut tamu sejak lama sekali. Di Gora, dekat stasiun akhir jalur kereta, Anda pindah ke kereta kabel yang naik lebih dari dua ratus meter lagi dalam waktu sekitar sepuluh menit; gerbongnya berundak seperti anak tangga mengikuti lereng.
Kereta kabel berakhir di Sounzan, dan dari sini dimulai tahap yang paling tak biasa. Anda naik kereta gantung, kabin kaca yang terangkat dari punggung bukit ke udara terbuka, dan tanah di bawah kaki makin lama makin jauh. Sampai di sini Anda sudah empat kali berganti kendaraan, dan mungkin mulai merasa agak repot: harus menunggu dan menenteng tas dari peron ke peron. Tapi perhatikan: setiap kali berganti kendaraan, pemandangan pun berganti. Dari hijau lebat di Yumoto ke hutan di sekitar resor Gora, lalu punggung bukit gundul di Sounzan, dan kini, saat kabin menanjak, lereng gunung di depan berubah kelabu, gersang, dan mulai berasap. Tanpa terasa, Anda mungkin sudah berhenti menghitung stasiun dan mulai menikmati bentang alam di bawah yang terus menurun dan berubah.
Langkah 3: Lembah Beruap, Danau, dan Fuji yang Belum Tentu Terlihat

Saat kabin melewati puncak punggung bukit, warna hijau lenyap; lereng di bawah berubah kelabu seperti abu, bergaris kuning, dan uap menyembur dari ratusan retakan sekaligus. Inilah Owakudani, yang berarti "lembah mendidih besar", terbentuk sekitar tiga ribu tahun lalu ketika letusan gunung berapi menjebol salah satu sisi lerengnya. Gunung berapi ini masih aktif, dan kereta gantung melintas tepat di atas lembahnya.
Di atas, di bahu gunung pada ketinggian lebih dari seribu meter, orang-orang mengantre membeli telur hitam. Telur yang direbus di kolam panas di sini cangkangnya menghitam seperti arang karena mineral dalam air, dan menurut kepercayaan setempat, makan satu butir menambah umur tujuh tahun. Angka tujuh itu ada asal-usulnya: di dekat sana ada patung kecil Jizo yang dipercaya memanjangkan umur, dan tujuh sejak lama dianggap angka keberuntungan di Jepang; dari kedua hal itulah kepercayaan ini lahir. Telurnya dijual per kantong isi lima, masih hangat di tangan, dan kulit hitamnya mengelupas menempel di jari.
Karena lembah ini masih aktif, rencana tidak selalu berjalan mulus. Pada hari-hari berangin kencang, atau ketika gas vulkanik sedang tinggi, kereta gantung berhenti beroperasi, kadang berjam-jam, kadang seharian. Kalau mengalaminya, hari Anda tidak lantas sia-sia; itu tanda gunung berapi ini masih aktif, dan warga di sini tetap memilih hidup berdampingan dengannya. (Saat kereta gantung berhenti, sebagian besar titik di rute ini masih bisa dicapai dengan bus dan jalan raya, dan situs resmi mengumumkan status operasional setiap pagi.)
Kereta gantung berakhir di Togendai, di tepi Danau Ashinoko, danau di dalam kawah gunung berapi tua; airnya mengisi cekungan yang terbentuk ketika sebagian gunung runtuh sekitar tiga ribu tahun lalu. Dari sini perjalanan pindah dari udara ke air: Anda turun dari kereta gantung dan naik perahu, sering kali kapal berwarna cerah yang dihias seperti kapal layar kuno, lalu menyeberangi danau yang tenang ke tepi seberang.
