Skip to content
WMJS
The thatched gassho-zukuri village of Ogimachi, Shirakawa-go, seen from the hillside among green mountains and rice fields
Ke mana pergi

Chubu & Pegunungan Alpen Jepang, beberapa hari yang lebih lambat

Gunung dan kota-kota tua — Matsumoto, Takayama, Shirakawa-go, Kanazawa — dengan tempo pesan-lebih-dulu

Terakhir diverifikasi: 2026-06-14

Hari
4 (Matsumoto, Takayama, Shirakawa-go dalam perjalanan ke Kanazawa, Kanazawa). Blok ini berpindah penginapan tiap hari, di antara blok Kanto dan blok Kansai
Musim terbaik
Bunga musim semi dan daun musim gugur memang indah, tetapi musim dingin adalah waktu paling khas di kawasan Alpen: salju di atap jerami, iluminasi malam, dan monyet salju. Musim dingin sangat dingin dan beberapa jadwal berubah, jadi persiapannya perlu sedikit lebih matang
Basis menginap
Tidak menetap di satu tempat, tetapi pindah dari kota ke kota: satu malam di Matsumoto, satu atau dua malam di sekitar Takayama, lalu Kanazawa. Shirakawa-go disinggahi dalam perjalanan, atau bisa juga jadi tempat menginap semalam yang istimewa
Transportasi
Kebanyakan perjalanan memakai kursi reservasi, bukan tap kartu: limited express untuk masuk dan keluar, serta bus antarkota berkursi reservasi untuk melintasi pegunungan. Kartu IC hampir tidak terpakai di sini, jadi pesanlah lebih dulu

Rencana ini cocok untuk siapa

  • Pertama kaliCocok
  • Sudah pernahSangat cocok
  • Bersama anakCocok
  • SoloSangat cocok
  • BerduaSangat cocok
  • Tempo santaiCocok
Kapan berkunjungApr–Nov

Green valleys and old towns from spring through autumn; Shirakawa-go under snow is a special winter trip in its own right.

Chubu adalah kawasan pegunungan di bagian tengah Pulau Honshu, di antara sisi Tokyo dan sisi Kyoto–Osaka. Di sini laju perjalanan melambat, dan cara berkelilingnya pun berbeda dari kedua kawasan itu. Di Kanto dan Kansai, cukup tap satu kartu untuk ke mana-mana, sedangkan di kawasan Pegunungan Alpen Jepang hampir semuanya harus dipesan lebih dulu: masuk dengan limited express berkursi reservasi, keluar dengan shinkansen, dan di antaranya bus berkursi reservasi yang berkelok melintasi celah gunung, menghubungkan kota kastil tua, kota pedagang yang masih terjaga, desa beratap jerami di tengah pegunungan, dan kota tepi laut yang terkenal dengan tamannya. Saya biasanya menyusunnya sebagai rencana empat hari yang longgar, pindah penginapan tiap hari alih-alih menetap di satu tempat: Matsumoto, lalu Takayama, lalu Kanazawa, dengan mampir ke Shirakawa-go dalam perjalanan dari Takayama ke Kanazawa.

Satu hal yang sebaiknya diterima sejak awal: di sini Anda tak bisa bepergian sesantai di kota-kota besar pesisir. Beberapa bus lintas gunung harus dipesan jauh-jauh hari, dan satu desa terkenal sama sekali tak punya jalur kereta. Tapi justru di situlah enaknya: karena perlu sedikit perencanaan, jauh lebih sedikit orang yang datang terburu-buru, sehingga kota-kotanya tetap tenang dan masih memiliki suasana aslinya. Di bawah ini saya jelaskan cara saya berpindah, kursi mana yang perlu dipesan, dan di mana saya menginap. Silakan ambil bagian yang cocok lalu susun ulang sesuai rencana perjalanan Anda.

Tempat menginap sebagai basis

Inilah satu-satunya blok yang kurang cocok untuk menginap di satu tempat lalu pulang-pergi: kota-kotanya tersebar di antara pegunungan, tidak berkumpul di sekitar satu kota pusat, jadi saya bergerak mengikuti rute dan menginap semalam di tiap kota. Untungnya, semua kota di sini kecil dan enak dijelajahi dengan berjalan kaki, jadi di mana pun Anda menginap, paginya bisa santai.

Di Matsumoto, menginap di mana saja di pusat kota tidak masalah karena pusat kotanya kecil. Kastil, kawasan tua Nakamachi, Jalan Nawate, dan stasiun semuanya berdekatan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kastil Matsumoto pun hanya sebentar berjalan kaki dari stasiun. Bila tiba larut dengan limited express Azusa, menginap dekat stasiun paling praktis; menginap dekat kastil membuat suasana kota tuanya lebih terasa. Di mana pun menginap, paginya cukup berjalan santai ke tempat wisata tanpa perlu naik kendaraan.

Di Takayama, saya memilih penginapan di antara stasiun dan kota tua. Terminal bus Hida-Takayama ada tepat di samping stasiun, dan semua bus lintas gunung dari dan ke Matsumoto, Shirakawa-go, serta Kanazawa berhenti di sana. Jalan-jalan tua Sanmachi di Takayama ada di sebelah timur, hanya beberapa menit berjalan kaki menyeberangi sungai. Menginap di sisi stasiun memudahkan naik bus berikutnya; menginap di sisi kota tua berarti dekat dengan pasar pagi, jadi Anda bisa jalan-jalan pagi sebelum wisatawan harian berdatangan. Jarak keduanya dekat, jadi pilih yang mana pun tidak masalah.

Di Kanazawa, pilihannya antara dekat stasiun atau di pusat kota. Bus ke Shirakawa-go, Hokuriku Shinkansen, dan Loop Bus semuanya berangkat dari Stasiun Kanazawa, jadi menginap dekat stasiun memudahkan saat tiba maupun saat melanjutkan perjalanan. Hanya saja, taman, kastil, dan kawasan-kawasan tua ada di tengah kota dan perlu naik bus sekali lagi. Bila ingin berjalan kaki ke tempat wisata sejak pagi, menginaplah di area Korinbo/Katamachi di pusat kota; dari sana Kenrokuen dan kawasan rumah teh chaya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Keduanya sama-sama baik, dan Loop Bus melintas di antara kedua kawasan itu kira-kira setiap lima belas menit.

Satu pilihan menarik untuk Shirakawa-go: Anda tak harus sekadar mampir. Beberapa rumah tani beratap jerami gaya gassho-zukuri di Ogimachi menerima tamu menginap, dan ada orang yang menyusun seluruh perjalanannya demi bermalam di sini. Setelah bus-bus siang hari pergi, desa menjadi sunyi, dan Anda tidur di samping perapian yang tertanam di lantai, di rumah yang sudah berdiri ratusan tahun. Kamar seperti ini hanya ada beberapa puluh, jadi biasanya sudah penuh jauh-jauh hari. Kalau masih ada yang kosong dan Anda tertarik, saya sarankan langsung pesan. Kalau tidak, menginap saja di Takayama dan Kanazawa, lalu mampir ke Shirakawa-go dalam perjalanan.

Transportasi dan tiket

Ringkasnya begini: di kawasan Alpen, Anda tidak bisa sekadar tap kartu lalu naik seperti yang biasa dilakukan di Tokyo atau Kyoto. Blok ini mengandalkan kursi reservasi: kereta berkursi reservasi untuk masuk dan keluar, serta bus antarkota berkursi reservasi untuk melintasi pegunungan di tengahnya. Kartu IC masih berguna untuk sesekali naik kereta lokal, tetapi tidak bisa dipakai untuk ruas-ruas utama perjalanan ini.

Bus lintas gunung adalah transportasi utama di rute ini, dan beberapa di antaranya harus dipesan lebih dulu. Ada tiga ruas yang melintasi pegunungan: Matsumoto ke Takayama, Takayama ke Shirakawa-go, dan Shirakawa-go ke Kanazawa. Semuanya bus antarkota, bukan kereta, jadi Anda tak bisa naik dengan tap kartu IC; Anda perlu tiket yang sudah dipesan atau dibeli. Bus Matsumoto–Takayama wajib reservasi sejak 2024, dan rute Shirakawa-go–Kanazawa juga wajib reservasi pada sebagian besar keberangkatan, jadi saya memesan kursinya sebelum hari keberangkatan, tidak menunggu untung-untungan, karena di musim daun merah dan musim salju kursinya cepat habis. Satu hal lagi yang perlu diketahui: sama sekali tak ada kereta ke Shirakawa-go, jadi bus adalah satu-satunya cara ke sana. Begitu tanggalnya pasti, saya memesan langsung di situs operatornya (situs bus antarkota Nohi Bus, atau Japan Bus Online).

Kapan kartu IC masih berguna: Suica atau ICOCA tetap bisa di-tap di kereta lokal JR sekitar Matsumoto dan Kanazawa, jadi tidak sia-sia. Pakai saja untuk kereta lokal itu, asal jangan mengandalkannya untuk bus. Ada dua hal yang perlu diingat: kartu IC saja tidak cukup untuk naik Shinkansen (perlu tiket terpisah, dan Hokuriku Shinkansen dipesan lewat Eki-net, bukan Smart-EX), dan jalur kereta kecil di Nagano yang menuju monyet salju hanya menerima tunai. Selama di pegunungan saya selalu membawa sedikit uang tunai, karena loket di pedesaan dan bus keliling kecil juga lebih suka tunai.