Di tepi seberang itu, sebuah gerbang torii merah berdiri di dalam danau, kakinya terendam air. Itulah Torii Perdamaian milik Kuil Hakone; kuilnya sendiri berada di hutan cemara di atas tepian dan, menurut catatan kuil, didirikan pada tahun 757. Kuil ini punya legenda yang menjelaskan mengapa ada gerbang di tengah danau. Konon dulu ada naga berkepala sembilan yang tinggal di danau ini dan mengganggu warga di tepiannya, sampai seorang biksu bernama Mangan menaklukkannya dengan doa; naga itu tunduk, menyerah, lalu menjadi dewa pelindung danau dan sejak itu dipuja sebagai Kuzuryu, Naga Berkepala Sembilan. Setiap musim panas, kuil ini masih mengadakan festival untuk sang naga di danau. Menurut legenda itu, torii yang menjulang dari air menandai batas antara tepian tempat manusia tinggal dan danau yang dijaga sang naga. (Kalau ingin mampir ke kuil dan gerbang di tepi danau ini, sebaiknya baca dulu sopan santun sederhana saat mengunjungi kuil dan klenteng di Jepang.)
Dan kalau cuaca cerah, Gunung Fuji terlihat di seberang danau. Hanya kalau cuaca cerah. Yang jarang ditunjukkan kartu pos: sepanjang tahun Fuji lebih sering tertutup awan, terutama pada bulan-bulan hangat; peluang terbaik untuk melihatnya utuh adalah akhir musim gugur hingga musim dingin, saat udara dingin dan kering. Orang Jepang menyikapinya dengan santai. Bisa melihat Fuji dianggap sedikit keberuntungan, atau go-en, semacam takdir baik yang mempertemukan, bukan sesuatu yang pasti didapat. Kalau Fuji terlihat di seberang danau, hari itu dianggap hari beruntung. Kalau tidak, danau, torii, dan hutan cemaranya sudah cukup menjadi alasan untuk datang. Kalau Anda sangat ingin melihat Fuji dengan jelas, pelajari dulu kapan Fuji mudah terlihat dan kapan tertutup awan, serta kapan udara paling jernih sepanjang tahun.
Langkah 4: Berendam dan Beristirahat
Di sela perjalanan keliling ini, sempatkan berhenti untuk melakukan hal yang menjadi inti kawasan ini sejak awal: berendam di air panas.
Hakone punya banyak sumber air panas. Berbeda dengan Dogo Onsen di Matsuyama yang berpusat pada satu pemandian umum kuno, Hakone memiliki tujuh belas kawasan sumber air panas yang tersebar di seluruh pegunungan; ada yang airnya jernih, ada yang putih susu, ada yang samar beraroma mineral, dan setiap hari puluhan ribu ton air panas dipompa dari dalam tanah. Yumoto, Gora, Miyanoshita, Kowakidani: tiap kawasan punya airnya sendiri, dan salah satu kesenangan menginap toji zaman dulu adalah berendam berpindah-pindah di kawasan yang berbeda. Anda tidak perlu pandai memilih atau tahu bedanya; cukup berendam saja. Kalau Anda suka berendam berpindah-pindah seperti ini, Jepang punya jenis wisata onsen lain yang sama sekali berbeda: berjalan kaki dari pemandian ke pemandian pada malam hari di Kinosaki Onsen. Di sana seluruh kota dikelola seperti satu penginapan, dan Anda berjalan dari satu pemandian umum ke pemandian berikutnya dengan yukata katun, tanpa perlu naik kendaraan. Lebih jauh lagi, Beppu Onsen di Kyushu menawarkan pengalaman air panas yang lain lagi. Seluruh kotanya berdiri di atas tanah yang begitu panas sehingga setiap pagi uap mengepul dari jalanan, dan sebagian besar sumber air panasnya untuk dilihat, bukan untuk berendam.
Jika ini pertama kalinya Anda ke pemandian Jepang, ada beberapa sopan santun kecil, seperti membilas badan sebelum masuk dan tidak mencelupkan handuk kecil ke dalam air. Anggap saja ini bentuk tenggang rasa agar air yang dipakai bersama tetap bersih dan suasananya tenang. Kami punya artikel tersendiri tentang apa yang sebenarnya dipikirkan orang Jepang saat berendam, dan jika Anda bertato, sebaiknya baca dulu soal tato dan onsen di Jepang sebelum berangkat. Kalau masih ragu, tidak apa-apa; orang Jepang sendiri pun saat pertama kali juga bingung harus bagaimana.