Perlukah rail pass? Mungkin, tergantung dari arah mana Anda masuk dan keluar dari kawasan ini. Pass yang dibuat khusus untuk paruh barat rute ini adalah Takayama–Hokuriku Area Tourist Pass (berlaku lima hari), dan hanya pass inilah yang bisa dipakai untuk bus lintas gunung Nohi/Hokutetsu antara Takayama, Shirakawa-go, dan Kanazawa (kursi busnya tetap harus Anda pesan sendiri; pass ini tidak memesankannya). Kekurangannya, pass ini tidak berlaku sampai Matsumoto, jadi bus Matsumoto–Takayama tetap harus dibeli terpisah. Banyak orang kaget karena tidak ada pass yang mencakup seluruh rute dari Matsumoto ke Kanazawa, jadi saya menentukan rutenya dulu, baru memilih pass yang cocok. Harga terkini ada di kotak fakta.

Berkeliling di dalam kota sebagian besar cukup dengan berjalan kaki. Kota tua Takayama hanya lima menit berjalan kaki dari stasiun dan mudah dijelajahi dengan jalan kaki; untuk tempat-tempat di pinggiran kota, ada bus keliling kecil bila diperlukan. Tempat wisata di Kanazawa lebih tersebar, dan tamannya berjarak beberapa kilometer dari stasiun, jadi di sana saya naik Kanazawa Loop Bus. Halaman-halaman resmi tidak seragam soal bisa tidaknya kartu IC dipakai di bus ini, jadi saya memakai tiket harian atau menyiapkan koin. Harganya ada di kedua kotak fakta.

Matsumoto: kastil hitam di kaki Pegunungan Alpen

The black keep of Matsumoto Castle above its stone base and moat, with swans on the water and the Northern Alps behind

Saya memulai dari Matsumoto karena kota ini cocok untuk mulai membiasakan diri dengan pegunungan: kotanya kecil dan enak dijelajahi dengan berjalan kaki, Alpen Utara menjulang di belakangnya, dan di tengah kotanya berdiri salah satu dari dua belas menara kastil asli yang masih tersisa di Jepang. Menara Kastil Matsumoto adalah menara asli: berdinding hitam, berusia empat ratus tahun, tak pernah terbakar dan tak pernah dibangun ulang dengan beton. Berdiri di bawahnya terasa berbeda dari berdiri di bawah bangunan rekonstruksi, karena kayu yang Anda lihat adalah kayu yang sama sejak awal dibangun. Sore harinya saya habiskan di kastil dan sekitar paritnya, lalu berjalan santai ke kawasan tua Nakamachi dan Jalan Nawate saat hari mulai gelap. Hari pertama memang sengaja dibuat santai: tiba, pelan-pelan menyesuaikan diri, dan ritme perjalanan pun ikut melambat.

  1. SoreTiba dari Tokyo dengan AzusaKebanyakan orang berangkat dari Shinjuku dengan limited express JR Azusa, sekitar dua setengah jam lewat Jalur Chuo menuju pegunungan. Satu hal yang perlu diurus sebelum berangkat: semua kursi Azusa wajib reservasi, jadi dengan kartu IC saja Anda tidak dapat kursi. Pesan tiket reservasinya lebih dulu (mudah lewat Eki-net). Waktu dan tarif ada di kotak fakta. Dari Stasiun Matsumoto, semua tempat bisa dicapai dengan berjalan kaki sebentar.
  2. 15:00Kastil Matsumoto, menara aslinyaDari stasiun ke kastil sekitar lima belas menit berjalan kaki di jalan datar (atau naik bus keliling sebentar). Kelilingi paritnya lebih dulu; di sana bayangan menara hitam terpantul di air dengan Alpen sebagai latar. Setelah itu, naiki tangga kayu asli yang curam di dalamnya. Jangan lewatkan menara pengamat bulan yang ditambahkan di masa damai: kastil yang dibangun untuk berperang, tetapi punya ruangan khusus untuk memandang bulan. Panduan terkait: Kastil Matsumoto.
  3. MalamKawasan Nakamachi dan Jalan NawateDari kastil cukup berjalan kaki. Kawasan pedagang tua Nakamachi masih memiliki deretan gudang berdinding putih, sementara Jalan Nawate yang kecil di tepi sungai dipenuhi patung katak dan toko-toko mungil. Jalan santai di bawah cahaya lampion untuk menutup hari, tanpa perlu kendaraan, cukup menyusuri kota tua dengan berjalan kaki.

Takayama: kota yang masih menyimpan suasana zaman Edo

A dark-timber Sanmachi lane in Hida-Takayama at winter dusk, snow on the eaves and lanterns glowing

Hari ini Anda melintasi pegunungan di tengah Jepang. Bus dari Matsumoto mendaki celah-celah gunung menuju Hida-Takayama, sekitar dua jam lebih melewati pegunungan dan terowongan, lalu tiba di kota yang masih mempertahankan suasana zaman Edo: rumah-rumah pedagang dari kayu gelap, pabrik sake dengan bola daun cedar tergantung di depan pintu, dan tukang kayu setempat yang keahliannya dulu dipakai membangun kuil sampai ke Kyoto. Meski begitu, Takayama menjaga semua itu dengan sederhana, tanpa dibuat-buat. Paginya saya ke pasar tepi sungai; kebanyakan kiosnya dijaga petani setempat dan suasananya santai. Sisa harinya saya habiskan menyusuri jalan-jalan tua Sanmachi. Berada di kota yang tak pernah merobohkan bangunan lamanya memberi rasa hangat tersendiri.

  1. 08:00Menyeberangi pegunungan dengan busBus antarkota Nohi/Alpico berangkat dari samping Stasiun Matsumoto menuju terminal bus Takayama, sekitar dua jam lima belas menit melintasi pegunungan lewat Hirayu Onsen. Bus ini wajib reservasi (sejak 2024 hanya bisa dinaiki dengan reservasi), jadi saya memesan kursi sebelum hari keberangkatan, tidak datang langsung ke halte. Kartu IC juga tidak bisa di-tap di dalam bus. Tarif dan pemesanan ada di kotak fakta. Bila bus musiman tidak beroperasi pada tanggal Anda, bisa juga naik kereta sepenuhnya: dari Matsumoto turun ke Nagoya, lalu naik limited express ke Takayama. Rute ini memutar cukup jauh ke selatan, jadi pakai hanya bila terpaksa.
  2. Menjelang siangKota tua Sanmachi dan pabrik sakeJalan-jalan tua Sanmachi ada di sebelah timur stasiun, lima menit berjalan kaki menyeberangi Sungai Miyagawa. Di sepanjang deretan rumah kayu gelapnya ada pabrik sake (bola daun cedar yang digantung menandakan sake baru sudah jadi), toko kerajinan, dan kafe-kafe mungil. Kawasan ini cukup dijelajahi dengan berjalan kaki, tanpa perlu kendaraan. Panduan terkait: Takayama.
  3. SorePasar pagi tepi sungai (bila Anda datang lebih awal) dan Takayama JinyaPasar pagi Takayama ada di tepi Sungai Miyagawa dan di depan balai pemerintahan lama; bila sempat datang pagi, dari kios-kios petani setempat Anda bisa melihat keseharian warga kota. Tak jauh dari situ ada Takayama Jinya, satu-satunya balai pemerintahan daerah zaman Edo yang masih tersisa di Jepang. Info yang sering berubah, seperti jam buka pasar dan biaya masuk, ada di bagian Hal yang Perlu Diketahui di panduan.

Dari Shirakawa-go ke Kanazawa: desa beratap jerami, lalu kota taman

Two steep-thatched gassho-zukuri farmhouses at Shirakawa-go with a snow-capped mountain behind

Naik bus sebentar ke utara dari Takayama, Anda akan tiba di pemandangan yang sudah dikenal banyak orang lewat foto sebelum mereka ke Jepang: Shirakawa-go, lembah dengan rumah-rumah tani gassho-zukuri beratap jerami yang curam. Atapnya dibuat miring seperti dua tangan yang dikatupkan saat berdoa, supaya salju tebal mudah meluncur turun. Yang selalu saya ingat, ini desa yang masih dihuni: warganya masih bertani dan tinggal di rumah-rumah ini. Karena itu saya berjalan pelan tanpa berisik dan hanya lewat jalan umum, seperti saat melewati permukiman orang lain. Sore harinya, naik bus lagi turun dari pegunungan menuju Kanazawa, kota yang dulu memakai kekayaannya untuk taman dan daun emas, bukan untuk perang. Hari ini Anda merasakan dua jenis ketenangan yang sangat berbeda.