Di sinilah pengalaman wisatawan sehari dan yang menginap mulai berbeda. Menginap di Hakone, biasanya di ryokan yang cara menyambut tamunya merupakan seni tersendiri dengan adat yang perlu diketahui, berarti mengikuti cara para pengelana toji dulu: berendam sore hari, tidur, lalu berendam lagi saat fajar. Berendam dua kali dengan tidur semalam di antaranya terasa jauh berbeda dari berendam buru-buru sebelum kereta terakhir. Esok paginya gunung itu masih di tempatnya, jadi malam itu Anda pun tak perlu terburu-buru.
Langkah 5: Kembali ke Titik Awal
Dari danau, Anda naik bus turun gunung kembali ke Hakone-Yumoto, dan satu putaran pun selesai. Rute keliling ini tidak terbentuk karena kebetulan geografis, tetapi memang sengaja dibangun: kereta, kereta kabel, kereta gantung, dan perahu tersambung lengkap pada tahun 1960 agar wisatawan bisa berkeliling penuh dan kembali tanpa melewati jalan yang sama.
Saat kembali ke kaki gunung, kemungkinan besar tidak semua sempat Anda lakukan. Mungkin kereta gantung berhenti karena angin dan Anda harus naik bus. Mungkin Fuji tertutup awan seharian. Mungkin antre telur hitam atau menunggu giliran foto di torii menghabiskan satu jam yang tadinya ingin Anda pakai di tempat lain. Hal seperti itu biasa terjadi di Hakone. Kelebihan rute keliling ini, perjalanan tetap menyenangkan walau ada satu tempat yang tidak sesuai rencana.
Yang Anda bawa pulang adalah bahu yang terasa ringan setelah seharian naik gunung pelan-pelan dan berendam di air panasnya. Perasaan yang sama juga dibawa pulang para pengelana dulu, setelah melintasi celah tersulit di jalan Tokaido, berhenti, dan berendam untuk melepas lelah. Anda berkeliling gunung, lalu beristirahat. Sejak dulu, berwisata ke Hakone memang intinya hanya itu.
Apa Kata Pengunjung tentang Hakone
Sebelum merencanakan perjalanan, ada baiknya mendengar orang yang sudah pernah ke sana. Kami mengumpulkan 186 pendapat wisatawan mancanegara yang pernah ke Hakone, dibobot menurut jumlah pembaca yang setuju dengan tiap pendapat. Beginilah hasilnya:
Mereka yang merasa layak berulang kali menyebut dua hal: waktu yang cukup dan waktu yang tepat. "Pemandangan dari ropeway, naik perahu menyusuri danau, Hakone Shrine, 100% sepadan dengan semua kerepotan untuk sampai ke sana," tulis seorang wisatawan. Kelompok kecil yang kecewa menceritakan satu kesalahan yang bisa dihindari: perjalanan sehari yang terburu-buru mengejar semua moda transportasi. "Rasanya seperti seharian penuh hanya pulang-pergi dan mengantre di berbagai moda transportasi," "sejauh ini hari yang paling mengecewakan," tulis seseorang. Cukup menginap semalam dan membeli satu tiket untuk seluruh rute, sebagian besar masalah itu sudah teratasi.