  1. 09:00Takayama ke Shirakawa-go dengan busBus Nohi berangkat dari terminal bus Takayama ke Shirakawa-go dalam waktu sekitar lima puluh menit. Di sini tidak ada kereta, jadi hanya bus inilah yang bisa membawa Anda ke sana. Banyak keberangkatan yang wajib reservasi, jadi di musim daun merah dan musim salju saya memesan lebih dulu; kartu IC tidak bisa di-tap di dalam bus. Tarif dan pemesanan ada di kotak fakta.
  2. 10:00Desa Ogimachi dan titik pandangBus berhenti di tepi Ogimachi, desa utamanya, dan dari situ mudah berjalan kaki masuk ke jalan-jalan di antara rumah tani. Dari titik pandang Shiroyama di lereng atas, Anda bisa melihat pemandangan yang sering muncul di foto: atap-atap jerami dan sawah di bawahnya. Rumah-rumah ini masih dihuni, jadi saya hanya lewat jalan umum dan berjalan pelan tanpa berisik, seperti saat melewati permukiman orang lain. Panduan terkait: Shirakawa-go.
  3. Tengah soreLanjut ke KanazawaDari Shirakawa-go, bus Nohi/Hokutetsu turun ke Stasiun Kanazawa dalam waktu sekitar satu jam lima belas menit. Sebagian besar keberangkatan di ruas ini juga wajib reservasi, jadi pesanlah lebih dulu; kartu IC tidak bisa di-tap. Tarif dan pemesanan ada di kotak fakta. Malam ini menginap di Kanazawa.

Kanazawa: taman, daun emas, dan kawasan tua

The two-legged Kotoji stone lantern beside the pond at Kenrokuen garden, Kanazawa

Perjalanan ini berakhir di Kanazawa, kota yang suasananya lebih lembut sekaligus lebih megah. Dulu kota ini pusat kekuasaan keluarga penguasa Maeda, pemilik wilayah terkaya di Jepang setelah shogun. Alih-alih memakai kekayaan itu untuk menakut-nakuti pihak lain, mereka menghabiskannya untuk taman, upacara minum teh, teater, dan kerajinan. Karena itulah kota sebesar ini punya salah satu dari tiga taman paling terkenal di Jepang, dan sampai sekarang masih menempa emas menjadi lembaran yang begitu tipis sampai bisa dimakan. Seharian saya habiskan di Kanazawa: menyusuri Kenrokuen pelan-pelan, lalu area kastil di sebelahnya, kawasan geisha Higashi Chaya, dan makan siang di pasar. Setelah itu, melanjutkan perjalanan pun mudah: naik Hokuriku Shinkansen ke timur kembali ke Tokyo, atau lewat rute baru ke Kyoto dan Osaka.

  1. 09:00Kenrokuen dan area kastilDari stasiun, naik Kanazawa Loop Bus ke halte Kenrokuen/Korinbo sekitar lima belas menit. Kenrokuen adalah salah satu dari tiga taman paling terkenal di Jepang, dirancang untuk dinikmati pelan-pelan di setiap musim. Ciri khasnya adalah lentera batu Kotoji berkaki dua di tepi kolam. Taman kastil ada tepat di seberang jalan. Panduan terkait: Kanazawa.
  2. Tengah hariHigashi Chaya dan Pasar OmichoKawasan Higashi Chaya masih mempertahankan deretan rumah teh berfasad kayu, dan ada beberapa rumah yang terbuka untuk dikunjungi, termasuk satu rumah dengan ruangan berlapis daun emas. Untuk makan siang, datanglah ke Pasar Omicho, tempat warga kota berbelanja bahan makanan selama berabad-abad; banyak orang membeli sesuatu lalu langsung menyantapnya di kios. Keduanya terhubung dengan Loop Bus dalam waktu singkat.
  3. SoreLanjut ke timur atau baratDari Kanazawa, perjalanan lanjutan ke arah mana pun mudah. Ke timur, Hokuriku Shinkansen melaju ke Tokyo dalam sekitar dua setengah jam. Ke barat, jalur yang sama kini sampai di Tsuruga; di sana Anda berganti ke limited express Thunderbird menuju Kyoto dan Osaka. Perlu diingat, di sini kartu IC tidak bisa dipakai untuk naik Shinkansen, jadi pesan tiket lewat Eki-net. Rinciannya ada di kotak fakta dan bagian lanjutan perjalanan di bawah.

Jika Anda punya satu hari lagi

+1 hari

Bila punya satu hari tambahan, saya punya dua usulan, dan tidak ada yang lebih 'benar' dari yang lain.

Ke utara melihat monyet salju. Kera liar di Jigokudani yang berendam di kolam air panas beruap di lereng bukit adalah salah satu pemandangan musim dingin yang paling berkesan. Nagano, titik berangkat ke Jigokudani, adalah salah satu stasiun Hokuriku Shinkansen antara Tokyo dan blok ini, jadi mudah disisipkan di awal atau akhir perjalanan. Dari Stasiun Nagano, naik kereta lokal sebentar (Nagaden, hanya menerima tunai), lalu berjalan kaki menembus hutan naik ke lembah. Ada dua hal yang perlu diketahui: monyetnya liar sehingga tidak selalu muncul setiap hari, dan jalan kaki terakhirnya sekitar 1,6 kilometer yang di musim dingin tertutup es dan sangat licin. Karena itu saya memakai sepatu bot musim dingin yang memadai dan menyisihkan setengah hari supaya tidak perlu terburu-buru. Catatan akses ada di kotak fakta.

Atau cukup tinggal lebih lama di kota yang sama. Dengan tambahan satu hari di Kanazawa, Anda bisa menikmati taman, kawasan samurai Nagamachi, dan museum seni kontemporer tanpa terburu-buru; dengan tambahan satu malam di Takayama, Anda bisa mengunjungi desa tradisional terbuka Hida atau sekadar duduk-duduk di tepi sungai. Kawasan Alpen lebih cocok dinikmati pelan-pelan daripada dikejar demi mencentang daftar. Bila Anda menyukai satu kota, menurut saya lebih baik tinggal sehari lagi di sana daripada menambah tempat kelima.

Jika waktu Anda kurang satu hari

−1 hari

Bila waktu Anda terbatas, blok ini bisa dipadatkan menjadi tiga hari tanpa kehilangan bagian terpentingnya. Cara paling sederhana adalah melewatkan Matsumoto dan mulai dari Takayama, langsung dari Nagoya dengan limited express Hida. Anda tidak jadi melihat kastil, tetapi kota-kota pegunungannya tetap bisa dinikmati. Atau mampir saja sebentar di Shirakawa-go: naik bus pagi dari Takayama, berkeliling satu-dua jam di antara rumah-rumah tani, lalu naik bus sore ke Kanazawa, semuanya dalam satu hari. Yang tidak saya sarankan adalah menjejalkan keempat kota ke dalam dua hari: bus butuh waktu cukup lama untuk melintasi celah gunung, dan tiga kota yang dinikmati dengan santai akan lebih berkesan daripada empat kota yang dikejar sampai kelelahan. Saya akan memilih tempat yang benar-benar ingin saya datangi dan memberinya waktu yang cukup.

Perpanjang perjalanan dari sini

Lanjut

Karena letaknya di tengah Jepang, dari blok ini mudah melanjutkan perjalanan ke dua arah. Ke timur, Hokuriku Shinkansen melaju dari Kanazawa kembali ke Tokyo dan blok Kanto dalam sekitar dua setengah jam, dan di tengah jalan berhenti di Nagano, titik berangkat untuk melihat monyet salju. Dari sisi Matsumoto, Anda juga bisa kembali ke Tokyo dengan Azusa. Bila ingin ke Gunung Fuji, masukkan ke jadwal sisi Tokyo, bukan rute ini, karena Gunung Fuji dicapai dari Shinjuku, bukan dari kota-kota Alpen. Saya sendiri memasukkannya ke blok Kanto alih-alih memaksakannya ke rute ini. Ke barat, dari Kanazawa ke blok Kansai kini harus naik Hokuriku Shinkansen ke Tsuruga, lalu berganti ke limited express Thunderbird menuju Kyoto dan Osaka (pergantian ini baru berlaku sejak 2024; panduan lama yang menyebut ada Thunderbird langsung ke Kanazawa sudah tidak berlaku). Ke arah mana pun, ingat bahwa Shinkansen perlu tiket tersendiri; Anda tidak bisa naik hanya dengan tap kartu IC.

WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.