Wisatawan Jepang yang menulis ulasan tentang danau, lembah, dan pelayaran yang sama memberi penilaian yang lebih positif lagi:
Yang mereka sukai adalah rute kelilingnya secara utuh, bukan satu tempat tertentu. "Dengan tiket terusan tiga hari Odakyu, kami naik ropeway dan kapal bajak laut berulang kali," tulis seseorang. "Itu tiga hari terbaik. Saya ingin pergi lagi." Sebagian kecil yang kecewa hampir tidak mengeluhkan rutenya, melainkan langit mendung di atas danau. Seorang pengunjung yang terjebak kabut menulis: "Kami tak bisa melihat Gunung Fuji, tapi kapal bajak laut yang muncul dari balik kabut itu terasa magis." Fuji yang tertutup awan juga dialami wisatawan mancanegara, tetapi penulis ini justru menganggapnya pemandangan indah, bukan kekecewaan.
Semua pendapat, termasuk hal-hal yang mengecewakan dan cara menghindarinya, ada di artikel Apakah Hakone Layak Dikunjungi?
Hal yang Perlu Diketahui
Cara ke sana: Hakone terletak di pegunungan Prefektur Kanagawa, di sebelah barat daya Tokyo, di dalam Taman Nasional Fuji-Hakone-Izu. Stasiun gerbangnya adalah Hakone-Yumoto. Dari Shinjuku, kereta ekspres khusus Odakyu Romancecar tiba di Hakone-Yumoto dalam waktu sekitar 75 menit untuk perjalanan tercepat; selain tarif dasar, Anda perlu membeli tiket ekspres dengan kursi yang dipesan terpisah. Pilihan yang lebih murah adalah kereta Odakyu biasa menuju Odawara dan berganti di sana ke jalur Hakone Tozan. Untuk informasi umum soal kereta, transit, dan tiket terusan, lihat berkeliling Jepang.
Hakone Free Pass: Sebagian besar pengunjung berkeliling dengan Hakone Free Pass yang dijual Odakyu. Pada dasarnya ini tiket terusan untuk delapan moda transportasi yang saling terhubung di kawasan ini (kereta Tozan, kereta kabel, kereta gantung, perahu wisata di Danau Ashinoko, dan bus yang ditentukan), yang bisa dipakai naik-turun sepuasnya selama dua atau tiga hari berturut-turut, ditambah perjalanan pulang-pergi Odakyu dari stasiun keberangkatan Anda. Tiket ini tidak termasuk tiket ekspres Romancecar, yang dibeli secara terpisah. Tiket ini juga memberi potongan harga masuk di banyak museum dan atraksi Hakone. Harga berbeda tergantung apakah Anda memulai dari Shinjuku atau dari Odawara, dan harga ini sesekali direvisi, jadi periksalah angka resminya sebelum Anda membeli.
Berkeliling rute: Rute klasiknya berlawanan arah jarum jam: dari Hakone-Yumoto naik kereta gunung ke Gora, kereta kabel ke Sounzan, kereta gantung melintasi Owakudani ke Togendai, perahu menyeberangi Danau Ashinoko ke Moto-Hakone atau Hakone-machi, dan bus kembali ke Yumoto. Anda bisa menempuhnya ke arah mana saja, dan para operatornya sendiri menyarankan untuk pergi searah jarum jam pada hari-hari tersibuk guna memecah kerumunan. Berkeliling penuh sambil singgah di beberapa tempat butuh satu hari penuh kalau santai; sediakan waktu lebih jika Anda ingin berlama-lama di danau atau di museum.
Owakudani dan kereta gantung: Lembah ini adalah zona vulkanik aktif, pada ketinggian lebih dari seribu meter. Kereta gantung yang melintas di atasnya bisa berhenti mendadak karena angin kencang atau gas vulkanik yang meningkat, dan sesekali (jarang) akses ke lembahnya pun dibatasi. Semua ini sulit diprediksi jauh hari, jadi periksa halaman status resmi kereta gantung pada pagi hari kunjungan. Kalau tutup, cukup ubah rencana; hari Anda tidak sia-sia. Telur hitam dijual di toko telur di lembah, umumnya empat atau lima butir per kantong, sampai habis setiap harinya.