Perlu diketahui — tarif dan waktu tempuh

Tokyo (Shinjuku) -> Matsumoto
Limited express JR Azusa, sekitar 2,5 jam lewat Jalur Chuo. Semua kursi wajib reservasi (seri E353 tidak punya gerbong non-reservasi), jadi kartu IC hanya menutup tarif dasar dan Anda juga perlu tiket limited express dengan kursi reservasi; pesan lewat Eki-net. Cek tarif terkini di situs pencarian resmi JR East.
Matsumoto -> Takayama (bus lintas gunung)
Bus antarkota Nohi Bus / Alpico Kotsu, sekitar 2 jam 20 menit melintasi celah gunung lewat Hirayu Onsen. Dewasa sekali jalan ¥4.400. WAJIB RESERVASI (sejak 1 Apr 2024); kartu IC tidak diterima, pesan kursi lewat highwaybus.com atau pusat reservasi Nohi. Jadwal di luar musim salju dan jadwal musim dingin berbeda.
Takayama -> Shirakawa-go (bus, tidak ada kereta)
Nohi Bus, sekitar 50 menit. Dewasa sekali jalan ¥2.800. Tidak ada jalur kereta ke Shirakawa-go, jadi bus ini satu-satunya transportasi umum ke sana. Banyak keberangkatan wajib reservasi dan cepat penuh di musim ramai; pesan lewat Japan Bus Online. Kartu IC tidak diterima di dalam bus.
Shirakawa-go -> Kanazawa (bus)
Nohi Bus / Hokutetsu, sekitar 1 jam 15 menit turun ke Stasiun Kanazawa. Dewasa sekali jalan ¥2.800 (tarif langsung Takayama–Kanazawa ¥4.200). Sebagian besar keberangkatan wajib reservasi, pesan lewat Japan Bus Online. Kartu IC tidak diterima di dalam bus.
Alternatif kereta saja: Nagoya -> Takayama
Limited express JR Hida (seri HC85) lewat Jalur Utama Takayama, sekitar 2 jam 20 menit. Pakai rute ini bila Anda melewatkan Matsumoto atau bus lintas gunung tidak beroperasi. Ada gerbong reservasi dan non-reservasi; cek tarif terkini di situs pencarian resmi JR Central.
Kanazawa -> Tokyo (Hokuriku Shinkansen)
Hokuriku Shinkansen: Kagayaki (tercepat, semua kursi reservasi) sampai di Tokyo dalam sekitar 2 jam 28 menit; Hakutaka lebih lambat dan punya beberapa gerbong non-reservasi. Dari Kanazawa, Shinkansen TIDAK bisa dinaiki dengan kartu IC (layanan Touch de Go hanya berlaku untuk ruas Tokyo–Joetsu-Myoko); gunakan tiket kertas atau Eki-net, bukan Smart-EX. Cek tarif terkini di situs pencarian resmi.
Kanazawa -> Kyoto / Osaka (sejak 2024, dengan sekali ganti)
Sejak Hokuriku Shinkansen diperpanjang sampai Tsuruga pada 16 Mar 2024, Thunderbird tidak lagi melaju langsung ke Kanazawa: naik Hokuriku Shinkansen ke Tsuruga, lalu berganti ke limited express Thunderbird menuju Kyoto/Osaka (pindah ke seberang peron, jadwalnya sudah disesuaikan), total sekitar 2,5 jam. Kedua ruas memakai kursi reservasi. Cek tarif langsung di situs pencarian resmi JR West.
Takayama–Hokuriku Area Tourist Pass
Pass JR West untuk wisatawan asing, berlaku 5 hari berturut-turut, dewasa ¥19.800 / anak ¥9.900. Satu-satunya pass yang berlaku untuk bus lintas gunung Nohi/Hokutetsu antara Takayama, Shirakawa-go, dan Kanazawa (kursi bus tetap dipesan sendiri), plus kereta JR di area Nagoya–Takayama–Toyama–Kanazawa–Kansai. Pass ini TIDAK berlaku sampai Matsumoto, jadi bus Matsumoto–Takayama tetap dibeli terpisah.
Kanazawa Loop Bus dan 1-Day Pass
Kanazawa Loop Bus milik Hokutetsu berangkat dari stasiun dan berkeliling ke tempat-tempat wisata setiap 15–20 menit: sekali naik ¥220 dewasa / ¥110 anak, atau Kanazawa 1-Day Pass ¥800 dewasa / ¥400 anak (berlaku juga untuk bus lokal, plus diskon di beberapa tempat wisata). Halaman-halaman resmi tidak seragam soal bisa tidaknya kartu IC dipakai di bus ini; tiket harian atau koin lebih pasti.
Takayama: jalan kaki, atau bus keliling Sarubobo
Kota tua Takayama berjarak ~5 menit berjalan kaki dari stasiun dan mudah dijelajahi dengan jalan kaki. Untuk tempat-tempat di pinggiran (desa tradisional Hida-no-Sato), ada bus keliling Sarubobo seharga ¥100 sekali naik atau tiket harian ¥500. Bus keliling kecil ini belum tentu menerima tap kartu IC, jadi siapkan koin atau beli tiket harian.
Monyet salju (Jigokudani) dari Nagano
Dari Stasiun Nagano, bisa naik bus ekspres 'Snow Monkey' milik Nagaden (~40–45 menit), atau kereta Nagano Dentetsu ke Yudanaka (~45 menit) lalu bus lokal (~10 menit). Setelah itu berjalan kaki mendaki menembus hutan sejauh 1,6 km (~30–35 menit) sampai ke taman. Jalur Nagaden hanya menerima tunai; Snow Monkey Pass sudah mencakup kereta, bus lokal, dan tiket masuk taman. Buka sepanjang tahun; monyet tidak selalu muncul setiap hari, jadi cek kabar terbaru di situs taman.