Danau Ashinoko dan Kuil Hakone: Kuil ini terletak di hutan di atas Moto-Hakone, dan torii merahnya berdiri mencolok di danau; area kuil buka pada siang hari. Gerbang di tepi danau itu adalah spot foto terkenal yang antreannya bisa panjang, dan sesekali dipagari karena perbaikan, jadi periksa dulu pada hari kunjungan. Perahu wisata menghubungkan Togendai dengan Moto-Hakone dan Hakone-machi; Pos Pemeriksaan Hakone, rekonstruksi sesuai aslinya dari pos pemeriksaan masa Edo di jalan Tokaido, berdiri di dekat tepian Hakone-machi.
Museum: Hakone sangat kaya akan museum seni. Hakone Open-Air Museum (dibuka 1969, museum patung terbuka pertama di Jepang, dengan sebuah aula yang didedikasikan untuk Picasso) dan Pola Museum of Art (dibuka 2002, terletak di hutan di Sengokuhara, dengan koleksi Impresionisme yang kuat) adalah dua yang paling dikenal. Keduanya umumnya buka pukul 9:00–17:00 dengan masuk terakhir sekitar pukul 16:30; harga tiket masuknya di kisaran seribu sampai beberapa ribu yen, dan banyak yang memberi potongan harga untuk pemegang Free Pass. Periksalah situs masing-masing museum untuk jam buka, penutupan, dan harga terkini.
Kapan pergi dan berapa lama: Hakone adalah destinasi sepanjang tahun, tetapi udara paling jernih, dan peluang melihat Fuji paling besar, pada bulan-bulan dingin dari akhir musim gugur hingga musim dingin. Kunjungan sehari bisa saja dilakukan jika Anda berangkat pagi-pagi dan menerima bahwa museum dan sebagian fasilitas tutup menjelang sore; dengan menginap semalam, Anda bisa berendam sore hari lalu sekali lagi saat fajar, cara menikmati Hakone yang paling sesuai dengan tujuan sumber air panas sejak dulu.
Terakhir diverifikasi: 2026-06
Situs resmi: hakone.or.jp (Asosiasi Pariwisata Hakone), hakonenavi.jp (kereta, kereta gantung, dan perahu), dan odakyu-freepass.jp (Hakone Free Pass)
Jika Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Gunung Fuji tidak terlihat. Ini adalah kekecewaan yang paling umum di Hakone, dan yang paling mudah untuk diikhlaskan. Fuji tertutup awan hampir sepanjang tahun, jadi dalam satu kali kunjungan, terlihat atau tidaknya soal untung-untungan: paling sering cerah pada bulan-bulan dingin dan kering, paling sulit di musim panas. Coba ikuti cara pandang warga setempat: bisa melihat Fuji adalah keberuntungan, bukan sesuatu yang pasti didapat. Danau, torii, hutan cemara, dan air panasnya tetap ada, dan itulah alasan utama datang ke sini.
Kereta gantung di atas Owakudani tidak beroperasi. Ini cukup sering terjadi karena angin, gas vulkanik, atau pemeliharaan, sebab lembah itu adalah gunung berapi aktif. Anda tetap bisa melanjutkan rute keliling. Saat kereta gantung berhenti, sebagian besar rute masih terjangkau bus dan jalan raya, telur hitam dan pemandangan lembah biasanya masih bisa dinikmati, dan tempat lain di Hakone seperti kereta gunung, danau, dan pemandian tetap beroperasi seperti biasa. Periksa status resmi pada pagi hari, lalu sesuaikan rute Anda.
Terlalu ramai dan antrean panjang. Hakone adalah kawasan wisata pegunungan terdekat dari Tokyo, jadi pada akhir pekan dan hari libur kereta, perahu, dan spot foto penuh sesak; antrean untuk berfoto torii di tepi danau atau telur hitam bisa menjadi panjang. Cara paling mudah adalah datang di hari kerja dan berangkat pagi-pagi. Jika terjebak di tengah kerumunan, ingatlah bahwa saat paling tenang dan paling menyenangkan di Hakone adalah berendam di penghujung hari, ketika orang mulai sepi dan airnya tetap hangat.