Selami lebih dalam

Kastil Matsumoto — Mengapa Benteng yang Dibangun untuk Perang Punya Ruang untuk Memandang Bulan
11 min· 6 ch
Sebelum berangkatSambil berjalan

Kastil Matsumoto — Mengapa Benteng yang Dibangun untuk Perang Punya Ruang untuk Memandang Bulan

Kastil Matsumoto adalah satu dari dua belas menara kayu asli Jepang. Mengapa benteng hitam di dataran yang dibangun untuk perang justru menumbuhkan menara pemandang bulan? Lengkap dengan parit, Pegunungan Alpen Utara, jam buka, tiket, dan cara mendaki.

Matsumoto Castle

Takayama: Kota Tua yang Tak Pernah Menjadi Museum
7 min· 5 ch
Sebelum berangkatSambil berjalan

Takayama: Kota Tua yang Tak Pernah Menjadi Museum

Jelajahi Takayama, kota tua pegunungan Gifu yang masih hidup: telusuri kota tua Sanmachi dengan rumah kayu berkisi, pasar pagi tepi sungai tempat warga membeli sarapan, kunjungi Takayama Jinya, satu-satunya kantor keshogunan yang tersisa, dan lanjut ke Shirakawa-go dalam kurang dari satu jam.

Takayama Old Town (Sanmachi)

Mengunjungi Shirakawa-go, Desa Beratap Jerami yang Masih Dihuni
10 min· 5 ch
Sebelum berangkatSambil berjalan

Mengunjungi Shirakawa-go, Desa Beratap Jerami yang Masih Dihuni

Apakah Shirakawa-go layak dikunjungi? Dari 120 pendapat wisatawan, sebagian besar bilang tergantung waktu, hanya 1 dari 16 yang kecewa. Akses bus, titik pandang, iluminasi, dan waktu terbaik untuk berkunjung, lengkap dengan panduan audio.

Ogimachi, Shirakawa-go

Kanazawa: Kota Kastil yang Menghabiskan Kekayaannya untuk Taman dan Daun Emas, Bukan Pasukan
11 min· 6 ch
Sebelum berangkatSambil berjalan

Kanazawa: Kota Kastil yang Menghabiskan Kekayaannya untuk Taman dan Daun Emas, Bukan Pasukan

Keluarga Maeda menghabiskan kekayaan satu juta koku untuk taman, daun emas, dan kerajinan, bukan untuk pasukan. Lengkap dengan info praktis Kenroku-en: jam buka, tiket ¥320, dan jam masuk gratis di pagi buta.

Kanazawa

Mengunjungi Jigokudani Snow Monkey Park: Mengapa Monyetnya Hanya Berendam Saat Cuaca Dingin
10 min· 5 ch
Sebelum berangkatSambil berjalan

Mengunjungi Jigokudani Snow Monkey Park: Mengapa Monyetnya Hanya Berendam Saat Cuaca Dingin

Apakah Jigokudani Snow Monkey Park layak dikunjungi? Kami menimbang 70 suara wisatawan: 38% menyebutnya sorotan perjalanan, 42% lagi bilang layak di musim dingin, dan warga Jepang menilainya lebih tinggi, 64%. Monyet liar hanya berendam pada Desember hingga Februari untuk bertahan dari dingin, bukan untuk menghibur pengunjung. Lengkap dengan jalur jalan kaki, jam buka, kesalahan musim yang bisa dihindari, dan panduan audio.

Jigokudani Yaen-koen (Snow Monkey Park)

Mengunjungi Gunung Fuji, Gunung yang Bersembunyi Separuh Tahun
9 min· 6 ch
Sebelum berangkatSambil berjalan

Mengunjungi Gunung Fuji, Gunung yang Bersembunyi Separuh Tahun

Apakah Gunung Fuji layak dilihat? Kami menimbang 53 suara pelancong: 36% melihatnya jelas dan menyebutnya tak terlupakan, warga Jepang menilainya lebih hangat di angka 64%. Lima Danau Fuji, Stasiun Kelima tanpa mendaki, dan musim pendakian yang singkat, lengkap dengan panduan audio.

Mount Fuji

Baca sebelum berangkat