Bus terlambat dan tidak semua tempat sempat dikunjungi. Jalan pegunungan dan jadwal yang padat membuat perpindahan kendaraan mudah meleset, terutama pada jam-jam sibuk. Sisakan waktu longgar; kalau harus naik kereta ke kota lain di hari yang sama, jangan pilih jadwal yang terlalu mepet dengan akhir rute keliling, dan relakan saja kalau tidak semua tempat sempat disinggahi. Hakone lebih cocok dinikmati dengan menginap santai daripada dikejar seperti daftar centang.
Hujan turun, atau gunung lenyap dalam kabut. Hakone sering berkabut, dan banyak pemandangannya justru lebih indah karena kabut: torii yang samar setengah tertutup awan, hutan yang basah dan sunyi, serta uap Owakudani yang tampak lebih tebal dengan latar langit kelabu. Museum-museumnya pas untuk berteduh saat hujan, dan berendam di air panas sambil hujan malah lebih nikmat. Hanya kereta gantung dan perahu yang bergantung pada cuaca, jadi pantau keduanya dan nikmati sisa hari dengan santai.
Gugup berendam di onsen untuk pertama kali. Hampir semua orang merasakannya, termasuk orang Jepang yang mencoba pemandian yang belum pernah didatangi. Sopan santunnya sederhana, sekali lihat langsung paham, dan intinya hanya tenggang rasa kepada orang yang berendam bersama. Kami membahas apa yang dipikirkan orang Jepang saat berendam dan, jika Anda bertato, pilihan yang bisa dipakai hampir di mana saja, agar Anda bisa berendam tanpa khawatir.
Sources:
- Hakone Tourism Association: Official: The seventeen hot-spring waters (Hakone Jūnana-yu) and the older Hakone Nanayu; Hakone as the country's leading hot-spring region by lodging, capacity, and overnight guests; Yumoto opened in 738; Miyanoshita as a Meiji-era resort around a Western-style hotel; Lake Ashinoko as a caldera lake; the mountain railway's 8.9 km / ~40 min run, 1919 opening, ~80‰ grade and three switchbacks; the cable car's ~1.2 km / ~10 min climb (pages /6882, /6411, /6413, /6412, /6415, /9407, /9412)
- Hakone Navi (Odakyu Hakone): Official: Specifications and connections of the Tozan train, cable car, ropeway, and pirate boats; the switchbacks at Deyama, Ōhiradai, and Kami-Ōhiradai; the "Hakone Golden Course" loop completed in 1960; counter-clockwise classic route and clockwise advice for busy days; model courses
- Hakone Ropeway: Official (Hakone Navi): Four-station route over Ōwakudani; closures for strong wind and weather; real-time volcanic-gas display and the note that gas level and eruption-alert level are not directly linked
- Odakyu: Hakone Free Pass (Official): The Free Pass covering eight modes of transport plus the Odakyu round trip; two- and three-day validity; Romancecar express ticket not included; discounts at around seventy facilities; fares differing by departure station (subject to revision)
- Odakyu Global: Hakone Free Pass & Romancecar (Official): Romancecar from Shinjuku to Hakone-Yumoto in about 75 minutes at its fastest, with a separate express ticket required; English-facing fare and validity details (current as of June 2026)
- Ōwakudani Kurotamago-kan: Official: The valley's formation about 3,000 years ago by a phreatic explosion; the black eggs (shells blackened by minerals in the hot pool) sold in packs at the valley; the seven-years saying linked to the local life-lengthening Jizō and to seven as a lucky number
- Kanagawa Park Association: Ōwakudani Information Center (Official): Ōwakudani at an elevation of 1,040 m and its harsh upland climate
- Hakone Shrine: Official: Founding in 757 (Tenpyō-hōji 1) by the monk Mangan on the shore of Lake Ashinoko; the Kuzuryū (Nine-Headed Dragon) legend of the lake and its subjugation; the annual lake festival; the Torii of Peace among the precinct features
- Hakone Checkpoint (Hakone Sekisho): Official, Hakone Town: The Edo-period Tōkaidō barrier on the shore of Lake Ashinoko and its faithful reconstruction from the original repair records
- Ministry of the Environment: Fuji-Hakone-Izu National Park (Official): Hakone as part of Fuji-Hakone-Izu National Park, alongside the Mount Fuji area; volcanic landscape of the park
- JNTO: Hakone & Fuji-Hakone-Izu (japan.travel): English-facing overview of the park, Lake Ashinoko as a caldera lake formed by the collapse of part of Mount Kamiyama, and Ōwakudani as a steaming volcanic valley
- Apakah Hakone Layak Dikunjungi? (WMJS): Dua ukuran pendapat di bagian "Apa Kata Pengunjung tentang Hakone" (186 suara internasional 59/26/15, 60 suara Jepang 64/31/5) dan sumber kutipan verbatim
Kredit foto: Danau Ashinoko dengan Gunung Fuji dan torii Kuil Hakone (foto utama), foto oleh WorldContributor, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons. Kereta gunung Hakone Tozan, foto oleh Kuroc622, CC0 / domain publik, via Wikimedia Commons. Lembah vulkanik Owakudani, foto oleh Joli Rumi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.
Terima kasih. Setiap catatan dibaca langsung oleh manusia.
Suara nyata
Apakah tempat ini sepadan?
Pernah ke sini? Bagikan foto Anda.
Foto Anda bisa muncul di panduan ini — dengan nama dan tautan profil Anda.
Kirim fotoArtikel Terkait

Apa yang Sebenarnya Dipikirkan Orang Jepang Saat Anda Masuk ke Pemandian

Menginap di Ryokan — Yang Diam-diam Diharapkan Tuan Rumahmu Kau Tahu


Panduan lain di Kanto
Mengunjungi Akihabara, Kota Elektronik Tokyo Tempat Anda Bebas Menyukai Apa yang Anda Sukai
Apakah Akihabara layak dikunjungi? Dari 149 pendapat pelancong yang sudah dibobot, 29% tegas bilang layak, 44% bilang tergantung apakah Anda menyukai anime, game, atau elektronik, dan 69% orang Jepang menyukainya. Lengkap dengan tata letak distrik, cara ke sana, untuk siapa tempat ini cocok, dan panduan audio.
Akihabara (Electric Town)
Mengunjungi Harajuku, Tempat Kamu Bisa Memakai Apa Saja Tanpa Seorang pun Menoleh
Apakah Harajuku layak dikunjungi? Kami menghitung 99 suara pelancong: 64% bilang layak asal kamu tidak berlama-lama di keramaian Takeshita Street dan lanjut ke Cat Street dan Omotesando. Crepe, mode kawaii, cara ke sana, lengkap dengan panduan audio.
Harajuku
Meiji Jingu, Mengapa 100.000 Pohon Ditanam untuk Membuat Hutan yang Merawat Dirinya Sendiri
Apakah Meiji Jingu sepadan dikunjungi? Kami menimbang 70 suara pelancong: 75% bilang sepadan, dan warga Jepang menilainya lebih hangat di angka 82%. Gratis, hutan seluas 70 hektar yang ditanam sepenuhnya dengan tangan pada 1920, dengan Gerbang Torii Besar dan Sumur Kiyomasa di Taman Dalam, lengkap dengan panduan audio.
Meiji Jingu
Mengunjungi Senso-ji, Kuil Tertua di Tokyo
Apakah Senso-ji sepadan untuk dikunjungi? Kami menimbang 125 suara pelancong: 54% bilang jelas sepadan. Jam buka, gratis masuk, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan mengapa keramaian selalu menjadi bagian dari doa, lengkap dengan panduan audio.
Senso-ji Temple
